Hukum Membawa Anak-anak ke Masjid

anaksoleh, anak yatim

Pak Aam, saya mau bertanya, berkaitan dengan anak-anak ketika berada di masjid. Sudah menjadi musiman ketika Ramadhan tiba, masjid penuh oleh jamaah termasuk ibu-ibu yang membawa anak-anaknya saat tarawih. Di satu sisi masji jadi ramai, tapi disisi lain, anak-anak benar-benar mengganggu kekhusyukan sholat. Terkadang ibu-ibu berkelit, ini kan untuk mendidik anak agar mencintai masjid. Nah bagaimana sikap pengurus masjid terkait kondisi ini. Apakah tegas melarang membawa anak-anak saat sholat atau bagaimana? (Budi via email)

 

Saudara Budi dan para pembaca. Kalau saya melihat, masjid itu harus ada yang melanjutkan nantinya. Memang orang-orang tua yang sekarang rajin ke masjid akan selalu di situ? Kan umur kita akan habis, lalu nanti siapa yang meneruskan mengurus masjid siapa?

Tentulah generasi berikutnya. Kalau saya, lebih berpendapat, memang anak-anak yang ke masjid sering ribut karena bermain dan ribut itu memang dunianya anak-anak. Bahwa bermain bagi anak adalah belajar, paling kita yang mengarahkan bagaimana caranya ribut mereka tidak terlalu ribut. Bisa disiasati, apakah mereka diselang-seling shaf nya dengan orang tua, supaya mereka tidak bercanda ketika sholat.

BACA JUGA : Tips Agar Anak Tidak Terjebak Gaya Hidup Hedonisme

Yang penting bagi kita, menyiasati agar tidak terlalu ribut. Saya lebih berpendapat biarkan mereka hadir di masjid, sekalipun agak mengganggu kekhusyukan. Kenapa? Karena, bagaimana mereka akan kenal masjid, kalau kita tidak mengenalkannya? Bagaimana mereka nyaman di masjid kalau kita tidak melatihnya? Jadi itu semua butuh pembiasaan. Yang namanya pembiasaan tentu saja tak selamanya langsung ideal. Sejujurnya saya kurang sependapat sekiranya ada pengurus masjid yang begitu tegas melarang anak kecil ke masjid. Jadi tugas DKM dan pengurusnya, bukan melarang anak-anak datang ke masjid,

promooktober1

Mari kita lihat Rasulullah saw. Beliau kalau sholat membawa cucu nya, dan setiap kali sujud, Hasan dan Husen naik ke punggung Rasul, tentu ini membuat Rasul tidak khusyuk. Tapi Rasul biarkan mereka bahkan Rasul dengan penuh cinta dan kasih, menurunkannya pelan-pelan dari punggung beliau. Ini pelajaran bagi kita, bahwa anak-anak kita ini butuh pembiasaan untuk datang ke masjid. Biarkan mereka ke masjid, sholat dan mendengarkan ceramah, dengan cara begitu mereka akan menjadi akrab dan memberi bekal pengalaman pada anak. Jadi jangan sampai atas nama kekhusyukan, DKM melarang anak-anak untuk datang ke masjid.

BACA JUGA : 5 Langkah Melatih Anak Agar Rajin Shalat

Pengurus masjid haruslah menjadi pendidik, bukan otoriter. Meskipun niatnya bagus tapi jangan salah, kita butuh ada yang melanjutkan, kita butuh regenerasi, nah regenerasi ini harus ada proses pembelajaran. Yang namanya proses pembelajaran, tak selamanya sempurna, pasti ada halangan-halangan. Jadi saya mohon pada para pengurus DKM, jangan dilarang anak-anak kita datang ke masjid, jangan dimarahi ketika mereka ngobrol, tapi di arahkan saja. Seiring berjalan waktu mereka juga akan mengerti. Nah yang bahayanya, kalau kita membuat mereka trauma datang ke masjid, itu yang salah menurut saya.

Mohon maaf bila ada pembahasan saya yang tidak proporsional atau melukai, saya tak bermaksud melukai siapapun. Saya menginginkan bahwa masjid itu ada yang melanjutkan.

Wallahu ‘alam bishawab.

Editor : Candra

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

BACA JUGA : Cara Mengajarkan Kejujuran pada Anak

(Visited 10 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment