Sikap Menghadapi Orang yang Suka Umbar Aib Orang Lain

batu

Pak Aam, apa yang harus saya lakukan terhadap orang yang dengan sengaja dan bahagia membuka aib-aib saya di luar sana, sehingga membuat orang lain jadi membenci saya, mencari-cari kesalahan dan aib saya. Walaupun memang itu benar, tapi apakah harus dia membuka aib saya di depan orang banyak? Yang saya tahu, Allah maha tahu segalanya, dengan kelembutannya senantiasa menutup aib hambanya. Mohon jawabannya. (Rahmawati via email)

 

 

Saudari Rahmawati, memang kita harus menyadari bahwa manusia itu tabiatnya beda-beda. Saya lihat dalam kehidupan ini ada orang yang sehari-harinya sibuk mengurusi orang lain. Dia senang membicarakan orang lain ketika bertemu teman-temannya, selalu ada cerita tentang orang lain. Ini memang ada tipe orang yang seperti itu, dia akan senang bila temannya memiliki aib atau kekurangan. Nah orang yang seperti ini, pertama, didalam kuburnya dia akan disiksa. Rasul pernah melewati sebuah kuburan, lalu Nabi mengambil pelepah kurma dan membelah pelepah kurma itu menjadi dua, dan ia menyimpannya diatas dua kuburan. Sahabat bertanya,

“Ya Rasulullah, mengapa engkau melakukan itu?”, Rasul menjawab, “Saya melakukan ini karena mendapat wahyu bahwa dua orang ini sedang diadzab di dalam kubur.” Sahabat bertanya lagi, “Ya Rasulullah, kenapa dia diadzab?” Kata Nabi, “Yang pertama, karena orang ini Namam.”

Namam itu, ia suka menebar keburukan orang lain dan akhirnya menimbulkan kebencian, bahkan tidak jarang membuat orang bermusuhan. Jangan sampai kita menjadi orang yang seperti ini, orang yang hanya bisa membahas keburukan orang lain. Orang seperti ini, jangankan di akhirat, di dalam kubur saja sudah diadzab, naudzubillahimindzalik.

Kadang saya prihatin, masih ada saja orang yang rajin datang ke majelis taklim, majelis manapun rajin ia datangi tapi Masya Allah Naudzubillah, lisannya selalu membicarakan orang. Mulai dari membicarakan penjaga masjid, membicarakan ustadz, apalagi membicarakan temannya sendiri, orang yang seperti inilah yang akan diadzab di alam kubur. Di akhirat, orang yang seperti ini tidak akan masuk surga sekalipun amalnya banyak, karena amalnya harus ia bayarkan pada orang-orang yang pernah ia bicarakan dan umbar aibnya atau ia fitnah. Sekalipun ia rajin tahajud, rajin tadarus, rajin ke majelis, bahkan menjadi pengurus majelis, tapi tetap di akhirat ia disebut muflis.

promo oktober

Suatu ketika Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapakah muflis itu?” Para sahabat menjawab, “Yaitu orang-orang yang tidak memiliki satu dinar pun dan tidak pula satu dirham pun alias bangkrut.” Rasulullah berkata, “Bukan itu yang dimaksud sebagai muflis. Orang muflis adalah orang yang ketika hidup di dunia dia banyak melakukan kebaikan, dia shalat, zakat, dan juga berhaji. Namun pada saat yang sama ia sering berbuat dzalim terhadap orang lain. Sehingga, ketika di akhirat kelak segala amal kebaikannya habis untuk melunasi tuntutan orang-orang yang dianiayanya. Dan ketika tuntutan itu belum selesai, saking banyaknya orang yang didzalimi sedangkan amal kebaikannya telah habis, maka kesalahan-kesalahan orang-orang itu akan ditimpakan kepadanya. Itulah orang muflis yang akhirnya menderita di akhirat karena amalnya ketika di dunia sia-sia belaka.”

Kata Rasul, orang yang didunia mempunyai amal, tapi amalnya habis karena harus menutupi kedzoliman dia terhadap orang lain. Kan jika kita membicarakan orang lain, kita sudah membuka aib orang tersebut, maka orang itu akan menuntut kepada kita di akhirat kelak. Dan satu-satunya tuntutan itu, dibayar dengan amal yang sudah kita lakukan. Jadi jika kita membicarakan aib orang lain, sesungguhnya kita sedang mendzolimi orang tersebut. Bahkan di dalam surat Al Hujurat, jika kita membicarakan orang lain, terlepas benar atau tidak, itu seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jadi Allah mengumpamakan dengan perumpamaan yang sangat nista terhadap orang yang suka membicarakan aib orang lain.

Jadi jika pertanyaannya, apa yang harus kita perbuat jika menghadapi orang yang seperti itu? Jawabannya, apabila itu sudah menjadi tabiat nya orang tersebut ya memang susah. Orang itu sendiri yang sedang menjerumuskan diri ke pada kebinasaan. Kalau anda sayang sama dia, berarti anda harus mengingatkannya, kalau ia tidak berubah, cukup do’akan saja. Yang penting kita tidak perlu membalas hal buruk dengan keburukan pula. Jika dia adalah orang yang buruk, biarlah Allah yang menghukumnya. Dan yang tidak boleh adalah, kita terjebak, dan membuat kita malah membicarakan orang itu juga kepada orang lain, itu yang tidak boleh.

Jika kita lihat terdapat ayat yang sangat indah dalam surat Ar Ra’d dari ayat 19-24, bahwa ulul albab itu mereka yang melaksanakan janji-janji terhadap Allah, tidak pernah melanggar sumpah, orang yang suka menjalin silaturahmi. Jadi seharusnya kita senantiasa menutup aib orang agar selalu terjalin silaturahmi. Bukan malah sebaliknya, membuka aib orang lain supaya orang benci.

Allah berfirman, ada orang yang hidupnya suka menepati janji, menyambung silaturahmi, takut akan Allah, takut akan penghisaban yang buruk, orang yang sabar dengan mengharap ridho tuhannya, mendirikan shalat, mereka menginfakan sebagian rejeki baik terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Dan yang berkaitan dengan pertanyaan di atas, mereka membalas keburukan orang lain dengan kebaikan. Maka jadilah pribadi yang selalu membalas keburukan orang lain dengan hal baik. Karena bagi mereka itulah tempat kembali yang baik.

Jadi kalau kita ingin mendapat tempat kembali yang baik, apa itu tempat kembali yang baik? Di ayat 23 surat tersebut dikatakan yaitu surga Adn. Mereka masuk dalam surga Adn itu bersama orang-orang shaleh dari nenek moyang mereka, pasangan hidup mereka, keturunan mereka, dan malaikat akan masuk dari setiap pintu sambil mengucap salam, “Salam sejahtera untuk kamu, karena kamu telah bersabar, itulah sebaik-baik tempat kembali.” Nah jadi kalau ada orang yang membuka aib anda, sebaiknya anda bersabar dan balas keburukan mereka dengan kebaikan.

Yang harus kita biasakan adalah menjadi orang-orang yang lebih suka membangun silaturahmi. Jika orang itu suka menjalin silaturahmi, mencoba menutup mata tentang keburukan orang, kita lebih banyak melihat sisi baik orang. Inilah prinsip-prinsip keshalehan sosial yang harus kita bangun. Maka jika banyak orang yang jadi membenci anda karena omongan orang yang membuka aib anda, cukup biarkan saja. Itulah pintu neraka dia, dan itulah pintu surga anda jika anda mau bersabar. Wallahu ‘alam.

Editor : Candra

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

(Visited 17 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment