Dapat Warisan dengan Cara yang Tidak Islami

warisan

Pak Aam, saya ingin bertanya, apa hukumnya menerima warisan yang dibagikan secara tidak islami? (Dewi via email)

 

Saudari Dewi dan para pembaca. Memang diketahui, harta itu titipan Allah, bukan milik kita. Jadi cara berpikirnya harus didasari bahwa yang namanya warisan itu titipan Allah. Karena harta itu titipan Allah, maka kita harus membagikan harta itu sesuai dengan yang Allah inginkan, yang Allah kehendaki. Dan yang Allah kehendaki itu kita membagikannya dengan cara yang diterangkan dalam Al-Qur’an, juga tentu saja dalam sunnah-sunnah Rasul.

iklan donasi pustaka2

Misalnya, kalau kita lihat surat An-Nisa, dari mulai ayat 10, itu sudah bicara tentang warisan.

“Allah wasiatkan kepadamu, bahwa bagi anak laki-laki mendapatkan dua kali bagian daripada anak perempuan.”

Dan seterusnya An-Nisa ayat 11, 12, 13, itu membahas tentang warisan. Dan ketika Allah mengakhiri pembahasan pada ayat 13, Allah menyebutkan, “Itulah hukum-hukum Allah”, yang dimaksud hukum-hukum Allah adalah hukum warisan. Karena dari ayat 10, 11, 12 itu bicara tentang bagian warisan Ayah, Ibu, Anak, Suami, Istri, dan ketentuan-ketentuannya.

Di ayat 13, Allah menutup pembicaraan tentang waris dengan kalimat “Itulah hukum-hukum Allah, siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Allah masukkan dia kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Mereka kekal didalamnya, dan itulah kemenangan yang agung.”

Allah menilai, orang yang menerapkan hukum-hukum Allah dalam hidupnya, itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan yang agung. Sebaliknya, siapapun yang tidak mau diatur masalah warisan dan hartanya dengan hukum islam, lihat ayat 14 surat An-Nisa:

“Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, serta melanggar batas-batas hukum Allah, pasti Allah memasukkannya ke dalam api neraka, ia kekal di dalamnya dan baginya adzab yang menghinakan.”

Karena di ayat sebelumnya sedang berbicara tentang warisan, maka maksud durhaka di sini, tidak mau melaksanakan hukum waris Islam. Dan bagi yang melanggar dan tidak mau menerapkannya, maka Allah akan mengadzabnya. Bila dilihat, ayat sebelumnya Allah memberikan pujian kepada orang-orang yang mau diatur dengan hukum Allah, tapi di ayat berikutnya merupakan ancaman bagi orang yang tidak mau bila warisannya diatur dengan hukum Islam dan baginya adzab yang besar.

Itu yang harus diperhatikan berkaitan dengan masalah warisan, bahwa warisan itu harus dibagikan menurut hukum waris Islam seperti yang termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Dan di Indonesia, hukum waris Islam sudah diadopsi, artinya sudah diakui sebagai kekuatan, sebagai hukum yang mengikat umat islam yang ada di negeri ini.

Nah, sementara saudari Dewi, dia menerima warisan dari cara yang tidak islami. Jadi Dewi menerimanya mungkin karena tidak punya kuasa untuk menerapkan hukum waris Islam, jadi bagaimana? Ya tentu saja warisan yang diterimanya halal, kenapa? Karena bukan anda yang melakukan pelanggaran, tapi mungkin keluarga besarnya.

Memang kadang ada dalam keluarga yang sepuluh bersaudara biasanya ada sosok yang dituakan yang nantinya dia yang menentukan, tapi ternyata ia tidak melaksanakan hukum Islam. Lalu anda sebagai adik bagaimana? Ya terpaksa anda harus menerima warisan tersebut tidak dengan hukum Islam, bukan karena anda tidak mengamalkan hukum Islam, tapi karena memang itu ada di bawah otoritas orang lain.

Namun, apabila anda ragu dengan harta warisan yang anda terima, anda bisa menggunakan harta yang bukan hak anda itu untuk kepentingan-kepentingan agama. Misal, jika memakai hukum waris Islam, anda mendapat bagian sebesar Rp 500 juta, tapi karena ini pakai hukum adat sehingga anda mendapat Rp. 700 juta, jadi jika anda ragu dengan yang Rp 200 jutanya, bisa anda gunakan untuk kepentingan agama. Contohnya untuk pembangunan masjid, sedekah Al-Qur’an, atau membiayai guru-guru ngaji, itu boleh saja. Semoga dengan begitu, itu menjadi kebaikan bagi almarhum sebagai pemilik harta.

Nah, di sinilah memang perlunya kita berusaha meninggalkan generasi yang sholeh, karena kalau generasi sholeh itu mereka tidak segan-segan untuk mengamalkan ajaran-ajaran agama, tapi kalau kita meninggalkan generasi yang tidak sholeh, tentu saja mereka menomor duakan aturan-aturan agama, lebih mengutamakan aturan-aturan yang bersifat sekuler, aturan-aturan yang jauh dari apa yang Allah perintahkan.

Editor : Candra

 

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment