Jangan Sampai Silaturahmi Ternodai Ghibah

stop ghibah

PERCIKANIMAN.ID – Saat ini adalah eranya media sosial. Bukan hanya anak muda yang gemar berkomunikasi di media sosial, namun kaum ibu juga tidak kalah aktif. Alasannya, salah satunya, adalah untuk menjalin komunikasi dengan teman-teman lama atau yang domisilinya berlainan kota atau negara.

Mereka menyebutnya silaturahmi. Namun, kadang silaturahmi yang mulia ini ternodai dengan perilaku tidak terpuji, salah satunya bergunjing. Biasanya, hal itu dimulai dengan obrolan ringan, lalu tiba-tiba entah siapa yang memulai, lidah mulai menggunjingkan kekurangan salah satu tetangga lain.

Bergunjing atau ghibah atau bergosip sepertinya sudah menjadi “makanan” sehari-hari kita. Ternyata, fenomena ini bukan hanya terjadi para kaum ibu saja, kaum bapak pun tidak jarang terjebak pada perilaku ini. Sebenarnya, kalau mau mengakui, kita bukan tidak sadar jika perbuatan tersebut membawa dosa. Akan tetapi, kenikmatannya sering membuat sebagian besar kita menjadi lupa. Belum lagi, jika gunjingan yang awalnya biasa-biasa saja itu ditambah dengan “bumbu-bumbu” sehingga terasa lebih sedap.

Mari kita perhatikan keterangan berikut ini.

Dari Abu Hurairah r.a., dia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah (menggunjing)?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Ghibah adalah engkau membicarakan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau yang kami katakan itu betul-betul ada pada dirinya?” Beliau menjawab, “Jika yang kalian katakan itu betul, berarti kalian telah berbuat ghibah. Dan jika apa yang kalian katakan tidak betul, berarti kalian telah memfitnah (mengucapkan dusta).” (H.R. Muslim)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa ghibah artinya menyebutkan (keadaan) seseorang yang tidak disenanginya ketika orang tersebut tidak ada di tempat. Ghibah berdosa karena menunjukkan adanya kezaliman terhadap orang lain dengan menyakiti hati orang yang digunjingkan.

Dalam salah satu ayat-Nya, Allah Swt. berfirman,

Hai, orang-orang beriman! Jauhilah banyak prasangka buruk. Sesungguhnya, prasangka buruk itu dosa. Jangan kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebagian lain. Apakah kamu mau memakan daging saudaramu yang sudah mati? Tentu kamu jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Ĥujurāt [49]: 12)

Dalam ayat tersebut, secara gamblang disebutkan bahwa ghibah kepada saudara seiman sama artinya dengan memakan bangkai saudaranya tersebut. Ditinjau dari sudut pandang dosa, boleh jadi hal itu menunjukkan besarnya dosa ghibah. Dari sudut pandang kemanusiaan saja, tentu perilaku (memakan bangkai) tersebut sangatlah menjijikkan dan tidak normal.

Namun, para ulama memberikan beberapa pengecualian/pembolehan mengenai perbuatan ghibah. Pertama, bila membicarakan orang yang akan berbuat zalim (kepada kita) kepada orang yang dianggap mampu menangani masalah tersebut. Kedua, bila membicarakan kemungkaran seseorang kepada orang yang kita mintai bantuan untuk mengubah kemungkaran tersebut. Ketiga, bila membicarakan orang untuk dimintakan fatwa (mengenai orang tersebut). Keempat, bila membicarakan orang untuk dijadikan cermin/contoh dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu menyebutkan nama orang yang bersangkutan (jika memang tidak diperlukan). Kelima, bila mengumumkan atau menerangkan kefasikan, seperti pemakaian narkoba yang oleh pecandunya hal tersebut begitu dibangga-banggakan. Keenam, bila membeberkan identitas seseorang karena tidak cukup dengan mengenal/menyebutkan namanya saja.

Lalu, apa yang harus kita lakukan saat mendapati seseorang sedang melakukan ghibah? Hal pertama adalah menasihati secara baik-baik agar yang bersangkutan menghentikan perbuatannya. Jika tidak juga berhenti atau memang kita tidak mampu menghentikannya, maka sekurang-kurangnya hindarilah kelompok yang suka bergunjing tersebut.

Hal ini merujuk pada dalil umum yang disebutkan dalam hadis berikut.

Dari Abu Sa‘id al-Khudri r.a., dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi, maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’” (H.R. Muslim)

Tentu saja akan ada konsekuensi yang harus kita tanggung manakala menasihati orang yang kegemarannya bergosip, misalnya dianggap/disebut sok suci atau semacamnya. Bila ini yang terjadi, kita harus berpegang teguh pada prinsip menghormati tetangga. Dan tentu saja, ketika segala cara sudah kita coba, hal terakhir yang dapat dilakukan adalah mendoakan mereka agar dapat segera bertobat dari kebiasaan buruknya tersebut.

*Disarikan dari buku Muliakan Ibumu

Editor : Candra

(Visited 5 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment