Cara Menyikapi Cobaan dari Allah

doa

Assalamu’alaykum Wr.Wb Pak Aam, saya seorang ibu rumah tangga. Anak saya mengalami sedikit tertahan dengan kelulusannya karena faktor ekonomi. Belakangan ini keluarga saya sedang mengalami ujian. Bagaimana perilaku saya seharusnya terhadap anak yang sedang galau dan bagaimana menyikapi cobaan dari Allah swt? ( hamba Allah by email)

Wa’alaykumsalam Wr Wb, Pembaca sekalian yang dirahmati oleh Allah. Jika anak ibu kini sudah kuliah, sebenarnya lebih enak karena bisa untuk diajak bicara. Lebih baik ceritakan saja apa adanya apalagi ini  menyangkut masalah ekonomi kepada anak. Sehingga, diharapkan bahwa anak kita juga memahami kenyataan dengan kondisi yang ada.

iklan donasi pustaka2

Orang itu akan lebih mudah menerima kenyataan ketika ia tahu apa yang terjadi sebenarnya. Jadi, jangan sampai ketika ibu menangguhkan kuliah anak dengan tidak adanya penjelasan. Sehingga anak bertanya-tanya dan menjadi bingung. Sebaiknya anak diajak ngobrol, diajak berdiskusi bareng, mengatakan bahwa dalam kehidupan itu tidak selamanya berjalan mulus seperti yang diharapkan.

Diharapkan dengan begitu anak lebih bisa menerima kenyataan. Jika kemudian dia ada galau, sedih, marah itu bagian dari proses. Biasanya, semua orang itu ada saat-saat dimana dirinya mengalami kegalauan dan itu sebenarnya sangat manusiawi.

Siapapun diri kita boleh mengalami hal itu dan saya bisa bayangkan bagaimana beratnya ibu menghadapi hal ini, tetapi saya yakin ibu adalah orang yang bisa melewati hal ini dengan sebaik-baiknya. Terutama ketika berhadapan dengan anak, lebih baik bercerita apa adanya sehingga mereka lebih bisa menerima kenyataan itu.

Apa yang harus dilakukan dalam menyikapi cobaan? Pertama, ketika kita menghadapi masalah ataupun cobaan itu, cara berfikir kita harus benar dulu. Ketika kerangka berfikir kita benar, nanti diharapkan tahapan-tahapn berikutnya sudah benar. Oleh sebab itu, ketika berbicara tentang ujian, Allah berfirman yang artinya:

Allah tidak membebani sese-orang melainkan sesuai dengan ukuran kesanggupannya….” [Q.S.Al-Baqarah [2] :286]

Maksud dari ayat tersebut kita harus yakin Allah memberikan cobaan sesuai dan bisa kita selesaikan. Bukan berarti Allah memberikan ujian yang ringan, maksudnya kalau diuji, kita harus yakin bahwa kita bisa menyelesaikannya. Karena keyakinan bahwa kita bisa menyelesaikan itu modal awal untuk melangkah ke penyelesaian berikutnya.

Kalau belum apa-apa kita sudah mengatakan “ wah ujian ini berat sekali, sepertinya aku tidak sanggup” kata itu membuat energi-energi baik pada diri kita hilang, kita menjadi tidak punya kekuatan. Karena belum apa-apa kita sudah menyerah.

Yang kedua, kita harus yakin bahwa hidup di dunia itu tidak mulus seperti yang diharapkan, jadi yang namanya kebaikan dan keburukan, sukses dan gagal, sakit dan sehat itu adalah roda kehidupan yang kita lewati . Allah berfirman yang artinya:

“… demianlah roda kehidupan itu, kami putar antar manusia agar mereka mendapat pelajaran ….“ [Q.S .Ali-Imran [3] :140]

Ketika diberi cobaan, katakanlah “sekarang aku terpuruk, insya allah suatu saat aku sukses” dan kalau kita lagi sukses siapkan mental utk suatu saat kita terpuruk.

Yang ketiga, harus yakin bahwa segala sesuatu itu milik Allah. Allah berfirman yang artinya:

Milik Allah-lah apa yang ada di langit serta di bumi dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.” [Q.S.Ali Imran [3] :109]

Jadi, apa yang Allah berikan sekarang, boleh jadi suatu saat Allah ambil kembali. Memang untuk sampai ketitik ini sangat tidak mudah, pada saat terkena musibah tidak seringan apa yang diomongkan.

Yang keempat, kita harus membingkai ujian itu dengan doa dan usaha. Contoh, kalau kita diuji dengan sakit, selain berdoa meminta kesembuhan ya, kita berusaha untuk berobat dengan semampu yang bisa kita lakukan. Orang yang beriman itu dia selalu mendampingkan doa dengan ikhtiar-ikhtiar, Allah berfirman yang artinya:

“Apabila kamu telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka tetaplah bekerja keras untuk urusan berikutnya, dan hanya kepada Tuhanmu, hendaknya kamu berharap.” [Q.S.Asy-Syarh [94] :7-8]

Ayat ini berbicara ketika mukmin itu bekerja, dia harus disertai dengan ikhtiar dan doa meminta kepada Allah swt. Terakhir, kita harus berhuznudzon bahwa kita sedang disayang oleh Allah. Maka, alangkah indahnya kalau kita sebagai orang mukmin itu selalu berprasangka baik kepada Allah. Wallahua’alam.

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email aam@percikaniman.org  atau melalui  Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment