Benarkah Selesai Melakukan Perjalanan Wanita Wajib Mandi Besar?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya pernah mengunjungi saudara yang berada di luar pulau sehingga memakan waktu beberapa hari. Sesampai di tempat saudara saya diminta untuk mandi besar, sebab katanya orang yang habis melakukan perjalanan jauh wajib mandi besar. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya dan terima kasih. ( Mia by email)

 

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya bu Mia dan pembaca sekalian, dalam masyarakat kita ada beberapa mitos yang sering dikaitkan dengan agama atau ajaran Islam. Padahal itu hanya mitos saja, misalnya wanita yang sedang haid dilarang menyisir rambut, wanita yang sedang hamil dilarang membunuh semut atau binatang dan sebagainya. Semua itu dikaitkan dengan ajaran agama atau syariat Islam, padahal tidak ada satu pun dalil yang menjelaskan hal tersebut. Begitu juga tidak ada contoh dari Rasulullah atau para sahabat yang lainnya.

Demikian juga yang Anda tanyakan, saya kira ini hanya mitos atau tradisi yang berlaku di daerah saudara Anda tersebut. Harus dapat dibedakan antara mandi dan mandi besar atau wajib. Mandi semua orang harus atau wajib melakukannya untuk menjaga kebersihan dan kesehatan. Ini berlaku untuk umum, siapa pun boleh melakukannya. Namun kalau mandi besar atau wajib ini kaitannya dengan syariat Islam sebagai salah satu syarat dalam melakukan ibadah.

Tentu boleh-boleh saja atau baik sekali jika habis melakukan perjalanan jauh apalagi seteleh menempuh perjalanan berhari-hari kemudian sampai ditujuan melakukan mandi atau bersih-bersih badan. Dengan tujuan untuk kebersihan dan kenyamanan sehingga badan terasa segar. Namun tidak ada kewajiban untuk melakukan mandi besar atau mandi wajib.

Dalam syariat Islam bahwa diwajibkannya mandi (mandi besar) adalah karena memiliki hadas besar. Berarti, orang yang wajib mandi besar adalah mereka yang berhadats besar. Siapa saja orang yang dikategorikan berhadas besar?. Menurut Rasulullah Saw dalam haditsnya ada beberapa kondisi dimana orang tersebut wajib mandi besar untuk menghilangkan hadats besar, antara lain:

promo oktober

 

  1. Setelah melakukan hubungan intim

Suami-istri yang telah melakukan jima (hubungan intim) diwajibkan mandi ketika akan melaksanakan shalat, baik jima yang sampai mengeluarkan air mani maupun tidak. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. yang berbunyi,

Sesungguhnya kewajiban mandi itu oleh sebab keluar mani (hubungan intim)” (H.R. Muslim).

Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila alat kelamin (laki-laki) telah melewati alat kelamin wanita, wajib baginya mandi” (H.R. Ahmad dari Mu’adz bin Jabal r.a.).

 

  1. Mimpi Basah

Mimpi basah adalah mimpi yang berisi kenikmatan seksual. Disebut mimpi basah karena mimpi tersebut sering disertai dengan cairan yang keluar dari kemaluan. Keluar cairan inilah yang kemudian menimbulkan rasa nikmat. Bila seseorang mimpi basah, wajib baginya mandi besar. Ummu Sulaim datang kepada Rasulullah Saw. Dia berkata,

Ya Rasulullah, … apakah wajib mandi apabila seorang perempuan bermimpi?” Rasulullah menjawab, ”Apabila ada cairan (di kemaluan), wajiblah dia mandi” (H.R. Bukhari).

 

  1. Selesai haid dan nifas

Bila masa haid dan nifas sudah selesai, ketika akan melaksanakan shalat diwajibkan dia bersuci dengan mandi. Rasulullah Saw bersabda kepada Fatimah binti Abi Hubaisy,

“… apabila haid, tinggalkan shalat dan apabila telah selesai haidnya, mandilah dan shalatlah!” (H.R. Bukhari dari Aisyah r.a.).

Hadis ini menegaskan bahwa wanita yang haid dan nifas tidak boleh shalat. Namun, apabila telah berhenti haid dan nifasnya, dia wajib mandi besar lalu shalat. Dalam beberapa keterangan juga disebutkan bahwa orang yang sembuh dari gila atau baru masuk Islam atau mualaf maka ia wajib mandi besar sebagai salah satu syarat sahnya melakukan ibadah baik shalat,puasa dan sebagainya.

Dengan demikian merujuk pada keterangan hadits diatas dapat kita ketahui bahwa tidak benar usai melakukan perjalanan jauh kita diwajib mandi besar. Kecuali mungkin selama perjalanan melakukan minimal tiga hal yang mewajibkan mandi besar tersebut, misalnya karena mimpin basah atau suami istri yang melakukan hubungan intim. Akan tetapi mandi besarnya tersebut bukan dikarenakan usai melakukan perjalanan.

Dalam pelaksanakan memang hampir sama mandi biasa dengan mandi besar, hanya yang membedakan adalah niatnya. Jadi harus dapat dibedakan, mana mandi besar sebab terkena hadats besar dan mandi biasa karena habis melakukan perjalanan. Atau mandi besar usai melakukan perjalanan sebab melakukan hal-hal yang mewajibkan mandi besar tersebut. Untuk membahasnya lebih detail Anda bisa membaca buku saya yang berjudul SUDAH BENARKAH SHALATKU ?”, di dalamnya juga saya bahas mengenai seputar kewajiban mandi ini dan hal-hal yang mewajibkan seseorang harus mandi besar. Wallahu’Alam [ ]

 

buku sudah benarkah shalatku

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 57 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment