Bagaimana Konsep Takdir dalam Islam?

jalan hidup

Assalamu’alaykum Wr.Wb Pak Ustadz, bagaimana konsep takdir dalam islam yang merupakan rukun iman ke enam. Contoh, masalah rezeki, apakah orang kaya itu takdirnya atau hasil usahanya sendiri? Terima kasih (Nang by email)

 

 

Wa’alaikumsalam Wr Wb , Saudara yang muliakan oleh Allah. Kita semua harus yakin bahwa Allah adalah pencipta dan penguasa kita. Maka, segala sesuatu yang terjadi dikehidupan kita itu adalah kuasa dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala . Akan tetapi, walaupun Allah adalah pencipta kita, Allah telah memberikan kita perangkat-perangkat.

iklan donasi pustaka2

Allah Ta’ala berfirman yang artinya;

Katakan, “Allah-lah yang menciptakanmu dan menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Tetapi, sedikit sekali kamu bersyukur.” (Q.S. Al-Mulk [67] :23)

Ayat tersebut menggambarkan bahwa manusia tercipta dengan perangkat-perangkatnya, seperti mata, untuk meihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, mulut untuk berbicara dan anggota tubuh lainnya. Dalam ayat lainnya Allah berfirman yang artinya;

“Pada diri manusia ada malaikat-malaikat yang selalu menjaga bergiliran, dari depan dan dari belakangnya. Mereka bertugas atas perintah Allah. Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tak ada yang dapat menolak dan melindungi mereka selain Allah.” (Q.S. Ar-Rad [3]:11)

Maka, jika terjadi sesuatu dalam hidup kita, jangan buru-buru bicara takdir. Jangan-jangan itu terjadi memang karena pilihan kita. Manusia itu hidup antara takdir dan pilihan. Lalu bagaimana memposisikan takdir itu?

Caranya adalah kita yakin Allah–lah yang menciptakan kita, seperti tubuh kita adalah pemberian dari Allah bukan kita yang meminta. Tugas kita adalah menggunakan perangkat-perangkat itu untuk melakukan hal yang terbaik. Kita gunakan itu untuk melakukan suatu kebaikan. Jika kita sudah menggunakan perangkat itu untuk kebaikan, ternyata kita mendapatkan keburukan, maka itu yang disebut percaya kepada takdir.

Contoh, ketika saya membawa kendaraan di jalan tol. Kendaraan itu layak untuk dikendarai di jalan tol. Kondisi mobil bagus, mesin, rem dan lainnya pun bagus. Saya berusaha patuh kepada aturan lalu lintas. Tapi ternyata, ada orang lain yang bersikap ugal-ugalan di jalan sehingga membuat saya celaka. Maka, kecelakaan tersebut adalah takdir. Karena itu bukan pilihan saya. Sebab pilihan saya itu adalah lancar diperjalanan dan selamat sampai tujuan.

Hal ini saya perlu tegaskan mengacu kepada sikap Umar bin Khatab ketika beliau mau berangkat ke Syiria. Kemudian, Umar membatalkan keberangkatannya itu. Lalu Abu Ubaidah berkata “wahai kepala negara, anda membatalkan keberangkatan ke Syiria itu karena takut mati?”. Kemudian Umar menjawab “saya lari dari takdir Allah dan memilih mencari takdir Allah lainnya”.

Ketika itu, Umar mendapatkan kabar bahwa di Syiria sedang terjadi wabah cacar. Pada zaman dahulu sekitar 1400 tahun lau, cacar adalah penyakit yang mengerikan. Dari cerita tersebut, kalau kita tau ada hal yang membahayakan untuk kita, sebaiknya kita menghindari bahaya itu dan mencari takdir yang lebih bagus.

Jadi, manusia itu hidup berada antara pilihan dan takdir. Pilihan itu adalah sesuatu yang terprediksi bisa terbaca oleh akal kita, sementara takdir adalah sesuatu yang tidak terprediksi oleh diri kita. Wallahua’lam.

Editor : Candra

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment