Istri Meminta Cerai Saat Bertengkar

Cerai

Pak Ustadz, saya menikah sudah hampir tiga tahun. Tapi kami hanya kumpul sekitar enam bulan, selebihnya saya dan suami hanya menjalani hubungan jarak jauh. Akhir-akhir ini saya sering sekali bertengkar dengan suami. Dalam keadaan marah, saya sering meminta cerai pada suami saya. Tapi itu semua tidak diucapkan dari hati karena saya hanya menuruti emosi dan berharap suami bisa berubah sikapnya terhadap saya. Suatu saat, kami bertengkar lagi dan terucap kata cerai dari suami. Hati saya sakit sekali rasanya, diceraikan oleh suami yang masih sangat saya sayangi. Saya sudah memohon pada suami untuk balikan lagi tapi dia tidak mau. Apa yang harus saya lakukan? (Cindy via email)

 

 

Baik saudari Cindy dan para pembaca, inilah mengapa kita harus menjaga ucapan dan mengendalikan emosi. Mungkin suami anda juga merasa kesal terhadap anda yang sering meminta cerai. Maka, ini harus jadi pelajaran untuk kita semua.

iklan donasi pustaka2

Marah itu boleh saja, tetapi marah itu seperti dokter memberikan obat. Seorang dokter memberikan obat ada dosisnya dan ada waktunya. Kalau anda minum obat terlalu sering dengan dosis yang sama dan jenis yang sama, maka kemungkinan akan menjadi immune. Atau bahkan kalau kita minum obat terlalu banyak juga akan over dosis. Jika anda marah terlalu sering dan terlalu banyak juga yang dimarahi akan menjadi immune dan overdosis. Jadi, marahlah sesuai kebutuhan.

Oleh karena itu, anda dan kita semua harus mengambil pelajaran. Seorang istri walaupun emosi, tetap saja salah terlalu sering meminta cerai. Akibatnya, ketika suami benar-benar menceraikan, istri jadi sakit hati. Maka dari itu, sikap istri ini adalah hal yang keliru. Sekarang kasusnya, suami sudah terlanjur mengatakan cerai, apabila diucapkan dengan sadar dan buka karena keterpaksaan, mau bagaimanapun juga cerai itu merupakan hak prerogatif suami asal ada alasan syar’i.

Ada kasus seperti ini, si Fulan akhirnya menceraikan istrinya karena terkadang ia keluar rumah untuk pergi bersama teman-temannya dan si istri tidak pernah ngomong pada suami. Si Fulan sudah berusaha mengingatkan, tapi si istri terus mengulangi perbuatannya, akhirnya ia pun menceraikan istrinya.

Si Fulan bertanya pada saya apakah boleh jika demikian? Saya katakan, itu namanya nusyuz. Jadi kalau istri sudah tidak taat pada suami, padahal omongan suami itu benar, itu namanya nusyuz yang artinya pelanggaran yang dilakukan oleh istri terhadap kewajiban-kewajibannya. Maka jika suami menceraikan, itu boleh, karena ada alasan syar’i.

Kalau suami menceraikan istri tanpa ada alasan yang sesuai syari’at, itu kedzoliman yang besar. Akan tetapi, jika suami sudah mengarahkan ke arah yang benar namun sang istri tetap tidak mengikuti, suami punya otoritas untuk menceraikan istri.

Nah, ketika suami sudah menceraikan istri dan si istri menolak, tetap saja jatuh talaknya suami terhadap istri. Lalu apakah istri mempunyai otoritas untuk melepaskan diri dari ikatan pernikahan? Iya, istri juga punya otoritas yaitu khulu’ atau mengembalikan mas kawin. Jadi kalau anda sebagai istri didzolimi oleh suami, contohnya tidak pernah dinafkahi, diperlakukan secara kasar atau menghilang begitu saja selama satu tahun dan akhirnya anda mengajukan gugat cerai, itu boleh. Walaupun suami memohon agar tidak digugat cerai, tetap hal itu boleh dilakukan. Gugat cerai ini juga tercantum dalam buku nikah. Gugat cerai ini pun akan ditentukan oleh pengadilan. Ketika sudah ada keputusan dari pengadilan dengan alasan yang syar’i maka sang suami tidak bisa menolaknya. Kenapa? Ini untuk menjaga dan melindungi perempuan dari kedzoliman suami.

Jadi suami dan istri sama-sama memiliki kekuatan hukum selama punya alasan syar’i. Dan perlu diingat, wanita mana saja yang menggugat cerai suaminya tanpa alasan, dia tidak akan mencium baunya surga. Jangankan mendekati surga, mencium baunya saja tidak. Jadi yang harus digarisbawahi dalam berumah tangga, yang penting suami dan istri sama-sama menjalani kewajiban dengan sebaik-baiknya. Suami harus menjalani kewajibannya dengan baik dan jangan ada kedzoliman. Karena rumah tangga dibangun untuk aktualisasi kebaikan. Jadi masing-masing harus menjadikan rumah tangga itu sebagai sarana mengaktualisasikan keshalehan dan kebaikan. Oleh sebab itu, rumah tangga dikatakan ibadah, karena di dalamnya memang ada ujian.

Balik ke pertanyaan, karena anda sudah meminta cerai dan suami pun meng-iyakan, tidak ada cara lain anda harus terima apa yang sudah disampaikan oleh suami.

Editor : acandra

(Visited 1 times, 7 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment