MUI Ingatkan Berhaji Jangan Sampai Menghalangi Kewajiban Orang Lain

kabah

PERCIKANIMAN.ID – – Ibadah haji ditempatkan di bagian terakhir dari rukun Islam. Dengan lain kata, ibadah ini akan menyempurnakan keislaman seorang Muslim, setelah ia bersyahadat, melaksanakan shalat fardhu lima waktu, menunaikan zakat, dan berpuasa di Bulan Ramadhan.

 

Namun, pada praktiknya, tidak semua Muslim memiliki kemampuan untuk berhaji. Karena itulah, istitha’ah (berkemampuan) menjadi salah satu syarat wajib seseorang untuk melaksanakan haji.

 

Muhammadiah Ja’far dalam buku “Tuntunan Ibadat Zakat, Puasa dan Haji” menjelaskan, ada beberapa kriteria seseorang dianggap memiliki istitha’ah untuk berhaji. Di antaranya adalah sehat jasmani, tidak lemah fisik karena usia lanjut, mendapat jaminan keamanan dalam perjalanan haji, memiliki pengetahuan tentang tata cara ibadah haji, dan memiliki kelebihan nafkah dari kebutuhan pokok diri dan keluarga.

 

“Kalau semua kriteria itu bisa dipenuhi, barulah seseorang dinyatakan istitha’ah. Wajib baginya untuk melaksanakan ibadah haji,” ujar Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Profesor Yunahar Ilyas, seperti dilansir ihram.co.id, Jum’at (25/8/2017).

 

Pertanyaannya, ketika seseorang memiliki harta yang berlimpah, perlukah baginya untuk menunaikan haji lebih dari satu kali? Menanggapi hal tersebut, Yunahar mengutip hadis Rasulullah SAW, “Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian berhaji maka berhajilah!” Kemudian ada seorang bertanya, “Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?” Nabi Muhammad SAW tidak langsung menjawab. Setelah ditanya sampai tiga kali, barulah beliau SAW menjawab, “Jika aku katakan ‘iya’, niscaya akan diwajibkan setiap tahun, belum tentu kalian sanggup.”

promo oktober

 

Selanjutnya, beliau SAW bersabda “Maka biarkanlah apa yang sudah aku tinggalkan untuk kalian (wajib berhaji sekali seumur hidup), karena sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian, akibat banyaknya pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap nabi mereka. Maka jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, kerjakanlah darinya sesuai dengan kemampuan kalian. Dan jika aku telah melarang kalian akan sesuatu, maka tinggalkanlah,” (HR Muslim).

 

“Berdasarkan hadis di atas, kewajiban haji bagi orang-orang yang istitha’ah hanya sekali seumur hidup. Sementara, haji yang dilakukan untuk kedua kali atau seterusnya tidak lagi dihukumi wajib, melainkan sunah,” tutur Yunahar.

 

Persoalannya, kata dia, kuota haji itu sangatlah terbatas. Di Indonesia sendiri, jatah kursi calon jamaah haji (cahaj) yang disediakan setiap tahunnya hanya berjumlah 211 ribu. Sementara, daftar tunggu haji di negeri ini sekarang bisa mencapai 15 dan bahkan hingga 20 tahun lamanya.

 

Oleh karena itu, orang yang sudah pernah menunaikan ibadah haji sebaiknya memberikan kesempatan kepada saudara-saudaranya yang belum pernah berhaji untuk berangkat ke Tanah Suci.

 

“Jangan sampai, karena mengejar sesuatu yang sunah, kita malah jadi menghalangi Muslim lain untuk menunaikan kewajibannya,” ucap Yunahar. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: al arabiya

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment