6 Ciri Keluarga Sakinah

keluarga

PERCIKANIMAN.ID – – Jika diminta untuk mendeskripsikan keluarga, biasanya yang terlintas di benak kita adalah ibu, ayah, kakek, nenek, anak, cucu, dan sebagainya. Tidak salah memang, namun kurang tepat karena mereka adalah anggota keluarga, bukan deskripsi keluarga. Jika diminta untuk mendeskripsikan keluarga sakinah, biasanya yang terlintas di benak kita adalah keluarga yang aman dan tenteram tanpa ada konflik atau pertengkaran sejak awal menikah hingga akhir hayat. Tidak salah memang, tetapi kurang tepat karena rumah tangga semacam itu tidak pernah ada.

Lantas, bagaimana sebenarnya deskripsi keluarga sakinah itu? Nah, berikut enam deskripsi keluarga sakinah dalam Islam.

  1. Keluarga sakinah = tempat mencurahkan kasih sayang

Tentu saja, deskripsi pertama dan utama keluarga sakinah adalah sebagai tempat mencurahkan kasih sayang. Setiap sendi kehidupan dalam keluarga sakinah tidak bisa dilepaskan dari curahan kasih sayang yang karenanya tiap orang di dalamnya akan merasakan ketenteraman dan kenyamanan hidup berkeluarga. Dalam keluarga yang sakinah, setiap anggota keluarga menghayati dan melaksanakan tugasnya masing-masing dalam spirit kasih sayang.

Seorang suami akan melaksanakan tugasnya mencari nafkah dilandasi kasih dan sayang kepada istri dan anak-anaknya. Sehingga, seberat apa pun pekerjaan yang dilakukannya, dia akan melakukannya dengan penuh semangat tanpa ada rasa terbebani apalagi mengeluh. Seorang istri akan melaksanakan tugasnya mengatur segala keperluan rumah tangga dilandasi kasih dan sayang kepada suami dan anak-anaknya. Sehingga, serepot apa pun tugas yang harus dikerjakannya, dia akan melakukannya dengan penuh semangat tanpa ada rasa terbebani apalagi mengeluh.

Seorang anak melaksanakan perintah dan didikan orangtuanya dilandasi kasih dan sayang kepada ayah dan bundanya. Sehingga, setegas apa pun didikan yang diberikan kepadanya, dia akan melakukannya dengan penuh semangat tanpa ada rasa terbebani apalagi mengeluh. Semangat kasih sayang ini juga akan menjauhkan setiap anggota keluarga dari melenceng, tersesat, ataupun terjerumus pada perbuatan yang dapat melukai perasaan anggota keluarga lain. Keberadaan pasangan atau buah hati dalam keluarga sakinah akan menjadi semacam benteng yang dapat menahannya dari dorongan berbuat dosa dan kemaksiatan.

kalender percikan iman 2018
  1. Keluarga sakinah = tempat beristirahat melepas penat

Ketika menjadikan rumah (keluarga) sebagai tempat beristirahat dan tempat melepas penat setelah bekerja, maka secapek-capeknya bekerja, kita akan selalu merasa tenang dan rasa lelah itu akan terlupakan dengan sendirinya. Ketika menjadikan keluarga sebagai tempat untuk mendapatkan ketenangan, kita akan memiliki tenaga yang cukup untuk kembali beraktivitas di luar rumah.

Pada zaman yang semakin canggih seperti sekarang ini, ketika perputaran informasi sudah sedemikian cepatnya, setiap anggota keluarga bisa saja mendapatkan tekanan atau stres menanggapi berbagai berita yang diterimanya. Nah, rumah tangga yang sakinah akan mampu meredam berbagai gejolak perasaan yang dialami setiap anggota keluarganya. Mereka tidak akan segan untuk pulang ke rumah karena mereka tahu di sanalah tempat segala permasalahan yang menghinggapi pikirannya dapat diredakan.

  1. Keluarga sakinah = tempat bercengkerama (curhat)

Ketika ayah, ibu, dan anak bercengkerama, saling ber-cerita, saling berbagi, itu merupakan salah satu ciri keluarga sakinah. Oleh karena itu, ketika pasangan atau anak kita sedang bercerita, biarkan mereka bercerita. Jangan pernah mendebat, memotong, atau membantah mereka karena hal itu akan membuat kegiatan bercengkerama menjadi tidak sehat dan mereka akan malas melakukannya lagi. Perhatikan pula permasalahan yang mengurangi intensitas bercengkerama keluarga.

Salah satu hal yang saya rasa dapat mengganggu keintiman waktu bersama keluarga saat ini adalah penggunaan smartphone atau gadget yang berlebihan. Idealnya, kita yang mengendalikan pemakaian smartphone tersebut, bukan malah dikendalikan olehnya. Caranya, dengan menggunakan smartphone sebagai sarana bercengkerama dengan keluarga, seperti memberikan perhatian-perhatian kecil lewat SMS ketika pasangan atau anak sedang tidak berada di dekat kita.

  1. Keluarga sakinah = tempat untuk kembali

Tiga deskripsi tentang keluarga sakinah sebelumnya menjadi faktor penentu tercapainya deskripsi keluarga sakinah keempat ini. Ya, ketika kita merasa bahwa rumah merupakan tempat memberikan kasih sayang, tempat melepaskan penat, dan tempat bercengkerama, maka otomatis kita akan menjadikannya sebagai tempat kembali. Bayangkan ketika rumah menjadi sesuatu yang ditakuti atau paling tidak menjadi tempat yang tidak nyaman untuk didiami. Tentu setiap anggota keluarga akan mencari tempat lain yang dirasanya lebih memberikan ketenangan. Tentu bagus kalau tempat yang dimaksud berafiliasi pada kebaikan.

Namun, kalau tidak, maka yang terjadi adalah pengalihan dari satu masalah menuju masalah lain yang lebih besar atau bahkan mengancam keutuhan rumah tangga itu sendiri. Kita tentu mafhum bahwa benih-benih perselingkuhan misalnya, selalu berasal dari kemampatan komunikasi di antara pasangan di rumah. Sehingga, suami atau istri mencari tempat kembali lain berupa wanita idalam lain (WIL) atau pria idaman lain (PIL). Anak-anak yang bermasalah juga biasanya berasal dari rumah yang memang sudah tidak nyaman untuk dijadikan tempat untuk kembali karena di dalamnya mereka mendapatkan kekerasan atau ketidaknyamanan lainnya. Anak-anak yang tidak betah di rumah akan lebih mudah diranjingi berbagai hal negatif, seperti terlibat perkelahian, kecanduan obat-obatan terlarang, atau bahkan menganut seks bebas. Jadi, peran rumah sebagai tempat kembali menempati posisi sentral dalam menghalau berbagai benih permasalahan rumah tangga.

  1. Keluarga sakinah = tempat aktualisasi diri dan ketakwaan

Aktualisasi di sini berarti, baik suami maupun istri mampu mengaktualisasikan dirinya dalam keluarga. Atau sederhananya, menghargai keberadaan anggota keluarga lainnya. Suami menghargai dan memuji istri ketika anak-anak berprestasi di sekolah merupakan salah satu bentuk pengaktualisasian diri istri oleh suaminya. Begitu pula ketika istri menghargai dan memuji suami yang tak kenal lelah bekerja untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga, ini merupakan bentuk pengaktualisasian diri suami oleh istrinya.

Dan, ketika anak memperoleh nilai yang tidak terlalu memuaskan di sekolah, orangtua terus menyemangati dan mendoakan supaya anaknya lebih baik, ini bentuk pengaktualisasian diri anak oleh orangtuanya. Selain tempat aktualisasi diri, kita juga harus menjadikan keluarga sebagai tempat aktualisasi ketakwaan. Artinya, kita mengabdikan diri kita kepada Allah Swt. lewat ketakwaan kita pada pasangan dengan menjalankan hak dan kewajiban kita sebagai suami/ istri. Tetapi, yang perlu diingat adalah bahwa kita bukan mengabdi kepada pasangan, karena pasangan berperan sebagai sarana aktualisasi ketakwaan saja, sementara tujuan utamanya tentu mengabdi kepada Allah Swt.

  1. Keluarga sakinah = tempat saling belajar

Seperti yang sudah saya singgung sedikit dalam Prolog, keluarga atau rumah tangga adalah universitas kehidupan. Dari pasangan atau buah hati, kita akan senantiasa mempelajari hal-hal baru yang akan menambah khazanah pengetahuan kita. Dari seorang istri, kita akan mempelajari betapa lembutnya perasaan seorang wanita yang membuatnya dapat berurai air mata, kapan saja di mana saja, saat hati atau harga dirinya merasa dilukai. Dari seorang suami, kita akan mempelajari cara pandang dari sudut logika sehingga kita dapat memahami sebuah permasalahan secara apa adanya tanpa ada tendensi atau pendapat pribadi yang lebih banyak diselimuti oleh perasaan.

Dari anak-anak, kita akan mempelajari bahwa zaman telah berubah sedemikian drastisnya sehingga kita tidak bisa menggunakan cara pandang zaman dahulu dalam memahami pola pikir dan perilaku anak zaman sekarang. Anda tentu pernah melihat sebuah keluarga yang hanya salah satu dari anggota keluarga tersebut yang shaleh atau prestasi akademiknya yang menonjol. Misalnya, dalam keluarga tersebut hanya suaminya yang shaleh atau hanya istrinya yang haus akan ilmu pengetahuan dan meraih gelar akademik yang tinggi. Ketimpangan semacam ini hendaknya tidak terjadi kalau kita memaknai keluarga sebagai tempat untuk saling berbagi atau bertukar ilmu. Seorang suami yang shaleh hendaknya senantiasa mengajak istrinya atau anggota keluarga lain untuk mengerjakan amalan-amalan shaleh.

Seorang istri yang melek ilmu hendaknya menularkan semangatnya dalam mencari ilmu kepada suami dan anak-anaknya sehingga mereka meraih level intelektual yang minimal tidak terlampau jauh dengan level pendidikan yang dimilikinya saat ini. Ya, dalam rumah tangga atau keluarga sakinah, kita akan terus belajar dan tidak boleh berhenti kecuali saat roh terlepas dari raga. [ ]

 

Disarikan dari buku “INSYA ALLAH SAKINAH” tulisan Dr.H.Aam Amiruddin.

 

Buku insya Allah sakinah 1

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

(Visited 50 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment