Renungan Bagi Orangtua Dalam Mendidik Buah Hati

keluarga

Oleh: Muslik Nawita*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Anak adalah amanah atau titipan. Karenanya, setiap orangtua akan dimintai pertanggungjawabannya atas titipan yang diamanahkan. Bagi orangtua muslim, tanggung jawab mendidik anak tidak berhenti (dan memang tidak akan pernah berhenti) hingga anak meraih kesuksesan dunia. Sudah menjadi tanggung jawab orangtua pula untuk mengantarkan anaknya meraih kesuksesan akhirat.

iklan donasi pustaka2

Sudah lazim kita dengar bahwa tugas mendidik anak adalah pekerjaan seumur hidup yang tidak mengenal kata berhenti atau selesai. Meski demikian, banyak orangtua lekas menghela napas lega begitu anaknya lulus sekolah atau kuliah, mendapat pekerjaan yang mapan secara finansial, serta ketika menikahkan mereka.

Meski tidak serta merta mengangkat kewajiban mendidik anak, ketika anak memasuki ketiga jenjang tersebut, tanggung jawab orangtua seolah berkurang setahap demi setahap. Ketika orangtua ditanya, “Ingin jadi apa anak Anda kelak ketika dewasa?” Maka, jawabannya tentu saja beragam. Sebagian orangtua mengharapkan anaknya tumbuh menjadi seorang dokter. Alasannya, agar anak kelak dapat menjamin kesehatan mereka ketika memasuki usia senja. Alasan lain, tentu saja karena dengan menjadi dokter, sang anak akan mudah mendapatkan uang sehingga masa depannya lebih terjamin.

Ada orangtua yang mengharapkan anaknya menjadi tentara. Alasannya, agar dia dapat mengabdikan jiwa dan raganya kepada nusa dan bangsa. Bukankah menjadi kebanggaan tersendiri ketika melihat anak berada di garis depan dalam mempertahankan keutuhan negaranya? Ketika gugur dalam menjalankan tugasnya, orangtua akan bangga karena anaknya akan dikenang sebagai pahlawan bangsa.

Ada pula orangtua yang menginginkan anaknya menjadi guru atau dosen. Alasannya, karena menjadi tenaga pengajar adalah profesi yang sangat mulia. Bagaimana tidak, tugas pengajar adalah mencerdaskan anak bangsa. Maju dan tidaknya sebuah bangsa turut pula ditentukan oleh kualitas pendidik anak-anak bangsa tersebut. Selain itu, dengan menjadi tenaga pengajar, anak akan memiliki bekal jariah untuk kehidupannya kelak di akhirat.

Sementara, yang akhir-akhir ini menggejala adalah adanya sebagian orangtua yang menginginkan agar anaknya kelak menjadi artis atau selebritis. Menjamurnya ajang pencarian bakat saat ini memungkinkan hal tersebut, meski sang anak berada jauh dari kota besar.

Mewahnya kehidupan artis seperti yang diberitakan di televisi pun membuat banyak orangtua tergiur dan mendorong anaknya untuk menjadi artis. Tentu saja, masih banyak profesi lain yang diinginkan orangtua untuk anaknya ketika mereka dewasa. Tidak ada yang salah dengan semua profesi tersebut dan tidak ada yang salah pula dengan semua harapan orangtua tersebut.

Namun demikian, ada satu hal yang terlupakan oleh para orangtua ketika membicarakan cita-cita anaknya kelak. Ya, kebanyakan dari mereka berbicara materi, entah itu penghasilan ataupun ketenaran. Ya, banyak orangtua lupa bahwa anak membutuhkan lebih dari itu untuk kebaikan hidupnya di dunia ini, terlebih bila kita berbicara akhirat.

Berkaca pada realitas saat ini yang penuh dengan problematika sosial, hendaknya orangtua mengharapkan lebih dari sekadar materi dan ketenaran bagi kehidupan anaknya kelak. Orangtua juga harus bercita-cita agar anaknya menjadi orang yang baik akhlak dan kuat kadar keimanannya. Bukan bermaksud sinis, tetapi saat ini semakin sulit saja kita menemukan orang baik di negeri tercinta ini. Kita tentu lupa dengan terbongkarnya kasus korupsi atau skandal artis yang terkuat akhir-akhir ini, bukan?

Ketika melihat berita penangkapan koruptor di televisi, hal yang paling membuat miris hati penulis adalah perasaan keluarga sang koruptor. Penulis tidak bisa membayangkan perasaan orangtua sang pengemplang pajak (yang usianya tidak terlalu jauh dengan usia penulis). Tentu saja, orangtuanya tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat anaknya menjadi bulan-bulanan media karena tingkah polahnya yang gemar menyuap dan disuap.

Ada pula artis yang terlihat sebagai anak manis dan dielu-elukan sebagian besar kawula muda karena karya-karyanya di dunia hiburan yang memang banyak diterima di hati penggemarnya, kemudian tersandung kasus video porno atau narkoba. Meski pada awalnya kita berusaha untuk tidak mempercayai kebenaran hal tersebut, tapi toh, beragam bukti membenarkannya.

Malu itu sudah pasti, tapi yang lebih menyakitkan hati orangtua adalah melihat kegagalannya mendidik sang anak. Perjuangannya selama ini membesarkan anak dengan cucuran keringat, air mata, bahkan darah sepertinya tidak berarti demi melihat anaknya dihujat seperti itu. Menyadari tidak ada lagi yang dapat diperbuat untuk memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat sang anak, orangtua pun hanya bisa menyesal dan menyalahkan diri sendiri.

Tidak mau hal tersebut terjadi pada diri Anda, sebaiknya mulai saat ini berdoalah agar kelak anak tumbuh menjadi dokter yang berjiwa penyayang, tentara yang berakhlak mulia, guru atau dosen yang amanah, serta artis yang tidak larut dalam gelombang hedonisme. Lebih dari itu, orangtua hendaknya senantiasa berdoa agar putra-putrinya tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah, karenya cuma hal itulah yang akan menyelamatkan dari godaan dunia dan siksaan api neraka di akhirat kelak.

Terakhir, setiap orangtua tidak akan pernah dapat memprediksikan anaknya kelak akan tumbuh seperti apa. Yang dapat dilakukan orangtua adalah mempersiapkan berbagai bekal (pengetahuan agama, utamanya) yang diperlukan anak kelak ketika tumbuh dewasa.

Dengan demikian, orangtua tidak akan kecewa atau merasa gagal mendidik anak manakala buah hatinya tumbuh tidak sesuai yang diharapkan atau direncanakan. Bagaimanapun, anak memiliki jalan hidupnya sendiri yang karenanya harus dihargai oleh orangtua. Tentu saja, selama hal tersebut masih dalam koridor agama. Jadi, mari mendidik anak dengan segenap cinta serta ikhtiar dan biarkan dia tumbuh menjadi apa saja sesuai tantangan di zamannya. Insya Allah, mereka akan menjadi kebanggaan kita. Wallahu’Alam. [ ]

 

*Penulis adalah seorang suami, ayah seorang putri, pegiat kemanusiaan dan editor buku.

Buku-Golden-Parenting-Sudahkah-Kudidik-Anakku-Dengan-Benar-2

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment