Agar Mata Uang Tak Jadi Mata Pisau

uang

PERCIKANIMAN.ID – – Uang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Ia menyertai hampir di setiap aktivitas dan rutinitas. Dengannya, kita bisa melakukan transaksi jual beli. Dengannya pula, banyak di antara kita menjadi senang dan terhormat. Dan dengannya pula tak jarang kita justru menjadi bermasalah.

 

Saat memiliki banyak uang, kita cenderung merasa senang. Dengan uang yang banyak kita bisa membeli barang atau sesuatu yang kita butuhkan atau inginkan. Mungkin juga kita akan memutuskan untuk menyimpan dan menabung uang itu untuk digunakan suatu saat apabila kita benar-benar membutuhkannya. Kita merasa nyaman dan tenteram dengan adanya uang, karena kita yakin bahwa banyak hal bisa kita lakukan atau masalah yang bisa kita atasi dengannya.

iklan donasi pustaka2

 

Sebaliknya, saat kita dalam keadaan kekurangan atau bahkan tidak punya uang, kita cenderung untuk berkeluh-kesah. Kita merasa tak bisa berbuat apa-apa tanpa uang. Apalagi di zaman yang semakin sulit ini, di mana di kota besar untuk buang air kecil saja kita harus bayar. Ditambah lagi, lapangan pekerjaan untuk mencari uang juga semakin sempit seiring bertambahnya jumlah manusia itu sendiri. Bahkan saking pesimisnya, tak jarang orang pun mengatakan “Jangankan mencari uang halal, yang haram saja susah!”. Walhasil, kitapun terus berkeluh-kesah dari waktu ke waktu.

 

Keluh-kesah memang merupakan salah satu sifat dasar yang diqoruniakan oleh Allah swt. kepada manusia. Firman-Nya, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. (Q.S. Al Ma’arij 70: 19). Jadi, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri apabila kita berkeluh-kesah karena mau tidak mau, sifat itu sudah berada dalam diri kita. Hanya saja, kita harus sadar bahwa keluh-kesah bukanlah sifat yang harus dipelihara, melainkan sesuatu yang harus dikurangi dan diminimalisir keberadaannya.

 

Kita sering menganggap bahwa bentuk keluh-kesah itu hanya ketika dalam kesusahan atau tak punya uang. Padahal, di saat kita dalam keadaan berkecukupan dan banyak uang pun, keluh-kesah itu akan tetap muncul. Dalam keadaan lapang, sifat keluh-kesah akan muncul dalam bentuk sifat kikir. Allah swt. Berfirman, “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Q.S. Al Ma’arij 70: 20)

 

Sehubungan dengan kedua ayat tersebut, Sayyid Quthb dalam Tafsir Fii Zhilalil Quran menjelaskan bahwa manusia memang cenderung berkeluh-kesah dalam dua kondisi. Yaitu, berkeluh-kesah di saat susah, dan berkeluh kesah ketika mendapat kebaikan atau kesenangan. Keadaan manusia yang berkeluh-kesah seperti itu merupakan gambaran ketika hatinya kosong dari iman. Ketika hati kosong dari iman, ia akan senantiasa terombang-ambing, goyah dan goyang, bagaikan bulu yang diembus angin. Ia pun akan senantiasa goncang dan takut. Adapun keimanan, hal itu merupakan suatu usaha manusia di dunia untuk mengatasinya. Usaha tersebut hasilnya bisa terwujud di dunia, sebelum mendapatkan balasan di kelak di akhirat, yaitu berupa kegembiraan, ketenangan, kemantapan, dan kestabilan selama perjalanan hidupnya.

 

Adapun karakter keimanan yang bisa mengatasi keluh-kesah juga telah dijelaskan dalam lanjutan ayat tersebut di atas. Allah swt. Berfirman, “Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (Q.S. Al Ma’arij 70: 19 – 30)

 

Dari kandungan ayat tersebut ditegaskan bahwa manusia bisa terhindar dari sifat keluh-kesah apabila ia memiliki beberapa di antara karakter orang-orang beriman, yaitu:

  1. Senantiasa mengerjakan shalat secara taat, patuh, dan konsisten
  2. Menginfakkan hartanya bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mau meminta
  3. Percaya dan yakin akan datangnya hari pembalasan kelak di akhirat
  4. Senantiasa takut terhadap azab Allah sehingga merasa dirinya tidak aman dari azab itu.
  5. Memelihara kemaluannya dari hal-hal yang diharamkan dalam ajaran Islam

 

Sa’id Hawwa dalam buku Mensucikan Jiwa (Intisari Ihya’ Ulumuddin Al Ghazali) menyatakan bahwa salah satu di antara pintu masuk setan ke dalam jiwa manusia adalah melalui harta. Menurut beliau, setiap hal yang melebihi takaran makanan dan kebutuhan pokok maka ia merupakan tempat bertenggernya setan; sebab orang yang sudah memiliki makanan pokoknya maka hatinya akan cenderung menjadi kosong.

 

Menurut beliau, seandainya seseorang menemukan uang seratus dinar di jalan, akan bangkit dari hatinya syahwat di mana setiap syahwat itu memerlukan seratus dinar lainnya. Apa yang ditemukannya itu tidak mencukupi, sehingga ia memerlukan sembilan ratus dinar lainnya. Padahal, sebelum adanya seratus dinar itu ia sudah merasa cukup. Tetapi setelah menemukan seratus dinar ia mengira telah menjadi kaya sehingga ia memerlukan sembilan ratus dinar lagi untuk membeli berbagai barang yang diinginkannya.

 

Hal tersebut di atas senada dengan salah satu sabda Nabi Muhammad saw. Anas bin Malik berkata bahwasanya Rasulullah saw. pernah bersabda, “Andaikata seorang anak Adam (manusia) mempunyai satu lembah emas, pasti ia ingin mempunyai dua lembah. Dan tiada yang dapat menutup mulutnya (tidak ada yang dapat menghentikan kerakusannya kepada dunia) kecuali tanah (maut). Dan Allah berkenan memberi taubat kepada siapa saja yang bertaubat.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Wallahu’alam. [ ]

Buku insya Allah Sakinah

Red: fatih dan dini

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

 

(Visited 1 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment