Ketentuan Jarak Safar Menurut Sunnah

shalat haji

Pak Ustadz, bagaimana ketentuan jarak dalam safar? Adakah ukuran yang tetap, apakah jemaah haji atau umroh bisa disebut orang yang sedang safar dan bisa menjamak shalatnya atau meng-qashar shalatnya?  (Rizwan by email).

 

Pembaca yang budiman. Jemaah haji atau umroh adalah orang yang sedang safar dan tentu saja bisa menjamak atau meng-qashar shalatnya. Rasulullah berangkat dari Madinah ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, di antaranya beliau meng-qashar shalatnya, bahkan menjamak shalatnya.

iklan donasi pustaka2

Jadi bagi jemaah haji, karena tidak selamanya mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Masjidil Haram, bisa karena jauh, bisa karena kurang sehat, sehingga shalatnya di hotel. Kalau anda shalat di hotel, maka anda boleh melakukan shalat dzuhur dua rakaat, ashar dua rakaat, itu merupakan rukhshah.

Sementara, kalau anda datang ke masjidil haram, dan anda bermakmum pada orang yang muqim, pada imam di sana, tentu saja anda dalam keadaan normal. Ini sebenarnya berlaku bukan hanya untuk yang berhaji, bagi siapapun yang sedang safar pun demikian.

Hal ini dijelaskan dalam surat Q.S. An-Nisaa [4] ayat 101,

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), …”

Jadi, bagi saudara-saudara sekalian yang akan berhaji atau berumroh, sekiranya anda mampu shalat di masjid, itu afdhol. Karena Rasulullah SAW mengatakan, shalat di masjidil haram itu keutamaannya seratus ribu kali. Maka, jika shalat di masjid dan bermakmum pada yang muqim, silahkan shalat dengan normal seperti orang yang muqim. Tapi kalau anda shalat di hotel, karena satu dan lain hal, maka anda bisa mengambil rukhshah yaitu qashar atau jamak. Itu ketentuannya.

Lalu yang sering jadi pertanyaan adalah ukuran safar. Sebenarnya, dalil safar itu macam-macam, ukurannya ada yang mengatakan 70 kilometer, 80 kilometer, bahkan dalam hadist riwayat Muslim mengatakan, Nabi pernah meng-qashar shalat dalam jarak yang dekat yaitu lima kilometer. Dengan demikian saudara sekalian, safar ini tidak bisa diukur dengan kilometer, tapi bisa diukur dengan kebiasaan dan niat. Bagi orang yang tidak pernah bepergian, misal dari Cimahi ke Bandung itu bisa dikatakan safar dan itu jaraknya lebih dari lima kilometer bila kita lihat hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dari Yahya bin Yazid Al Huna-i, ia berkata,

“Aku pernah bertanya pada Anas bin Malik mengenai qashar shalat. Anas menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh –Syu’bah ragu akan penyebutan hal ini-, lalu beliau melaksanakan shalat dua raka’at (qashar shalat).” (HR. Muslim no. 691)

Ini mengisyaratkan, bagi orang yang tidak pernah bepergian, lima kilometer saja sudah dianggap safar. Tapi bagi yang sering bepergian, ada hadist yang menyebutkan bahwa jarak safar adalah tujuh puluh kilometer. Merujuk pada dalil-dalil tadi, kita bisa menarik kesimpulan, sebenarnya tidak ada nash, tidak ada teks yang eksplisit dari Qur’an atau hadist mengenai jarak itu tidak ada.

Yang ada adalah hanya berita, bahwa nabi sekian kilometer melakukan qashar atau jamak, jadi nabi sendiri tidak mengucapkan jarak tertentu.  Oleh sebab itu, masalah jarak dikembalikan pada niat kita, kebiasaan kita, dan kondisi yang kita hadapi itu yang paling penting. Semuanya dikembalikan pada kadar keyakinan masing-masing tentang ukurannya, yang paling afdhol bila sedang melakukan perjalanan dan benar-benar dalam kondisi susah dan berat untuk shalat secara normal maka  yang paling baik adalah melaksanakan rukhshah yaitu menjamak atau meng-qashar.

Rasulullah SAW mengatakan, sesungguhnya keringanan itu merupakan rukhshah, sesungguhnya rukhshah itu adalah pemberian dari Allah dan Allah paling senang apabila keringanannya itu diambil. Sebagaimana dalam hadist berikut,

“Sesungguhnya Allah suka jika rukhshah (keringanan dari)Nya dilaksanakan sebagaimana Dia suka jika kewajiban-Nya dijalankan.” (HR. Ibnu Hibban).

Apa benar jika safar lebih dari tiga hari maka jamak qashar tidak berlaku? Itu tidak benar, jadi yang namanya jamak qashar itu tidak diikat oleh waktu tiga hari. Karena Rasulullah pernah 10 hari bahkan 17 hari. Jadi kalau ada yang mengatakan batas safar itu adalah tiga hari itu tidak ada dalilnya. Itu adalah pendapat bukan dalil. Salah seorang sahabat pernah menceritakan,

“Kami bermukim bersama Nabi saw 10 hari, dan sekian hari itu kami melakukan qashar.” (HR.Bukhari : 3959)

Maka tidak ada batasan waktu dalam qashar yang ditekankan adalah niatnya bepergian untuk sementara seperti saudara-saudara yang ingin berhaji karena nantinya akan kembali lagi ke daerah masing-masing. Kecuali untuk adik-adik kita yang niatnya untuk sekolah di luar negeri dan tinggal dalam waktu yang lama. Wallahu’alam.
* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment