Wahai Muslimah, Perhatikan Auratmu Yang Boleh dan Terlarang

 

Oleh: Berlin *

 

PERCIKANIMAN.ID – – Aurat artinya barang yang buruk,dari kata itu ada sebutan ‘auraa,yakni wanita buruk karena matanya hanya satu. Sedangkan yang dimaksud disini ialah bagian tubuh yang tidak patut  diperlihatkan kepada orang lain.Dan bagian bagian itu ada bermacam macam sesuai dengan tempat dan situasinya.Ada pun yang penting diingat dalam masalah aurat ini ialah bahwa wanita itu wajib menjaga diri. Seperti hadist riwayatkan ibnu hakim dimana beliau mengatakan:

“saya bertanya:manakah dari aurat aurat kami yang boleh kami perlihatkan dan mana yang tidak?” maka jawab nabi:”peliharalah auratmu,kecuali terhadap istrimu atau hamba sahayamu.”saya bertanya pula:”kalau orang orang itu berkumpul satu sama lain?”jawab beliau:”kalau kamu dapat agar tak seorang pun melihat auratmu,maka jangan sampai ia meliahtnya”.

Tanya saya pula:”kalau seorang dari kami dalam keadaan sendirian?” maka jawab beliau pula:”maka terhadap Allah-tabaraka wa ta’ala sepatutnya orang lebih merasa malu daripada terhadap sesama manusia.

Adapun yang menunjukkan bahwa hadist Ibnu Hakim di atas,baik yang tersirat m aupun tersirat  terasa mengandung maksud, bahwa laki-laki tak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan perempuan melihat aurat perempuan lain, ialah hadist riwayat Abu Sa’id Al-khudri,yang menurut muslim, Abu Daud dan At-Tarmizi lafazhnya berbunyi:

promooktober

“jangan hendaknya lelaki melihat aurat lelaki lain, dan perempuan melihat aurat perempuan lain. Dan perempuan tidur satu selimut dengan perempuan lain.”

Maksud hadist di atas bahwa menutup aurat itu wajib, dan begitu pula dapat kita simpulkan dari semua hadist di atas bahwa sesungguhnya menutupi aurat itu wajib dilakukan kapan saja,kecuali ketika buang air besar dan kecil,ketika seseorang mengumpuli istrinya dan ketika mandi. dan

  1. APAKAH YANG BOLEH KELIHATAN DARI WANITA DI LUAR SHALAT

Dalam keadaan sendirian atau ketika berkumpul sesamamuhrim aurat wanita diluar shalat ialah anggota tubuh antara pusat dan lutut. Namun demikian baiklah kita perlihatkan pendapat para ulama dalam masalah ini :

Menurut para ulama MALIKI, aurat wanita terhadap muhrimnya Yang lelaki ialah seluruh tubuhnyaselain wajah dan ujung ujung badan yaitu leher,kepala,dua tangan dan kaki.

Menurut ulama HAMBALI aurat wanita terhadap muhrimnya yang lelaki ialah seluruh badan selain wajah, leher,kepala,dua tangan telapak kaki dan betis.

Kemudian sekarang mengenai aurat wanita di depan laki-laki bukan muhrimdan di depanwanita non muslim. Dalam hal ini menurut  kami aurat wanita adalah seuruh tubuhnya selain wajah dan dua telapak tangan. Karena anggota-anggota tubuh ini bukan aurat,jadi boleh saja diperlihatkan kalau dirasa tidak menimbukan fitnah.

  1. AURAT WANITA DALAM SHALAT DAN APAKAH MENUTUPNYA TERMASUK SYARAT SAHNYA SHALAT  ?

Dari Aisyah ra. Bahwa Nabi Saw bersabda :

Allah takkan menerima shalat wanita yang telah dewasa kecuali bila memakai tutup kepala”.

Sekarang seberapakah aurat wanita di dalam shalat, inilah yang perselisihkan oleh para ulama.ada yang mengatakan seluruh tubuh nya adalah aurat selain wajah dan telapak tangan, yang mengatakan seperti ini adalah Al-Hadi, Al-Qasim pada salah satu dari dua pendapat. Jadi kesimpulannya menutup aurat itu adalah salah satu syarat sahnya shalat,sebagai dalil,berikut ada dua hadist yang menegaskan :

“Dari  Ummu Salamah ra. Bahwa dia bertanya kepada Nabi Saw :

Bolehkah wanita shalat dengan memakai baju dan kerudung kepala saja tanpa menggunakan kain sarung ?

Jawab Nabi Saw : (boleh) bila baju itu panjang menutupi bagian ats kedua telapak tangan.”

Akhwat Day 1

 

  1. UKURAN AURAT DALAM SHALAT

MADZHAB HANAFI : batas aurat wanita dalam shalat  ialah seluruh tubuhnya,sampai rambut yang terjuntai dari arah telingapun termasuk aurat.karena sabda Rosul Saw :

“wanita itu sendiri adalah aurat”

MADZHAB SYAF’I : batas aurat wanita dalam shalat seluruh tubuhnya sampai rambut yang terjuntai dari arah telinga,kecuali wajah dan kedua telapak tangansaja, baik punggung ataupun perutnya.

MADZHAB HAMBALI : batas aurat dalam pandangan mereka bagi wanita dalam shalat ialah seluruhtubuh selain wajah saja, selain wajah seluruh tubuh wanita adalah aurat.

 

  1. SYARAT-SYARAT BAGI BAHAN PENUTUP AURAT DALAM SHALAT

Bagi bahan penutup aurat, baik itu baju atau yang lainnya dipersyratkan harus tebal. Bahan yang tipis tidak sah sebagai penutup aurat yakni bahn yang masih menampakkan warna kulit yang ada dibawahnya.

 

  1. SEKARANG BAGAIMANA BILA KARENA DARURAT HINGGA TIDAK MENEMUKAN SESUATU BUAT MENUTUP AURAT

Dalam hal ini para ulama HANAFI dan HAMBALI  mengatakan lebih baik wanita itu shalat dalam sambil dengan merapatkan kedua  itupun  membeperbuatanri isyarat  dan tambahan dari para ulama Hanafi agar kakinya dijulurkan ke arah kiblat,maksudnya supaya lebih tertutup.

 

  1. BAGAIMANAKAH KALAU SEBAGIAN AURAT TERBUKA DI TENGAH SHALAT

Para ulama Hanafi mengatakan “bila yang tersingkap itu ada seperempat dari aurat ughallazhah (qubul dan duburdan sekitarnya) maupun aurat ukhaffafah (selain qubul dan dubur ) di tengah tengah shalat lamanya sepanjang perjalanan satu ruku, maka shalatnya rusak,sekalipun bukan ats perbuatan sendiri karena tersikap angin umpamanya.

Sedangkan kalau yang tersikap kurang dari seperempat tapi atas perbuatan sendiri itupun seketika shalatnya mutlak batal, meskipun lamanya kurang dari pelaksanaan satu ruku.Adapun kalau aurat itu tersingkap saat sebelum shalat maka shalat belum bisa dilaksanakan.

Sedangkan ulama Syafe’i mengatakan apabila aurat terbuka ditengah shalat  padahal ada kemampuan untuk menutupnya  maka batalkanlah shalatnya ,termasuk lelaki dan perempuan,adapun itu tersingkap oleh angin maka tutup kembali tanpa banyak gerak,maka shalat tidak batal.

Adapun madzhab hambali apabila sebagian aurat terbuka tanpa sengaja kalau yang terbuka itu sedikit  maka tidak batal shalatnya,sekalipun terbukanya cukup lama,dan kalau yang terbuka cukup lebar oleh angin umpamanya akan tetapi di tutup kembali tanpa menimbulkan banyak gerak, maka tidak batal shalatnya.Tapi apabila tidak langsung di tutup maka shalatpun menjadi batal.

Sekarang bagaimanakah menurut  Madzhab Maliki, kalau gah tengah shalat penutup aurat itu runtuh maka shalatpun menjadi batal, dan mutlak harus diulangi.

Demikian pendapat dari para ulama tentang aurat wanita. Dari semua keterangan di atas, kiranya dapat  kita simpulkan bahwa tujuan dari menutup aurat  adalah agar aman atautidak akan menyebabkan timbul fitnah dan akhlak yang buruk.Maka alangkah baiknya kalau kita menutup aurat untuk menjaga diri kita sendiri. Dan dalam hal itu perlu di ingatkan bahwa,sekalipun kebanyakan Fuqaha sepakat atas bolehnya memperihatkan wajah dan telapak tangan kepada selain muhrim, namun bila dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah , maka wajah dan telapak tangan pun wajib  di tutup.  Waallahu a’lam hanya Allah yang Maha Mengetahui. [ ]

 

Buku Jangan Galau Ukhti

 

*Penulis adalah pegiat dakwah.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected] atau: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

(Visited 31 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment