Bolehkah Berutang Untuk Haji ?

haji indonesia

Assalamu’alaykum.Pak Aam, saudara saya akan melaksanakan ibadah haji. Awal masih dua tahun lagi namun karena ada kuota yang masih ada beliau bisa tahun ini dengan catatan harus melunasi biayanya. Karena belum ada uang yang cukup maka untuk menutupinya ia berhutang dengan alasan kesempatan yang tidak terulang dan belum tentu tahun depan masih ada umur. Pertanyaannya, bolehkah melaksanakan ibadah haji dengan jalan berutang? Dengan keyakinan setelah pulang dari tanah suci akan dilunasi. Mohon penjelasannya dan terima kasih. (Sunarya by email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Pak Sunarya dan pembaca sekalian, sebagaimana kita ketahui untuk bisa melaksanakan ibadah haji saat ini memang momen yang sangat berharga dan istimewa. Selain karena biaya yang tidak sedikit juga kesempatan yang begitu panjang antriannya. Bahkan ada beberapa daerah yang karena jumlah pendaftar calon jamaah hajinya begitu banyak melebihi kuota yang disediakan maka daftarnya tunggu bisa sampai belasan tahun.

Tentu kita bisa memahami keinginan yang kuat dari saudara Anda tersebut untuk bisa melaksanakan ibadah haji. Bisa jadi betul prinsip saudara Anda tersebut bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali dan tentu saja soal umur itu rahasia Allah yang semua orang tidak akan tahu kapan akan dipanggil-Nya. Berangkat dari itulah sehingga saudara Anda dan mungkin ada yang sama juga maka ketika kesempatan itu ada segera diambilnya termasuk berhutang dulu untuk melunasi biaya haji.

Iya, secara prinsip, berutang untuk haji tidak dilarang. Selama kita yakin akan mampu membayar utang tersebut. Namun, ada hal yang perlu dipertimbangkan dengan saksama, seandainya terjadi peristiwa tertentu saat melaksanakan ibadah haji, misalnya kita ditakdirkan meninggal dunia, utang-utang tersebut harus tetap dilunasi, bukan? Hal inilah yang dikhawatirkan, karena pada akhirnya malah akan membebani pihak keluarga yang ditinggalkan. Jika hal ini justru akan memberatkan atau menyulitkan kepada keluarganya dikemudian hari maka tentu saja berutang semacam itu tidak dibenarkan.

Lebih baik, kita menangguhkan ibadah haji sampai benar-benar mampu serta siap lahir batin. Lahir artinya secara materi mampu dan ada untuk keperluan baik untuk berangkat maupun untuk biaya hidup keluarga yang ditinggalkan selama ibadah haji. Sementara batin tentu saja suasana lega dan tenang tidak ada perasaan was-was atau gamang termasuk karena ada beban hutang tersebut.

donasi perpustakaan masjid

Perlu diingat pada dasarnya ibadah haji diwajibkan kepada yang mampu sebagaimana dijelaskan, oleh Allah Swt dalam ayat berikut,

“…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari, sesungguhnya Allah Mahakaya dari semesta alam.” (Q.S. Ali Imran [3]: 97).

Para ulama dan mufasirin yakni ahli tafsir menjelaskan makna “sanggup” dalam ayat tersebut sanggup segalanya,baik secara materi (biayanya) kemudian fisiknya yakni tidak sedang sakit dan kondisi psikisnya artinya sepertinya dijelaskan diatas yakni siap lahir batin tadi. Para ulama juga berpendapat bahwa tidak wajib bagi orang yang tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk melakukan haji, tidak pula disyariatkan untuk berutang, agar bisa haji. Karena Allah Swt tidak mewajibkan dia untuk haji sama sekali (dalam kondisi ini). Sementara dia membebani dirinya dengan utang dan memberatkan dirinya dengan sesuatu yang tidak wajib baginya

Jadi hemat saya berhutang untuk berhaji tidak ada larangan sepanjang ia sanggup membayarnya. Namun sekiranya hutang tersebut hanya akan menjadi beban atau kondisi yang menyulitkan dirinya dan keluarganya jika terjadi hal yang tak diinginkan maka sebaiknya berhutang untuk berhaji tidak perlu dilakukan.  Apalagi jika berhutangnya ke bank yang ada bunganya (riba) sehingga nantinya bebannya akan bertambah terus setiap bulannya. Tentu hal yang demikian tidak dibenarkan dalam prinsip agama. Tunggu sampai betul-betul mampu. Bukankah Allah Swt menginginkan kemudahan bagi kita termasuk dalam ibadah haji ini seperti dalam firman-Nya:

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Sekali lagi tentu tidak dianjurkan memaksakan diri, menyulitkan dan menyusahkan dalam urusan ibadah haji ini. Demikian jawaban saya semoga bermanfaat. Wallahu A‘lam. [ ]

Editor: iman

Ilustrasi foto: kemenag

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 2 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment