Persiapan Ruhiyyah Sebelum Berangkat Haji

Kabah 1

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz insya Allah tahun ini saya dan suami akan melaksanakan ibadah haji. Mohon bimbingan dan nasihatnya dari Ustadz Aam terkait dengan persiapan khususnya masalah ruhiyyah yang harus kami lakukan. Terima kasih . ( Nenden by email)

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Ibu Nenden dan pembaca sekalian, insya Allah beberapa hari lagi calon jemaah haji kita khususnya kloter pertama akan meninggalkan tanah air. Namun kiranya masih ada waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya khususnya terkait dengan persiapan ruhiyyah yang harus diperkuat.

iklan donasi pustaka2

Ibadah haji memiliki keistimewaan tersendiri dibanding dengan ibadah lainnya karena melibatkan empat kekuatan secara terintegrasi dan simultan. Yaitu Quwwah Jasadiyyah (kekuatan fisik), Quwwah Ilmiyyah (kekuatan ilmu), Quwwah Maaliyyah (kekuatan materi) dan Quwwah Ruuhiyyah (kekuatan rohani atau spiritualitas).

Tulisan ini akan membahas satu aspek saja yaitu persiapan ruhiyyah  atau spiritualitas yang harus kita latih dan pertajam sebelum berangkat ke Tanah Suci. Dengan latihan yang berkelanjutan, diharapkan secara spiritualitas atau ruhiyyah kita lebih siap menghadapi pelaksanaan ibadah haji dan umroh.

Diantara tahapan persiapan ruhiyyah yang harus kita lakukan adalah sebagai berikut :

 

  1. Introspeksi diri

Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.

 “Hai orang–orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Q.S. Al-Hasyr 59 : 18)

 

  1. Perbaikan diri

Perbaikan diri dalam bahasa popular disebut taubat. Ini merupakan tindak lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita akan menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah, kekurangan-kekurangan tersebut harus kita perbaiki secara bertahap. Alangkah rugi kalau kita hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya.

Hai orang–orang yang beriman, Bertaubatlah kepada Allah SWT dengan taubat yang semurni–murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan–kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai–sungai, …..“ (Q.S. At-Tahrim 66 : 8)

 

  1. Tadabbur Al-Qur’an

Tadabbur Al-Qur’an artinya menelaah isi Al-Qur’an, lalu menghayati dan mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk. Nah, diantara pupuk hati adalah tadabbur Al-Qur’an. Allah SWT menyebutkan orang–orang yang tidak mau mentadabburi Al-Qur’an sebagai orang yang tertutup hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka tadabburi Al-Qur’an.

Mengapa mereka tidak tadabbur (memperhatikan) Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci atau tertutup.“ (QS.Muhammad 47 : 24)

 

  1. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh

Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridhoi Allah SWT. Apabila kita ingin memiliki spiritualitas yang cerdas, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita biasa pergi ke majlis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk. Rasulullah SAW bersabda:

“… Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus menerus) walaupun sedikit.“ (H.R. Bukhari)

  1. Mengisi Waktu dengan Dzikir

Dzikir artinya ingat atau mengingat. Dzikrullah artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam dzikir. Pertama, Dzikir Lisan artinya ingat kepada Allah SWT dengan melafadzkan ucapan-ucapan dzikir seperti Subhaanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha illallah, dll. Kedua, Dzikir Amali, artinya dzikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran–ajaran Allah SWT dalam kehidupan. Misalnya, jujur dalam bisnis, tekun saat bekerja dll. Ruhiyah kita akan sehat dan hidup selalu diisi dengan dikir lisan dan amali.

Hai orang–orang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang“ (Q.S. Al-Ahzab 33 : 41-42)

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.“  (QS. Al-Baqarah 2 : 152)

  1. Bergaul dengan Orang–orang Saleh

Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang, Karena itu, kekuatan spiritualitas erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita. Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah Allah, tekun bekerja dan semangat dalam belajar, diharapkan kita akan terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang pendendam, pembohong, penghianat, dan lalai akan ajaran-ajaran Allah, dikhawatirkan kita pun akan terseret arus kemaksiatan tersebut. Karena itu, Allah SWT mengingatkan agar kita bergaul dengan orang-orang saleh seperti dikemukakan dalam ayat berikut,

Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di waktu pagi dan petang, mereka mengharapkan keridhoan-Nya, dan janganlah kamu palingkan kedua matamu dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya; dan adalah keadaan itu melewati batas.“  (Q.S. Al-Kahfi 18 : 28)

 

  1. Berbagi Kasih dengan Fakir, Miskin dan Yatim

Bebagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin dan yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kekuatan spiritualitas, sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang lain. Abu Hurairah RA bercerita, bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah SAW tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau SAW menegaskan,

“Bila engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah orang-orang miskin dan sayangi anak-anak yatim.“ (H.R. Ahmad).

 

  1. Mengingat Kematian

Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk mengarungi kehidupan. Kehidupan ruhiyyah (spiritualitas) berkaitan erat dengan kesadaran bahwa suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan menipis dan akhirnya habis. Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan spiritualitas dari awan kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah SAW menganjurkan agar sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening.

Buraidah bin Hushaib Al-Aslami RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dulu, aku pernah melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang, berziarahlah, karena ia dapat mengingatkan akan hari akhirat.“  (H.R. Muslim dan At-Tirmidzi)

 

  1. Menghadiri Majlis Ilmu

Spiritualitas bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Diantara pupuknya adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majlis ilmu akan menjadi media pensucian spiritual. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Allah SWT akan menurunkan rahmat, ketenangan dan barakah pada orang-orang yang mau menghadiri majlis ilmu dengan ikhlas.

Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malaikat akan menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah akan menyebutkannya pada kumpulan (malaikat) yang ada di sisin-Nya.” (H.R. Muslim)

 

  1. Berdo’a kepada Allah Swt.

Allah SWT Maha Berkuasa untuk menbolak-balikan hati seseorang. Karena itu sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan dari hati yang busuk dan diberi ruhiyyah yang hidup dan bening. Menurut Ummu Salamah RA do’a yang sering dibaca Rasulullah SAW saat meminta kekuatan spiritualitas adalah :

(Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku berpegang pada agama-Mu). Perhatikan riwayat berikut, “Syahr bin Hausyab RA mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai ibu orang-orang yang beriman, do’a apa yang selalu diucapkan Rasulullah SAW saat berada di sampingmu?” Ia menjawab: “Do’a yang banyak diucapkannya ialah

Yaa muqallibal quluub tsabit qalbi ‘ala diinik

”Ummu Salamah melanjutkan, “Aku pernah bertanya juga, Ya Rasulullah, alangkah  seringnya  engkau  membaca  do’a ;

Yaa muqallibal quluub tsabit qalbi ‘ala diinik

Beliau menjawab : “Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi. Menurutnya hadist ini hasan)

 

Selain do’a diatas, Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa ketika menginap di rumah Rasulullah SAW ia pernah mendengar beliau mengucapkan do’a berikut,

Ya Allah, jadikalah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya, di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan dibelakangku cahaya, dihadapanku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya. Ya Allah berikan kepadaku cahaya.”  (H.R. Muslim)

Itulah sepuluh jurus latihan yang bisa kita lakukan agar memiliki spiritulitas yang kokoh saat melaksanakan haji dan umroh. Dengan bekal ruhiyyah yang baik diharapkan kita bisa meraih haji yang diidamkan yaitu menjadi haji mabrur. Amien. Wallahu’Alam. [ ]

 

buku doa orang-orang sukses

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email aam@percikaniman.org  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment