Hikmah Adanya Kuota Haji

Kabah 2

Oleh: Iqamatun Nisa *

 

PERCIKANIMAN.ID – – Rukun Islam kelima adalah idaman setiap Muslim. Bagaimana tidak, Allah telah menyiapkan segala nikmat dan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya bagi mereka yang berhaji. Bukankah tiada balasan lain selain surga bagi mereka yang mabrur? Sungguh, memasuki surga Allah adalah cita-cita kita semua. Dalam rukun Islam, ibadah haji adalah rukun yang terakhir atau ke-5 sebagai penyempurna keislaman seseorang. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah Saw dalam sabdanya:

 

“Islam ditegakkan di atas lima perkara; persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, dan pergi haji ke Baitullah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

Nikmat dan pahala haji yang luar biasa tentunya sebanding dengan pengorbanan yang mesti kita tempuh untuk menggapainya. Karena itu, ibadah haji merupakan ibadah paling sulit bagi umat. Tidak semua orang bisa melaksanakannya, mengingat tenaga, pikiran, dan harta yang dikeluarkan tidak sedikit. Belum lagi, alokasi jamaah haji yang terbatas pada kuota tertentu.

Persoalan kuota haji memang tidak terhindarkan. Mengingat jutaan orang dari seluruh penjuru dunia berkumpul di satu titik pada waktu dan tempat yang sama yakni di Masjidil Haram.

Tentu saja semua pihak baik pemerintah asal Negara calon jamaah haji termasuk Indonesia maupun pemerintah Arab Saudi  harus memikirkan keamanan dan kenyamanan para peserta haji. Pembatasan atau kuota jamaah haji adalah langkah terbaik guna menjaga stabilitas keamanan di sekitar wilayah haji.

Bisa dibayangkan bila jamaah haji tidak dibatasi. Jangankan areal kompleks Masjidil Haram, bahkan Mekkah sekalipun tak mungkin sanggup menampung jutaan umat Muslim yang haji ke sana. Untuk itu kiranya kita dapat bijak dalam menyikapi jumlah kuota dari pemerintah ini.

Untuk tahun 2107 ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan kuota mencapai 221.000 calon jemaah haji akan berangkat ke tanah suci. Meski jumlah ini masih sebelum sebanding dengan daftar tunggu berangkat haji hingga belasan tahun ke depan, namun jumlah tersebut setidaknya sudah lebih banyak dibanding kuota tahun lalu.

Kuncinya adalah kita harus berbesar hati dan mengembalikan segala sesuatu kepada Allah Swt. Bagi yang bisa berangkat tahun ini tentu harus bersyukur dan yang belum tentu harus bersabar. Segala yang terjadi di muka bumi tiada lain adalah rencana-rencana Allah Swt semata. Dalam kondisi seperti ini, kesabaran dan kualitas keimanan seorang calon haji tengah diuji. Kesediaan kita untuk bersabar justru menjadi hal yang sangat manis.

BACA JUGA  Bagi Jamaah Haji, Jangan Lupa Perhatikan Kebutuhan Air Minum

Peluang Bertaubat

Tertundanya keberangkatan haji bagi beberapa jamaah pastilah memberi rasa kecewa. Terutama, bagi mereka yang telah menyiapkan segala sesuatunya untuk berangkat, namun hendaknya dilihat dari sisi positifnya. Bisa jadi tertundanya keberangkatan kita adalah yang terbaik di sisi Allah Swt, yang penting kita sudah berusaha untuk bisa berangkat. Tentu yang harus diingat oleh semua bahwa yang kita anggap baik belum tentu baik di mata Allah Swt, juga sebaliknya yang kita anggap buruk bisa jadi itu yang terbaik. Intinya, kita harus pandai-pandai menuai hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian. Mungkin saja jatah Haji Mabrur untuk kita sudah disiapkan tahun depan.

Tertundanya keberangkatan beberapa calon haji justru momen tepat untuk kembali berbenah diri. Karena memang sebelum berangkat haji, umat Muslim dianjurkan untuk banyak bertaubat. Hal ini perlu dilakukan guna meluruskan niat agar perjalanan haji kita tidak terganggu keinginan duniawi semata. Jika kita tidak jadi berngkat tahun ini, berarti Allah memberi kita waktu untuk bertaubat yang lebih banyak.

Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Selain memperbaiki ibadah-ibadah wajib, kita juga bisa menambah dengan ibadah sunnah. Sehingga, ketika tahun depan tiba dan datang giliran kita untuk berangkat haji, kita telah siap menyambutnya secara maksimal. Wallahu’Alam. [ ]

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pendidik dan pegiat dakwah 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: pixabay

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected] atau: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment