Tukang Pijit dan Tukang Urut Naik Haji Tahun Ini

tukangpijatnaikhaji

PERCIKANIMAN.ID – KISAH perjuangan orang biasa atau bahkan dinilai tidak mampu oleh manusia, tetapi bisa naik haji atas izin Allah SWT, banyak terjadi di negeri ini. Seperti cerita Wati binti Uju (57) yang selama ini dikenal sebagai Ceu Wati Peuseul (pijit urut).

Ceu Wati adalah salah satu calon jemaah haji yang akan be­rang­kat ke Mekah, 11 Agustus mendatang. Dia tergabung dalam kloter 50 gelombang ke dua Kota Bandung. Ceu Wati akan pergi berhaji bersama suaminya, Ade Suryana (61), seorang tukang ojek di pangkalan Kelurahan Cipadung.

iklan donasi pustaka2

”Dulu, jangankan berniat pergi haji, untuk sekadar membayangkan pun tidak. Tetapi saat keluar kerja dari (pabrik tekstil) Tarumatex tahun 1997, pimpinan saya bilang bahwa kalau nanti sudah tidak kerja, jadilah tukang pijit. Selain bisa dapat penghasilan, juga bisa pergi berhaji,” ujar Ceu Wati, saat menerima kunjungan Sekretaris Camat Cibiru Didin Dikayuana dan Lurah Pasirbiru Adad Mujahidin, di rumahnya Kampung Cikuda RT 3 RW 11 Kelurahan Pasirbiru Kecamatan Cibiru, pekan lalu.

Ucapan pimpinannya itu dianggap Ceu Wati sebagai olok-olok karena kemampuannya meuseul dan urut. ”Bagaimana bisa naik haji? Saya kerja di Tarumatex sejak tahun 1975 gaji hanya Rp 4.500 dan saat akan di-PHK tahun 1997, gajinya Rp 135.000 perminggu,” ujar Wati.

Setelah keluar kerja dan mulai menjalankan profesi sebagai tukang pijit tahun 2002, olok-olok pun muncul dari teman dan sesama tukang pijit. Soalnya, tangan kirinya pernah patah sehingga Ceu Wati hanya bisa memijit dengan satu tangan. ”Ja­ngankan untuk mengumpulkan ongkos haji, untuk makan atau membiayai sekolah anak saja sudah sangat sulit. Padahal, saya memijit tidak kenal waktu. Bisa sampai jam 3 subuh,” ucapnya.
Mendapat nasihat

Cerita menjadi lain, saat tahun 2010 dia memijit seorang ibu yang merupakan pengurus Yayasan Al-Maghfiroh Cipadung. Sang ibu itu menasihatinya agar mengumpulkan uang buruh memijit untuk naik haji. Lagi-lagi nasihat itu ia abarkan karena Ceu Wati ingin menabung untuk anaknya agar bisa kuliah.

Namun, Allah swt punya rencana lain. Masih di tahun 2010, uang biaya sekolah anaknya, Ceu Wati pakai sebagai setoran awal ongkos haji. Sisa ongkos haji dia dan suami, dicicil ke bank sebesar Rp 1 juta sebulan. Cicilan itu pun lunas pada tahun 2014.

”Saya tak punya target harus pergi haji tahun berapa karena memang tidak punya uang lebih. Hanya, setiap hari dari buruh memijit saya sisihkan Rp 50.000 untuk cicilan ke bank. Alhamdulilah setiap hari ada yang dipijit. Kalau sepi, sehari tiga orang. Kalau lagi ramai, bisa 20 orang,” ujar Ceu Wati.

Kabar tentang dia dan suami masuk daftar keberangkatan tahun 2017, datang bulan Maret lalu. Namun, hingga sebelum mendapatkan perlengkapan dan membuat paspor, Ceu Wati belum yakin akan pergi tahun ini. Soalnya, berdasarkan kabar, dia dan suami berangkat tahun 2018.

Cerita akan kepergian Ceu Wati tukang peuseul urut dan Kang Ade tukang ojek naik haji, cepat merebak. Saat digelar halalbihalal calon haji se-Kecamatan Cibiru, banyak orang tidak percaya. ”Mungkin mereka baru percaya setelah saya dan suami pergi bersama rombongan ke tanah suci,” ucap Ceu Wati.

Sumber : Pikiran Rakyat

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment