Konsekuensi Kepemimpinan (Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 166-167)

pemimpin

(yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, “Seandainya Kami dapat kembali (ke dunia), pasti Kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 166-167)

 

***

 

Seperti sudah menjadi “kelaziman” jika dalam sebuah pembahasan, baik melalui tulisan atau lisan, ketika berhubungan dengan masalah kepemimpinan, maka titik tekan pembahasan selalu ditujukan kepada sang pemimpin. Seolah ketika kepemimpinan itu baik, maka semata-mata sang pemimpinlah yang dianggap paling berjasa, dipuja, disanjung, bahkan sampai dikultuskan. Sebaliknya, ketika kepemimpinan itu buruk, maka kritikan bahkan sampai hujatan, cemoohan, ejekan, dan tuduhan selalu dialamatkan kepada sang pemimpin. Sungguh nahas memang nasib pemimpin, tetapi itulah yang terjadi saat ini. Titik krusial yang menjadi sebab adalah pemahaman dan kesadaran bahwa kepemimpinan bukan hanya melulu bicara soal pemimpin.

Kepemimpinan memliki dua unsur pokok di dalamnya, yaitu pemimpin dan yang dipimpin. Karenanya–tanpa bermaksud memihak siapa pun–ketika terjadi kasus jeleknya kepemimpinan, tak patutlah kita senantiasa menyalahkan satu unsur di antaranya, karena kita sendiri berada pada unsur lainnya yang boleh jadi kita ikut andil di dalamnya. Ingatlah, pemimpin itu lahir dari yang dipimpin. Sehingga, pemimpin baik dipastikan akan lahir manakala mereka yang dipimpin-nya sebagai embrio dari pemimpin tersebut juga baik.

Sejak berabad-abad yang lalu, Islam telah mengajarkan keseimbangan dalam hal kepemimpinan. Bukti paling dekat bagaimana Al-Quran dan hadits sebagai sumber ajaran Islam tidak melulu menyoroti masalah kepemimpinan dari unsur pempimpinnya saja, tapi sebanding dengan pembahasan pemimpin. Allah dan Rasul-Nya senantiasa menekankan pentingnya memperhatikan posisi sebagai yang dipimpin. Dan, itulah yang akan kita bahas dalam kesempatan ini sebagaimana dimuat dua ayat dalam Surat Al-Baqarah tadi. Berikut uraiannya:

Dalam tinjauan kebahasaan, dua ayat tersebut  memuat dua kata yaitu “ittaba‘u” (mereka yang mengikuti) dan “uttubi‘u” (mereka yang diikuti) yang merupakan pasangan dalam konteks kepemimpinan. Ini merupakan isyarat awal bagaimana Al-Quran sangat memperhatikan keseimbangan dua unsur kepemimpinan seperti disinggung tadi.

Bila dicermati lebih jauh, ayat ini memberi isyarat mendalam betapa urusan mengikuti dan diikuti (kepemimpinan) memiliki konsekuensi besar, bukan hanya terkait urusan realitas kehidupan di dunia, tetapi dapat tembus sampai ke masa berat di akhirat. Masalah ikut-mengikuti memiliki hubungan sebab-akibat yang kelak segalanya akan dikembalikan kepada Allah untuk dipertanggungjawabkan. Dengan ini, ternyata perkara ikut-mengikuti bukan perkara sepele. Itulah sebabnya mengapa Allah selalu mengirim figur-figur langit. Tentu tidak lain agar setiap episode kepemimpinan merujuk pada figur ilahilah yang memiliki bobot pertanggungjawaban ukhrowi.

Hubungan sebab akibat antara rakyat atau anak buah (yang mengikuti) dan pimpinan (yang diikuti) yang berlaku hingga akhirat nanti, terlihat gamblang dalam ayat kedua sebagaimana dimuat dalam petikan ayat berikut ini.

“Seandainya kami dapat kembali (ke dunia) sekali lagi, pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka (saat ini) berlepas diri dari kami.”

Sungguh pengandaian yang sangat sia-sia. Perjalanan hidup manusia tidak pernah bisa mundur. Roda kehidupan menggelinding ke depan. Alam akhirat adalah kehidupan pasca alam dunia. Ungkapan para pengikut (yang mengikuti) ini Allah angkat di dalam ayat ini sebagai “testimoni” untuk kita saat ini bahwa memilih pemimpin atau imam tidak boleh berdasarkan warisan leluhur, pengetahuan kolektif, opini media, dan emosi belaka.

BACA JUGA  Mewujudkan Negeri Berkah Penuh Rahmat (Tafsir Al-Qur’an Surat A‘rāf Ayat 96-99)

Memilih pemimpin atau imam harus berdasarkan kesadaran individual, pengetahuan rasional, dan petunjuk Allah melalui Kitab Suci-Nya. Mari kita renungkan ayat ke-170 dari Surat Al-Baqarah berikut ini.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah Allah turunkan!’ Mereka menjawab, ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (warisan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak menggunakan akalnya sedikit pun, dan tidak mendapat petunjuk?”

Kembali saya tegaskan bahwa urusan ikut mengikuti memiliki konsekuensi sangat besar bagi kedunya. Baik buruknya, tepat tidaknya, selektif tidaknya, ternyata ikut menentukan nasib keduanya di akhirat didasarkan pada hubungan keduanya. Coba kita cermati kembali petikan ayat berikut, “…pasti kami akan berlepas diri dari mereka…” Sungguh isyarat mutlak bahwa apa pun, namanya pemimpin, imam, dan pimpinan lainnya di satu sisi semestinya sejalan dengan kehendak-kehendak Allah. Di sisi lain, sebagai yang dipimpin selayaknya untuk “menjauh” dari pola kepemimpinan yang melanggar prinsip-prinsip dasar wahyu Allah. Nabi Ibrahim a.s. memberi keteladanan soal ini ketika berlepas diri dari “bapak”-nya:

“… Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ‘bapak’-nya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya, Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (Q.S. At-Taubah [9]: 114)

Isyarat jelas bahwa selektifnya dalam memilih pemimpin sejalan dengan garis-garis ilahiah merupakan kemestian yang dimiliki setiap muslim. Kejelasan sikap dan pandangan dalam soal kepemimpinan seyogianya tidak lagi menjadi alat tawar dalam soal kepemimpinan. Menjauh dari keharusan tersebut, bersiaplah untuk menyongsong penyesalan di akhirat, karena hal itu menjadi sebab mereka tidak bisa keluar dari azab api neraka. Mari kita perhatikan kembali petikan akhir ayat kedua berikut ini.

“… Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka).”

Rasulullah Saw. bersabda,

Dari Abu Hurairah kepada kami dari Rasulullah Saw. kemudian dia menyebutkan beberap hadits yang di antaranya adalah, Rasulullah Saw. bersabda, “Manusia itu mengikuti Quraisy dalam permasalahan ini (kepemimpinan), muslim mereka mengikuti muslim (Quraisy), dan kafir mereka mengikuti kafir mereka (Quraisy).” (Shahih Muslim no. 3390)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Hakim, Rasulullah Saw. bersabda, “seperti keadaan kalian saat ini, maka seperti itu pulalah pemimpin kalian akan datang”. Maksudnya bahwa kualitas pemimpin ditentukan oleh kualitas pemilihnya. Karena tidak akan pernah muncul pemimpin yang jatuh dari langit, maka kualitas para pemilih (yang mengikuti), dimana sang calon pemimpin itu berasal harus terus berbenah dan mawas diri agar kelak melahirkan kader pemimpin yang sangat berkualitas.

Islam mengajarkan sikap kritis, objektif, dan realistis, namun tidak berarti dihalalkan menjauh dari keseimbangan. Sungguh, tidak terlarang, bahkan dalam momen tertentu dibutuhkan untuk menjaga agar setiap yang mengikuti memiliki daya kritis kepada yang diikuti demi perbaikan dan kemajuan. Namun, tetap sadar bahwa peran kita sampai terbentuknya sebuah kepemimpinan ideal adalah sangat besar. Pepatah dalam bahasa kita menyatakan bahwa jangan sampai gajah di pelupuk kita tidak kelihatan, tapi semut di seberang lautan kelihatan.

Wallahu a‘lam.

(DR. AAM AMIRUDDIN, M.SI)

 

(Visited 23 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment