Syawal Bulan Istimewa Untuk Menikah?

Menikah 5

 

Assalamu’alaykum. Ustadz beberapa setelah Idul Fitri ( Syawal) saya melangsungkan khitbah atau lamaran kepada calon istri. Saya dan calon istri sepakat insya Allah akan melangsungkan walimah (pesta pernikahan) sekira 6 bulan kedepan, alasannya calon istri ingin menyelesaikan studinya dan saya sendiri juga mempersiapkan kebutuhan materi dan yang lainnya. Namun keluarga calon istri meminta agar segera dilakukan walimahan pada bulan Syawal ini juga alasannya karena bulan Syawal penuh keberkahan untuk menikah. Benarkah demikian dalam Islam dianjurkan untuk menikah di bulan Syawal? Bagaimana dengan bulan yang lain? Terus terang kalau harus bulan ini saya belum siap secara materi. Demikian juga calon istri yang kurang setuju. Kami pun sepakat untuk tidak menunda terlalu lama dan menghindari pacaran. Mohon nasihat dan penjelasannya dari Ustadz. ( Prasetyo by email)

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Kang Prasetyo dan pembaca sekalian, apa yang Anda lakukan tentu baik yakni ketika ada calon istri yang sudah dianggap cocok segera melamarnya dan berkomitmen segera menikah serta tidak melakukan pacaran. Sebab dalam Islam sendiri tidak ada istilah pacaran atau saling mengenal calon pasangan lewat pacaran. Juga saya tegaskan bahwa meskipun Anda sudah melamarnya atau mengkhitbahnya bukan berarti sudah ada yang halal dalam hubungan Anda dan calon.

iklan donasi pustaka2

 

Meskipun Anda dan calon istri istilahnya sudah tunangan yang biasanya disertai dengan tukar cincin,tetap tidak ada yang halal yang boleh Anda lakukan, misalnya pergi berduan, atau jalan-jalan berdua atau hanya sekedar di rumah berdua karena mungkin keluarga sedang tidak ada di rumah. Jadi selama belum ada akad nikah maka Anda berdua tetap orang asing atau bukan muhkrim dan tetap berlaku hukum yang melarang berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrim.

 

Hal ini perlu saya jelaskan dan tegaskan karena ada pemahaman yang salam dalam sebagian masyarakat kita khususnya para orang tua bahwa ketika sudah terjadi lamaran atau tunangan seoalah-olah keduanya sudah boleh melakukan kegiatan bersama seperti yang saya sebut tadi. Demikian juga nasihat bagi para orang tua agar tetap tegas dan melarang anaknya yang sudah tunangan atau lamaran untuk pergi berduaan misalanya atau di rumah berduaan dengan alasan menunggu rumah karena ditinggal ke luar kota misalnya. Jadi selama belum ada akad nikah atau ijab qabul mereka tetap orang lain dan tetap haram pergi berduaan.

 

Terkait dengan pernyataan Anda menikah di bulan Syawal, memang ada anjuran agar bagi yang sudah siap dan mampu secara lahir dan batin, disarankan melakukan ijab qabul. Dalam kalender hijriah Syawal ada dalam bulan ke-10. Bagi yang meyakini bahwa bulan Syawal adalah bulan istimewa untuk melangsungkan pernikahan menyandarkan pada sebuah hadits dari istri Rasulullah Saw, dimana Aisyah ra menceritakan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits tersebut sebagian ulama khususnya ahli hadits menyakini bahwa menikah pada bulan Syawal sangat dianjurkan. Maka tak heran banyak orang tua muslim yang menikahkan putra putrinya di bulan ini. Menurut hemat saya tentu boleh-boleh saja melangsungkan pernikahan di bulan Syawal jika memang sudah siap secara lahir dan batin khususnya bagi kedua calon mempelai. Namun bagi yang melangsungkan pernikahan di luar bulan Syawal tentu baik juga.

 

Jadi begini menurut hemat saya, menikah itu kan butuh persiapan yang bukan hanya mental atau batin tetapi juga lahir atau materi. Apalagi jika akad nikah atau ijab qabul disertai dengan acara walimahan atau resepsi pernikahan yang mengundang sanak saudara, kerabat,teman, tetangga dan relasi tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Nah, hal seperti ini juga perlu dipikirkan kedua belah pihak. Memang zamang sekarang soal dana atau uang bisa pinjam baik ke lembaga atau pribadi namun sekiranya hal ini memberatkan tentunya tidak baik ke depannya. Jangan sampai terjadi usai pesta pernikahan justru dibebani dengan persoalan pinjaman dana walimahan yang mungkin saja bisa mengganggu hubungan harmonis kedua mempelai atau keluarganya.

Saran saya tentu jika Anda dan calon istri sudah siap lahir dan batin maka wajib menyegerakan untuk menikah. Segera menikah untuk menjaga diri dan menyempurnakan agama tentu lebih baik dari pada menunda-nunda dengan alas an yang syariah, misalnya ingin mapan dulu, ingin lulus, ingin punya rumah dan sebagai. Ini kan alasan yang kurang realistis dan tidak sesuai ajaran Islam. Dalam Al Qur’an Allah Swt berfirman:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya…” (QS.An-Nuur: 32)

Sementara dalam sebuah hadits Rasulullah Saw berpesan,

Wahai sekalian pemuda, apabila kalian mampu (lahir dan batin) untuk menikah, maka menikahlah. Hal tersebut akan menjaga pandangan dan kemaluan. Namun, bila kalian belum mampu berpuasalah. Karena di dalam puasa tersebut terdapat pengekang” (HR.Bukhari dan Muslim).

Mengacu dari pesan Rasulullah Saw terserbut maka solusi hanya ada dua, pertama menikah jika sudah siap lahir batin dan yang kedua dengan berpuasa jika belum siap atau belum mampu. Sekali lagi terkait dengan menikah di bulan Syawal maka Anda bisa menjelaskan kepada calon mertua atau keluarga istri. Diskusikan dengan bijaksana agar bisa saling memahami.  Terkait permasalah keluarga dan pembahasannya saya sudah menulisnya dalam sebuah buku yang berjudul “Insya Allah Sakinah”, Anda atau pembaca bisa membacanya khususnya bagi yang akan menikah maupun yang telah menikah. Wallahu’Alam. [ ]

Buku insya Allah Sakinah

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email aam@percikaniman.org  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 132 times, 10 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment