Pentingnya Mengenal Hadits Lemah dan Palsu

Oleh: Nurdin Latief*

 

 

PERCIKANIMAN.ID – –  Sangat sering kita mendengar para penceramah (termasuk penulis) di mimbar-mimbar pengajian dan khutbah menyampaikan hadits-hadits yang disan­dar­kan kepada Rasulullah Saw. Saking seringnya disampaikan atau ditulis di buku-buku, jadilah hadits tersebut populer di masyarakat. Karena kepopulerannya inilah timbul sangkaan bahwa derajat hadits tersebut sahih dan bisa dipakai untuk hujjah.

 

Padahal setelah diteliti, ternyata hadits-hadits tersebut derajatnya lemah (dhaif), tak sedikit yang tidak ada asal usulnya, atau malah palsu (maudhu). Berikut adalah salah satu contohnya.

 

Beramallah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.

 

Barangsiapa yang beranggapan bahwa hadits di atas dari Rasulullah Saw. atau menyandarkan kepada beliau dengan sengaja, dia sudah berdusta atas nama beliau.

donasi perpustakaan masjid

 

Rasulullah Saw. telah memberikan peringatan yang sangat keras supaya kita berhati-hati dalam menyampaikan hadits. Salah satunya dapat dilihat pada hadits yang derajatnya mutawatir yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan yang lainnya berikut ini.

 

Dari Abu Hurairah dia berkata, telah bersabda Rasulullah Saw., “Barangsiapa yang berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka.” (H.R. Bukhari juz 1 hal 36 dan Muslim juz 1 hal 8 dan lain-lain)

 

Menyampaikan sesuatu yang dianggap hadits padahal bukan  hadits tentu sangat berbahaya baik bagi ummat maupun bagi dirinya sendiri. Bagi ummat atau masyarakat tentu bisa menimbulkan salah dalam memahami ajaran agama. Sementara bagi yang menyampaikan ada sanksi berikut ancamannya yakni bisa menjadi penghuni neraka.

 

Untuk itu hendaknya setiap muslim khususnya para dai atau aktivis dakwah bisa mengetahui kedudukan hadits-hadits yang populer namun dhaif atau maudhu tadi. Alangkah baiknya jika kita bisa menerangkan derajat setiap hadits, dhaif, sangat dhaif, maudhu, tidak ada asalnya, dan seterusnya. Lebih utama lagi jika kita setiap hadits dapat menjelaskan perawinya satu persatu dan menjelaskan sebab-sebab kedhaifan atau kemaudhuan suatu hadits berdasarkan perkataan para ulama hadits.

Saran untuk rekan-rekan aktivis dakwah

  1. Ketika menyampaikan suatu hadits, alangkah baiknya kalau kita menyebutkan nama periwayatnya. Misalnya hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim atau yang lainnya, agar siapa pun yang berminat untuk mempelajari hadits yang telah kita sampaikan dapat dengan mudah mencari sumber aslinya.
  2. Usahakan dalam pengambilan hadits, kita hanya mengambil dari kitab-kitab hadits yang tsiqah, atau dari kitab-kitab hadits yang menerangkan tentang kualitas hadits-hadits yang dibawakannya (yang telah di-takhrij).
  3. Sebutkanlah derajat hadits yang telah kita sampaikan, baik sahih, hasan, dhaif, maupun maudhu agar siapa pun yang mendengar akan mengetahui derajat hadits tersebut.

 

Semoga dengan mengetahui kedudukan hadits kita dapat menjaga kemurnian sunnah dari berkembangnya hadits-hadits dhaif dan   maudhu di tengah masyarakat. Dengan demikian kita berkontribusi dalam menjaga akidah dan amaliah ummat Islam. Wallahu’Alam. [ ]

 

*Penulis adalah pendidik, pegiat dakwah dan penulis buku.

Buku Muliakan Ibumu 1

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected] atau: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

(Visited 11 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment