Haruskah Dzikir Dilakukan Berjamaah Selesai Shalat?

berdoa berdzikir

Assalamu’alaykum. Beberapa hari lalu saya ke kampung (mudik) istri. Dalam sebuah kesempatan saya diminta menjadi imam shalat di masjid. Setelah selesai shalat berjamaah, saya diminta memimpin dzikir dan doa dengan suara yang dikeraskan bahkan melalui pengeras suara. Namun karena tidak biasa saya pun menolaknya dan sedikit menjelaskan bahwa berdzikir dan berdoa itu tidak harus dikeraskan dan bersama-sama. Sedikit terjadi dialog atau debat dan mereka tidak terima.Malah menganggap saya bukan Islam sunnah karena enggan berjamaah. Saya pun mendapat marah dari keluarga istri yang tidak mau mengikuti tradisi masyarakatnya. Pertanyaan saya,   bagaimana cara zikir atau wirid ba’da shalat wajib sesuai yang dicontohkan Rasulullah Saw.? Apakah setelah salat wajib Rasulullah Saw memimpin dzikir dan doa secara berjamaah? Mohon penjelasan dari ustadz dan terima kasih. (Jamal by email)

 

 

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Pak Jamal dan pembaca sekalian, masih ada dalam masyarakat kita jika ada perbedaan khususnya masalah amalan sunnah lalu kita dianggap bukan jamaah mereka atau Islam yang baru. Ini tentu tidak benar, sepanjang akidahnya lurus sesuai dengan Al Qur’an dan contoh Rasulullah Saw tentu mereka saudara kita. Perbedaan amalian khususnya yang bersifat sunnah tidaklah mengapa sepanjang ada dalilnya. Hal ini tentu salah satunya disebabkan karena kurangnya ilmu sehingga apa yang diamalkan seseorang terkadang hanya ikut ajengan atau ustadz saja bukan berdasar ilmu. Padahal bisa jadi ajengan atau ustadz tersebut juga hanya ikut dari ajengan sebelumnya dan seterusnya. Dalam agama tentu tidak bisa demikian, semua amal harus ada dasar atau dalilnya baik yang bersumber dari Al Qur’an maupun Hadits Rasulullah Saw.

iklan donasi pustaka2

 

Terkadang dalam masyakarat kita ini masih ada pemahaman antara tradisi dianggap atau disandarkan dengan ajaran Islam. Memang ada kebiasaan atau tradisi yang sejalan dengan ajaran Islam misalnya mudik yang dianggap tradisi  yang kemudian disandingkan dengan silaturrahim atau silaturahmi dianjurkan dalam Islam dan sebagainya. Namun ada juga tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam yang dianggap bagian dari ajaran Islam.

 

Nah, terkait dengan pertanyaan Anda tentang kegiatan dzikir haruskah dilakukan dengan berjamaah? Maka perlu sedikit saya jelaskan bahwa   dzikir atau wirid yang dilakukan Rasulullah saw. setiap ba’da shalat adalah sebagai berikut.

 

Beliau membaca Istighfar (Astaghfirullahal‘azhim) sebanyak tiga kali, kemudian membaca “Allahumma antas-salam waminkas salam tabarakta dzaljalali wal ikram.” (H.R. Muslim dari Tsaban r.a.). Lalu membaca: Tasbih,  “Subhanallah” 33 kali,  Tahmid,  “Alhamdulillah” 33 kali,  dan  Takbir  “Allahu Akbar” 33 kali. Diteruskan dengan membaca: “Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodir.” (Tidak ada Tuhan  kecuali Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya kerajaan ini dan bagi-Nya pula segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).

 

Hal ini merujuk pada hadis berikut. Abu Hurairah r.a. menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali,  takbir tiga puluh tiga kali, jadi jumlahnya sembilan puluh sembilan kali, kemudian digenapkan menjadi seratus kali dengan membaca “laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syain qodir”,  maka diampuni Allah segala kesalahannya walaupun sebanyak buih di lautan.”  (H.R. Muslim).

 

Setelah itu, silakan berdoa (secara individual) sesuai dengan keinginan dan harapan masing-masing, dengan suara lembut, penuh kerendahan hati (khusu’), dan husnuzhan (berbaik sangka) bahwa Allah akan mengabulkan. “Dan sebutlah nama Tuhan dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al’Araf 7: 205). “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berfirman, ’Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdoa kepada-Ku.’” (H.R. Bukhari dan Muslim).

 

“Wahai manusia, jika kamu memohon kepada Allah swt., maka mohonlah langsung ke hadirat-Nya dengan keyakinan bahwa doamu akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan doa yang keluar dari hati yang pesimisi.” (H.R. Ahmad).

 

Bertolak dari analisis di atas jelaslah bahwa tidak ada satu pun dalil shahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. memimpin doa setelah shalat wajib. Bagi para  pembaca yang pernah shalat di Masjidil Haram di kota Mekah atau Masjid Nabawi di Madinah tentu akan tahu, bahwa para imam di sana tidak ada satu pun yang memimpin doa setelah shalat wajib.

 

Kesimpulannya, tidak satu pun dalil shahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw memimpin doa setelah shalat wajib. Doa dan zikir diserahkan pada individu masing-masing alias tidak dipimpin. Wallahu A’lam. [ ]

Buku Doa 

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

 

(Visited 24 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment