Luasnya Pengertian Dzikir dalam Kehidupan

dzikir

PERCIKANIMAN.ID – Dzikir adalah penenang hati. Dzikir adalah penghalus jiwa. Dan dzikir membawa pada kedamaian. Siapa yang senantiasa berdzikir pasti ia bahagia. Dan siapa yang meninggalkannya pasti ia merana. Begitulah di antara komentar beberapa salafus shalih tentang dzikir.

Tentang pengertian dzikir, kita kadang terjebak pada pengertian hanya melafadzkan lafadz-lafadz tertentu, atau hanya ingat kepada Allah Swt tanpa realisasi amal dalam setiap langkah kehidupan. Padahal, pengertian dzikir itu sangat luas mencakup berbagai sisi kehidupan seorang muslim.

Menurut Abdul Qadir Atha (1993:291), bahwa dzikir kepada Allah itu bermacam-macam; diantaranya ialah dzikir dengan hati dan lisan, dzikir kepada Allah karena dosa dan memohon ampun kepada-Nya, atau dzikir kepada Allah karena melakukan maksiat, dan berpegang teguh pada sikap abar, atau dzikir kepada Allah dalam menjalani perintah, dan seterusnya. Semua itu adalah dzikir. Seharusnya manusia itu dzikir (mengingat) Allah, karena Dia selalu ingat kepada mereka.

Allah Swt berfirman : “Berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya, agar kamu beruntung“. (QS. Al-Anfal ayat 45).

Menurut Asy-Syaukani bahwa pengertian ayat di atas adalah : Ayat ini menjadi dalil bahwa dzikir itu diperintahkan dalam setiap keadaan. Senang susah, suka dan duka, hendaknya dzikir senantiasa menghiasi langkah kehidupan muslim.

Imam Ibnul Qayyimal-Jauziyah (1993:55) memberikan komentar terhadap ayat di atas. Beliau berkata : Selain kita berdzikir dan berdoa kepada Allah Swt, hendaknya kita harus bekerja, beramaluntuk kepentingan ummat Islam. Tidak dibenarkan apabila seseorang hanya duduk berdzikir sampai melupakan tugas utama lainnya untuk menegakkan agama dan ummat Islam. Kalau hal ini disadari oleh ummat Islam, Insya Allah dalam menghadapi berbagai tuntutan zaman akan dapat diatasi dengan baik. Bahkan mendapatkan ridho Allah Swt.

Selanjutnya beliau bertutur, Dzikrullah yang dilakukan di setiap waktu akan mendatangkan rasa aman pada diri, kesegaran dalam hati, mencerdaskan fikiran, dan selalu mendapatkan petunjuk dari Allah Swt ke jalan yang benar. Orang yang lupa kepada Allah dan tidak bersyukur atas nikmat-Nya akan dihinggapi was-was, ketimbangan dan keraguan dalam hidupnya. Bahkan dia lupa pada dirinya sendiri untuk berbuat baik.

Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada dirinya sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik“. (QS. Al-Hasyr ayat 19).

Maka dengan demikian, seyogyanyalah setiap mukmin senantiasa mengkaitkan segala dimensi kehidupannya dengan titah dan perintah rabbaniyah. Tak ada satupun dari sisi kehidupannya yang bertolak belakang dengan tital Allah Azza wa jalla.

Dari Aisyah ra, ia berkata : Adalah Rasulullah Saw selalu berdzikir kepada Allah pada setiap masa. (HR. Muslim).

Allah Swt berfirman : “Sesungguhnya dalam menciptakan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang kekal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dari duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran ayat 190-191).

(Visited 90 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment