Berani dan Bersedialah Memafkan Orang Lain!

bersalaman

Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka“. (QS. Ali Imran: 159)

Meski Idul Fitri telah berlalu, kehangatan dan nuansa kekeluargaannya yang kental, masih tersisa di bilik batin kita masing-masing. Saat itu, kegembiraan dan wajah sumringah milik setiap orang, bukan monopoli mereka yang berkantung tebal, pengais sampah, pemulung, dan sederet manusia lain hari itu tampil rapi setelah sebelas bulang lamanya kemanusiaan kerap dilecehkan oleh mereka yang senantiasa bergelimang kemewahan.

Bagi masyarakat Indonesia, Idul Fitri yang seharusnya merupakan momen kemenangan yang bersifat spiritual ternyata mengalami pelebaran makna yang luar biasa. Sedemikian lebarnya sehingga nyaris mengubur hakikat dan pesan substansial dari Idul Fitri itu sendiri, yakni harapan ; kembalinya lagi realitas kemanusiaan kita sesuai dengan fitrah penciptaan setelah menjalankan ibadah puasa.

Idul Fitri harus dipahami sebagai akhir perjalanan ibadah puasa kita,dan merayakannya (berlebaran) bukanlah tujuan utama. Idul fitri akan menjadi teramat istimewa, kalau kita menjalankan ibadah puasa dan amaliah Ramadhan lainnya dengan benar. Ia hanya akan menjadi perayaan dan pemborosan saja manakalah kita hanya berfikir tentang lebaran, sembari mengabaikan puasa. Terlepas dari adanya kesalahan dalam memahami Idul Fitri, ada kegiatan positif yang berkaitan dengan Idul Fitri, yakni, saling memaafkan (yang lagi-lagi mengalami perluasan). Masyarakat Indonesia mempraktekannya dengan saling berkunjung ke sanak keluarga untuk meminta maaf .

Memohon maaf pada hari biasa mungkin terasa berat, apalagi saat emosi sedang tinggi. Tetapi pada saat lebaran, kita dengan sadar akan melakukan itu, bahkan dengan orang yang mungkin belum pernah melakukan kesalahan terhadap kita. Pendek kata, semua orang pada hari itu memiliki keberanian dan kesediaan diri untuk meminta maaf. Tetapi apakah semuanya memiliki kesadaran bahwa keberanian untuk minta maaf haruslah dibarengi dengan keberanian dan kebersediaan diri untuk memaafkan ?

promooktober

Ungkapan kata maaf dalam situasi dimana semua orang meminta maaf, sebenarnya bukan peristiwa yang istimewa. Justru yang paling penting dibangun dalam situasi seperti itu adalah sikap mental memaafkan. Kalau semua orang telah membangun kesadaran untuk memaafkan, maka tak penting lagi formalisme permohonan maaf, karena semua telah memaafkan meskipun tidak di mintai. Namun demikian, meminta maaf secara formal pada saat lebaran tetap harus kita lakukan. Setidaknya hal itu melatih kita untuk selalu berani meminta maaf. Kemampuan memaafkan ternyata tidak semudah ketika kita meminta maaf. Karenanya, Allah Swt berkenan memberikan anjuran langsung kepada manusia agar memberikan maaf kepada orang lain sebagaimana firmanNya ;”Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka.” (QS. Ali Imran : 159 )

Untuk mengecek apakah yang kita lakukan pada saat Idul Fitri bukan sekedar formalisme dari upacara rutin hari permohonan maaf nasional, saat inilah waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri. Membekas apa tidak, sikap memaafkan itu pada diri kita? Kalau ternyata baru satu bulan kita meninggalkan Idul Fitri dan telah memiliki agenda pertengkaran lagi, maka jelas yang kita lakukan pada saat Idul Fitri hanyalah basa basi dan adat berlebaran belaka artinya, kita masih gagal memetik pelajaran dan membangun sikap mental memaafkan dalam diri kita.

Kenapa memaafkan sulit kita lakukan ? Ada beberapa hal yang melatari munculnya masalah ini;

Pertama, memaafkan adalah kerja hati yang menuntut adanya ketulusan dan keikhlasan yang dalam. Maka tidak berlebihan ketika Allah menyatakan bahwa memaafkan adlah bagian penting dari ciri – ciri orang yang bertaqwa, sebagaimana firman–Nya : Bersegeralah kamu kepada ampunan Allah dan surgaNya, yang luasnya seluas langit dan bumi, di berikan kepada orang-orang yang taqwa. Yakni orang-orang yang menafkahkan hartannya di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran : 132 )

Dengan penegasan ayat ini, ternyata membangun sikap mental pemaaf bukanlah perkara gampang. Munculnya kualitas pribadi pemaaf membutuhkan proses panjang dan pembinaan diri terus menerus.

Kedua, dominannya pertimbangan nafsu ketimbang akal. Maaf dan memaafkan biasanya terkait dengan telah tersakitinya harga diri dan fisik kita oleh orang lain. Merupakan watak khas manusia dan mungkin sebagian besar makhluk hidup lainnya, bahwa mereka cenderung tidak suka disakiti. Kalau ada serangan secara naluriah manusia dan binatang cenderung untuk membalas serangan tersebut. Berbeda dengan binatang meskipun memiliki naluri yang sama ketika merespon serangan maupun pada saat disakiti, manusia dianugerahi oleh Allah pertimbangan akal. Orang-orang yang matang dan sehat jiwanya akan memiliki perilaku yang dikendalikan oleh pertimbangan akalnya yang sehat.

Sebaliknya banyak pula orang yang gagal atau belum mampu menggunakan sumber daya akalnya secara maksimal, sehingga seluruh hidupnya di kendalikan oleh hawa nafsu dan instingnya saja. Kecenderungan nafsu yang gemar dengan hal-hal yang mengenakkan dan memuaskan diri, kalau tidak diimbangi dengan kemampuan akal untuk menghasilkan pertimbangan yang sehat akan menjerumuskan manusia pada perilaku rendah yang tidak sesuai dengan martabat kemanusiaan. Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 53 “Dan aku tidak membiarkan nafsuku, Sesungguhnya nafsu itu benar -benar menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dirahmati Tuhanku?

Manusia yang perilaku hidupnya didominasi pertimbangan nafsu, akan sangat kesulitan untuk memberikan maaf kepada orang yang mungkin bersalah kepadanya. Dalam pikiran mereka,alangkah tidak logisnya, ketika disakiti dan dirugikan kemudian diminta memberikan maaf begitu saja tanpa membalasnya padahal kemampuan untuk melakukan pembalasan sangatlah mungkin. Dengan demikian, membangun sikap pemaaf dalam diri kita mutlak membutuhkan pengendalian hawa nafsu dan kemampuan memanfaatkan akal secara maksimal.

Ketiga, orang cenderung tidak memahami manfaat memberikan maaf kepada orang lain. Memaafkan sebenarnya cermin dari keanggunan jiwa manusia. Kesiapan untuk memberi maaf akan mendorong orang tersebut pada posisi yang lebih terhormat dalam lingkaran pergaulan sosialnya. Memaafkan merupakan sikap hidup yang bukan saja terpuji, tetapi juga memiliki dampak positif bagi munculnya kondisi psikologis yang sehat bagi siapapun yang melakukannya. Patut diketahui bahwa kegagalan kita dalam memberitakan permaafan kepada orang lain, sebenarnya saat itu batin kita tengah dirasuki oleh sifat pendendam yang sangat merusak. Menyimpan dendam di hati, sama artinya dengan menyimpan racun dalam tubuh kita.

Rasa dendam yang menggumpal dalam diri akan mengakibatkan hilangnya sifat riang, yang pada gilirannya menghilangkan kesegaran dan gairah hidup positif. Manusia yang memiliki dendam, gairah dan energi hidupnya hanya akan terfokus kepada upaya pembalasan dendam. Padahal hidup terlalu indah untuk tidak dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang lebih positif. Dengan memberi maaf, sebenarnya kita sedang menghilangkan beban di hati dan menghilangkan beban dosa bagi orang yang berbuat kesalahan, sehingga memberi maaf akan menempatkan kita pada posisi yang lebih terhormat dan mengundang penghormatan. Maka apalagi yang harus kita tunggu untuk memaafkan teman atau saudara kita? Ingat memaafkan itu sehat, lho!

 

muliakan ibumu

 

 

Sumber : percikaniman.org

(Visited 33 times, 4 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment