Pertahankan Kebiasaan Baik Raamadhan!

shalat

PERCIKANIMAN.ID – Ada “keajaiban” yang terjadi pada kaum muslim ketika Ramadhan datang. Yang biasanya jarang shalat ke masjid, maka di bulan ini setiap waktu shalat fardhu datang, mereka berusaha untuk shalat di masjid berjamaah dan tepat waktu.

Yang biasanya jarang membaca Al-Quran, maka di bulan ini mereka memiliki motto “Tiada hari tanpa membaca Al-Quran”. Yang biasanya bergosip, maka di bulan ini shaum adalah senjata ampuh untuk menghentikan kebiasaan buruk yang konsekuensinya bisa mengakibatkan transfer dosa dari yang digosipi. Majelis taklim pun dipenuhi oleh jamaah.

Namun, sayang ketika Ramadhan pergi, “keajaiban-keajaiban” tersebut perlahan turut pergi. Padahal, idealnya filosofi dari bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan. Bulan suci ini semestinya dijadikan ajang untuk mendidik diri yang asalnya tidak bisa menjadi bisa. Yang awalnya tidak bisa memiliki rutinitas membaca Al-Quran menjadi bisa rutin dalam membacanya. Yang awalnya tidak bisa shalat berjamaah di masjid menjadi bisa shalat berjamaah di masjid. Yang awalnya tidak bisa menahan bergosip menjadi bisa menahan untuk bergosip di setiap waktu.

Mari sejenak kita melirik dunia teater. Dalam dunia teater, ada dua pendekatan seorang pemain dalam mendalami karakter yang akan diperankannya. Yang pertama adalah pendekatan Amerika, yaitu pendekatan yang berawal dari dalam lalu ke luar. Maksudnya, seorang aktor akan mencari persamaan karakter psikologis yang ada pada diri aktor dengan karakter yang akan diperankannya. Dengan menggunakan persamaan tersebut, aktor membangun karakter yang dimaksud ke luar, berlapis-lapis, untuk menciptakan semua sikap dan perilaku orang yang akhirnya akan dia perankan.

 

Dalam arena pengembangan diri, ada banyak persamaan dengan pembangunan karakter dari dalam ke luar. Kita didorong untuk melihat sumber-sumber psikologis perilaku kita ke dalam diri sendiri dan memahami mengapa kita melakukan dan mengatakan apa yang kita lakukan. Prinsipnya adalah bahwa dengan mengubah cara berpikir, kita akan mengubah cara kita bertindak secara lahiriah.

 

Sedangkan, pendekatan yang kedua, adalah pendekatan Eropa. Yaitu, pelaku peran mulai menciptakan perilaku lahiriah dari karakter yang akan mereka perankan. Awalnya, membayangkan cara tokoh tersebut berjalan, berbicara, dan berperilaku. Lalu, aktor bergerak ke dalam dirinya, lapis demi lapis, dan mengembangkan alasan psikologis bagi perilaku orang yang sedang diperankannya.
Dalam arena pengembangan diri, dengan mengubah perilaku eksternal, kita dapat mempengaruhi yang kita rasakan di dalam. Misalnya, jika kita bersikap seolah-olah sedang bahagia, kita bisa meyakinkan bahwa diri kita memang sedang bahagia.

Dalam kaitannya untuk mempertahankan amalan kebaikan yang akan kita bawa dari bulan Ramadhan ke bulan-bulan berikutnya, ada baiknya kita sesegera mungkin melakukan amalan kebaikan itu tanpa ditunda-tunda. Walaupun mungkin secara psikologis belum siap untuk melakukan kebaikan, walaupun kita merasa belum menjadi orang saleh, lakukan saja terlebih dahulu tanpa perlu mempertanyakan apa pun pada diri kita.

BACA JUGA  Inilah Empat Amaliah Pascaramadhan

Jika kita ingin menjadi orang saleh, khususnya di luar bulan Ramadhan, terkadang tidak harus dengan membersihkan hati kita terlebih dahulu, tapi berperilakulah seolah-olah seperti orang saleh. Insya Allah, lama kelamaan hati kita akan mengikuti dan menjadi orang yang saleh dalam arti sesungguhnya, baik secara psikologis maupun perilaku lahiriah kita.

Bila perilaku buruk yang biasanya kita lakukan muncul karena berawal dari kebiasaan kecil dan berangsur-angsur menjadi lebih besar dan menjadi kebiasaan, maka kebiasaan baik pun bisa dimulai dengan melakukan hal-hal yang kecil, dan berangsur-angsur menjadi kebiasaan.

Ada hadits yang menyebutkan bahwa Allah Swt. lebih menyukai amalan yang dawwam, yakni amalan yang kecil namun konsisten dikerjakan setiap hari dan menambah bobotnya sedikit demi sedikit. Bukan amalan yang pahalanya besar, namun jarang dikerjakan. Misalnya, untuk yang belum terbiasa Tahajud di sepertiga malam terakhir, cobalah untuk mengerjakannya hanya tiga rakaat saja, namun konsisten dilakukan setiap hari. Jadi, bukan langsung 11 rakaat tapi hanya seminggu sekali.

Secara psikologis, tips ini juga berefek baik bagi jiwa kita. Artinya, nantinya amalan tersebut tidak akan memberatkan jiwa kita untuk melakukan amalan yang bebannya lebih berat karena porsi penambahannya hanya sedikit namun konsten. Maka, sebelum masuk bulan Ramadhan, tidak ada salahnya sedikit demi sedikit kita mulai menambah amalan harian. Yang tidak biasa shalat Dhuha, maka kerjakanlah walaupun hanya dua rakaat, begitu juga shalat Tahajud walapun hanya tiga rakaat. Hingga nantinya, ketika masuk bulan Ramadhan, kita mulai terbiasa dengan ibadah-ibadah yang porsinya lebih banyak dan cenderung bertahan ketika melewati bulan Ramadhan.

Sering berkumpul bersama orang-orang saleh adalah senjata yang cukup ampuh untuk menjaga amalan kebaikan yang pernah kita lakukan di bulan Ramadhan. Berdiskusi dengan mereka dan saling meminta nasihat kebaikan, niscaya kita akan lebih terjaga dan diingatkan apabila kita tergelincir melakukan sebuah kesalahan. Kita pun akan selalu mendapat dukungan untuk berbuat kebajikan. Tentu kita masih ingat tentang hadits Nabi tentang perumpamaan perbedaaan antara seorang yang bergaul dengan penjual minyak wangi dengan orang yang bergaul dengan pandai besi, bukan?

Intinya, sesegera mungkin dan tanpa perlu ditunda untuk berbuat kebaikan, baik di bulan Ramadhan maupun setelahnya, baik kondisi psikis kita siap ataupun tidak. Lakukan saja, insya Allah hati akan mengikuti dan menjadi saleh dalam arti yang sesungguhnya. Setelah berhasil melakukan amalan kebaikan tersebut, mulailah dengan amalan yang ringan namun konsisten setiap harinya (dawwam) dan tambahlah bobot amalan tersebut dalam skala yang kecil namun konstan. Kemudian, untuk menjaga amalan-amalan tersebut, sering-seringlah berkumpul dengan orang saleh agar tercipta suasan saling mengingatkan. [Ilyas]

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment