9 Langkah “Meramadhankan” 11 Bulan di Luar Ramadhan

shalat

PERCIKANIMAN.ID-  Menarik untuk dicermati, fenomena berlomba memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan yang di lakukan oleh umat Islam, bukan hanya di dalam tapi juga di luar negeri.  Jika dibandingkan, grafik ibadah kaum muslim mengalami kenaikan saat Ramadhan. Hal ini terjadi terjadi tidak lain karena Ramadhan menjanjikan kemenangan bagi setiap orang yang beriman. Setiap orang beriman yang taat beribadah di bulan yang penuh keberkatan ini akan diberikan banyak pahala yang melebihi pahala ibadah di bulan-bulan lainnya.

Di bulan Ramadhan, dibukalah pintu pengampunan bagi yang mau bertobat meraih ampunan dari Allah. Menurut hadits Rasulullah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, terdapat lima keistimewaan dalam bulan Ramadhan. Pertama, bulan yang penuh keberkatan; kedua, dibuka pintu-pintu surga; ketiga, ditutup pintu-pintu neraka; keempat, dibelenggu setan-setan; dan kelima, di dalamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan yang lain. Inilah lima keutamaan yang berusaha diraih kaum muslim di bulan Ramadhan.

Ganjaran yang begitu besar tersebut, tentu saja menjadi penarik yang cukup kuat bagi kaum muslim untuk beribadah. Dengan demikian, wajar kalau kemudian hampir semua kaum muslim akan berlomba-lomba dalam melakukan ritual keagamaan. Bahkan, orang-orang yang paham betul keutamaan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lain niscaya menginginkan agar sebelas bulan lainnya dijadikan Ramadhan. Hal ini seperti diungkapkan oleh hadits, “Sekiranya umatku mengetahui keutamaan-keutamaan yang ada di bulan Ramadhan, niscaya mereka menghendaki agar sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan.” (HR Ibnu Majah)

Namun demikian, apakah bara semangat beribadah tersebut akan juga tetap menyala di sebelas bulan lain selain Ramadhan? Ternyata jawabannya adalah tidak. Kobar semangat itu memudar, kalau tidak bisa dibilang padam sama sekali, setelah Ramadhan usai. Pada satu atau dua bulan pertama seusai Ramadhan, mungkin kobar semangat beribadah tersebut masih menyala. Tapi apakah bara tersebut tetap berkobar di bulan ketiga atau kelima pascar Ramadhan, tidak seorang muslim pun dapat menjamin hal itu.

Pada bulan Ramadhan, hampir di setiap masjid kita melihat penuh sesak jamaah yang hendak melaksanakan shalat. Bahkan, beberapa masjid tidak mampu menampung banyaknya jamaah tersebut hingga terpaksa memasang tenda darurat di halaman. Namun demikian, hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Setelah usai Ramadhan, kita akan melihat kembali sepinya jamaah shalat di masjid.

Pasca Ramadahan, frekwensi ibadah pun akan kembali level semula. Kebanyakan umat Islam akan melakukan ibadah seperti biasa dan mungkin hanya ala kadarnya. Ibadah dilakukan sekadar untuk memenuhi kewajiban kepada Allah Swt. Begitulah seterusnya sampai kembali pkembali datang Ramadhan selanjutnya dan hal ini terus berulang dari tahun ke tahun.

Mengapa hal ini terjadi? Mugkin semua itu disebabkan oleh keinginan mencari jalan pintas dalam mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya. Ya, gaya hidup yang serba instan dan selalu mengambil jalan pintas saat ini nampaknya juga berpengaruh pada cara beribadah umat Islam. Tak heran jika kemudian pada bulan-bulan selain Ramadhan, mereka hanya mengerjakan ibadah wajib atau mungkin tidak beribadah sama sekali. Masya Allah! Itu adalah sebuah kesalahan yang harus segera diperbaiki.

BACA JUGA  Kekuatan (Energi) Alqur'an dan Politisasi

Apakah hal tersebut terjadi pada semua umat Islam? Tentu saja tidak. Hal tersebut terjadi hanya pada sebagian umat Islam yang memang tidak lulus ‘ujian’ Ramadhan. Bagi mereka yang dinyatakan lulus ‘ujian’ Ramadhan, konsistensi ibadah di selain Ramadhan akan tetap terjaga. Mereka akan tetap beribdah secara konsisten baik di bulan Ramadhan maupun sebelas  bulan lainnya. Bagi mereka, berpisah dengan Ramadhan adalah sesuatu yang amat memberatkan hati. Mereka tidak rela harus berpisah dengan siang di bulan Ramadhan yang begitu indah dengan beragam amal kebajikannya. Mereka juga tidak rela harus melepaskan malam di bulan Suci yang begitu harum semerbak dengan hembusan-hembusan nafas ibadah demi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Di saat mayoritas kaum muslim berbahagia dan bersuka cita menjelang satu Syawal, mereka berlinangan air mata. Bukan karena mereka tidak ikut berbahagia menyambut Idul Fitri, namun hal itu lebih dikarenakan kesedihan tatkala harus berpisah dengan bulan suci. Namun demikian, perpisahan (dengan Ramadhan) tidak serta merta membuat kobar ibadah dalam dada mereka memudar. Merekalah hamba-hamba yang berharap agar semua bulan dalam tahun Hijriah adalah Ramadhan dan pada prakteknya mereka meramadhankan sebelas bulan lainnya dengan beribadah secara konsisten, bahkan senantiasa berusaha menaikkan grafiknya.

Nah, kalau mereka saja bisa meramadhankan sebelas bulan di luar Ramadhan, tidak inginkah kita melakukan hal yang sama? Sembilan langkah di bawah ini diharapkan dapat membantu kita dalam mewujudkan nuansa Ramadhan sepanjang tahun.

Langkah 1: Muhasabah

Di sini kita berupaya merenungkan kembali segala amal yang telah kita lakukan. Lakukanlah evaluasi secara total dan kritis terhadap ibadah yang telah kita laksanakan di bulan Ramadhan. Bila kita telah melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap ibadah shaum dan amaliah ramadhan lainnya yang kemudian diikuti dengan usaha perbaikan atas segala kekurangannya, maka selanjutnya semua kita serahkan kepada Allah Swt. Biarlah Allah Swt yang menilai segala upaya maksimal kita dalam beramal dan/muhasabah (evaluasi). Sikap ini harus pula kita iringi dengan khauf dan raja sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Al-ghazali dalam karya monumentalnya, ihya ulumuddin. Di sana ia mengatakan bahwa setelah melaksanakan ibadah puasa dan amalan-amalan lainnya, kita harus menyikapinya dengan dua maqam, yaitu, khauf (khawatir) dan raja (harap). Maksudnya, kita takut kalau-kalau ibadah kita tidak diterima Allah dan berharap kiranya ibadah kita diterima-Nya.

 

Langkah 2: Buatlah Komitmen Bersama Keluarga

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 5 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment