Minta Maaf Seperti Abu Bakar

Silaturahmi Lebaran

PERCIKANIMAN.ID- Sebulan lamanya kita berjihad melawan hawa nafsu. Selepas perjuangan berat, kita akhiri dengan “merayakan” Hari Kemenangan: Idul Fitri. Salah satu cara yang paling umum adalah dengan saling memaafkan sesama Muslim. Kegiatan halal-bihalal merupakan hal yang biasa dilakukan pasca Ramadhan. Akan tetapi, apakah kita benar-benar memaafkan? Ataukah, sekadar formalitas. Banyak yang bilang bahwa memaafkan adalah perkara paling sulit. Semua orang sudah tahu itu, termasuk keutamaan dari memaafkan orang lain. Akan tetapi, kali ini penulis ingin menyoroti hal lain: meminta maaf.

 

Ternyata, meminta maaf pun—bagi sebagian orang sama sulitnya. Akan tetapi, bagi Abu Bakar, meminta maaf adalah perkara serius dan harus dilakukan sungguh-sungguh. Dikisahkan oleh Rabi‘ah bin Ka’ab bin Malik Al-Aslami, bahwa ada dua bidang tanah yang bersebelahan, sebidang tanah milik Abu Bakar dan sebelahnya milik Rabi‘ah. Tanah itu merupakan kebun kurma yang subur. Alkisah, terdapat satu pohon kurma yang tumbuh di perbatasan antara kedua tanah tersebut dan menjadi perselisihan antara Abu Bakar dan dan Rabi‘ah. “Pohon ini milikku, karena berada di atas tanahku,” kata Rabi‘ah. “Tidak,” kata Abu Bakar, “Dia milikku karena berada di atas tanahku.”

 

Keduanya berdebat karena tidak ada yang mau mengalah. Tanpa sengaja, Abu Bakar mengucapkan kata kasar dengan suara keras. Sadar bahwa dirinya telah berlebihan, Abu Bakar menyesal kemudian minta maaf sembari berkata, “Rabi‘ah ucapkanlah kalimat serupa (kata-kata kasar dengan suara keras) agar menjadi balasan yang setimpal bagiku!” Tentu Rabi‘ah menolak. Dia berkata, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali perkataan yang baik.” Abu Bakar kecewa dan meminta Rabi‘ah kembali untuk mengatakan hal serupa. Abu Bakar mengira bahwa kata-kata kasarnya harus dibalas dengan sesuatu yang setimpal pula.

 

Merasa tidak enak dengan ulahnya sendiri, Abu Bakar segera menemui Rasulullah untuk meminta tolong dan pendapat. Mereka berdua pun menghadap Rasulullah hari itu juga. Beliau bertanya, “Wahai Rabi‘ah, ada masalah apa antara engkau dengan Abu Bakar?” Rabi’ah kemudian menceritakan perkara yang menimpa mereka. “Wahai Rasulullah, tadi terjadi begini dan begitu.

 

Lalu, Abu Bakar mengatakan kepadaku sepatah kalimat yang dia sendiri tidak menyukainya. Maka, dia menyuruhku untuk mengucapkan kalimat yang sama kepadanya agar menjadi balasan yang setimpal terhadapnya. Tapi, aku tidak mau,” ungkap Rabi‘ah.

 

BACA JUGA  GNPF MUI Kota Bogor Masih Temukan Perusahaan Suruh Karyawan Muslim Kenakan Atribut Natal

Mendengar penjelasan Rabi‘ah, Rasulullah tersenyum dan bersabda, “Ya, sudah tepat apa yang engkau lakukan. Jangan membalasnya dengan ucapan serupa. Tapi, katakanlah, ‘Semoga Allah mengampuninu, wahai Abu Bakar.’” Kemudian Rabi‘ah pun mengatakan hal serupa, “Semoga Allah mengampunimu, wahai Abu Bakar.” Mendengar nasihat Rasulullah dan perkataan Rabi‘ah, tangis Abu Bakar pecah, dia bergegas merangkul Rabi‘ah dan kembali meminta maaf. (Disarikan dari Hadis Riwayat Ahmad). Uniknya, sengketa pohon kurma sama sekali sudah mereka lupakan.

 

Abu Bakar dan Rabi‘ah merupakan pribadi yang patut kita contoh. Bagaimana tidak, seorang Abu Bakar yang begitu terkenal dengan keluhuran imannya tak segan untuk minta maaf tatkala berbuat lalim. Bahkan, dia melakukannya dengan segera tanpa perlu menunggu momen Idul Fitri. Tak cuma itu, Abu Bakar malah meminta Rabi‘ah untuk membalasnya dengan perlakuan setimpal. Sikap yang ditunjukkan oleh Rabi‘ah pun tak kalah mulia. Dia tidak ingin membalas saudaranya dengan perkataan kasar, meskipun disuruh oleh Abu Bakar. Dia tidak ingin melukai perasaan Abu Bakar, meskipun dia dilukai oleh perkataan kasar.

 

Nasihat yang diajarkan oleh Rasulullah juga sama-sama mengandung budi pekerti yang luhung. Alih-alih membalas perkataan kasar yang setimpal, kita malah dianjurkan untuk mendoakan mereka. Sungguh luar biasa. Kita melihat bagaimana Islam mendidik umatnya untuk senantiasa rukun dan saling memaafkan. Inilah sepenggal kisah tentang bagaimana permohonan maaf dilayangkan begitu sungguh-sungguh. Juga, tentang seorang yang begitu berlapang dada memaafkan orang lain.

 

Melalui momen Ramadhan dan Lebaran ini, marilah kita sungguh-sungguh ketika minta maaf, termasuk bersedia memaafkan orang lain. Sebagaimanya disunggung dalam Al-Baqarah (2) ayat 237 bahwa sifat pemaaf mendatangkan ketakwaan. Lalu, diperkuat dengan firman Allah dalam Ali ‘Imran (3) ayat 133-134, “Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan dapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa, yaitu orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalah­an orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” [Iqbal]

(Visited 2 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment