Lebaran, Mengapa Harus Baju Baru?

Silaturahmi Lebaran

PERCIKANIMAN.ID – Lebaran sudah hampir tiba. Sudah bisa dipastikan kaum Muslim bersiap-siap menyambut hari kemenangan itu. Mulai dari menyiapkan kue-kue untuk menjamu tamu, memperbagus rumah, sampai mempersiapkan baju baru untuk keluarga.

Ya, memang itu kenyataannya. Menjelang hari raya Idul Fitri, biasanya kita disibukkan dengan hal-hal yang bukan bersifat ruhiah, tetapi lebih ke persiapan duniawi. Di ujung bulan Ramadhan, perhatian kita bukan lagi pada berlomba-lomba memperbagus ibadah karena Ramadhan sudah akan berakhir, tetapi malah berlomba memperbagus tampilan agar tidak “malu-maluin” saat ada saudara yang bersilaturahmi ke rumah, atau saat kita bersilaturahmi ke rumah saudara.

Apakah salah? Salah, jika kita lebih memilih membeli baju baru dibandingkan tarawih. Salah, jika kita memboroskan THR yang tidak seberapa, bahkan ada yang berani berutang, demi tampil lebih bergengsi. Salah, jika tujuan kita melakukan itu sekadar untuk membangga-banggakan “capaian dan prestasi” kita.

“Mengenakan baju baru saat Lebaran hukumnya wajib!” Acungkan tangan jika Anda setuju. Sebagaimana tradisi yang diajarkan orangtua kita, dan akan kita ajarkan juga kepada anak-anak kita, mengenakan baju baru saat Lebaran adalah keharusan. Tidak bisa tidak.

Ya, itulah budaya di negara ini. Dari mana contohnya? Tidak ada. Semua sebatas tradisi. Rasanya kurang afdol kalau merayakan hari raya tanpa baju baru. Maka, tak heran jika makna Lebaran pun menjadi melenceng. Diakui atau tidak, Lebaran sudah menjadi ajang pamer kemewahan.

Herannya, sebagian besar di antara kita memaklumi hal itu. Alasannya, kan cuma setahun sekali, tidak ada salahnya. Dalihnya, bukankan Lebaran artinya kembali bersih, kembali pada kesucian, jadi tidak ada salahnya kalau saat Lebaran kita memulainya dengan baju baru yang pastinya bersih dan suci. Hmmm, berarti secara tidak langsung, orang yang tidak mengenakan baju baru saat Lebaran tidak suci atau tidak bersih?

Bukan bermaksud mendebat orangtua yang membelikan baju baru untuk anak-anaknya saat Lebaran. Hanya saja, dikhawatirkan tradisi ini akan terus menempel pada anak-anak kita sebagaimana kita tidak bisa melepaskan diri dari tradisi yang sudah ditanamkan kuat oleh orangtua kita dahulu.

Mari kita mulai mengubah paradigma. Jangan sampai, anak-anak kita kelak mengulangi apa yang telah mendarah daging dalam diri kita. Mari, mulai untuk berubah demi masa depan kita dan anak-anak kita agar menjadi lebih baik.

BACA JUGA  Memahami Kembali Makna Idul Fitri

Mulailah perubahan dari diri kita. Perlihatkan teladan kepada anak-anak kita. Mulailah dari hal-hal yang sederhana.

Pertama, tanamkan kepada anak-anak kita pemahaman makna Idul Fitri yang sebenarnya. Jadikan itu sebagai bekal agar mereka tidak merasa rendah diri atau malu saat kawan-kawannya mengolok-olok karena mereka tidak memakai baju baru.

Mulai Idul Fitri sekarang, kita coba untuk tidak membeli baju baru dan “hanya” mengenakan baju yang masih bersih dan rapi sebagai permulaan untuk memberikan pengertian kepada anak-anak kita.

Kedua, kita mungkin bisa memahami kondisi orangtua kita dahulu. Pendapatan mereka mungkin pas-pasan sehingga hanya mampu membelikan anak-anaknya baju baru setahun sekali, yaitu saat lebaran saja. Insya Allah, saat ini kondisi keuangan kita lebih baik. Sehingga, bukan tidak mungkin Anda bisa membelikan baju baru untuk mereka dua bulan atau tiga bulan sekali. Maksudnya, jangan Anda membiasakan membelikan baju baru pada anak dalam perayaan tertentu saja. Jangan baru membelikan mereka baju baru saat ada keluarga yang menikah, misalnya. Akan tetapi, jadikan itu sebagai rutinitas sehingga saat ada acara atau perayaan apa pun baju yang hendak dikenakan sudah tersedia.

Ketiga, bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan ampunan. Setiap pahala akan dilipatgandakan. Sehingga, kalau memang pada bulan-bulan lain kita “lupa” melakukan sedekah, pada bulan inilah saat yang tepat untuk memulainya. Ajak anak-anak kita saat melakukan sedekah. Beri pengertian kepada mereka bahwa masih banyak orang yang lebih tidak beruntung dan memerlukan uluran tangan kita. Berikan pengertian bahwa bersedekah jauh lebih bermakna dibandingkan membeli baju buat Lebaran.

Lebaran memiliki makna yang sangat dalam. Pada hari itu, umat Muslim merayakan kemenangan karena telah mampu melewati sebulan penuh berpuasa dan melawan hawa nafsu. Jadikanlah Lebaran sebagai permulaan tekad dan upaya kita memperbaiki akhlak untuk menghadapi 11 bulan yang akan datang. Jangan mengedepankan simbol-simbol lahiriah sebagai tujuan, yang pada akhirnya malah membawa pada kesombongan.

[Dini, dari berbagai sumber]

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment