Saat Mudik, Sebaiknya Puasa atau Berbuka Saja?

Mudik lebaran sepeda motor

Setiap menjelang Lebaran, saya mudik ke kampung halaman yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal saya (kira-kira jaraknya delapan jam perjalanan dalam kondisi normal). Beberapa orang menyarankan saya untuk berbuka karena ada keringanan bagi orang yang safar. Namun, saya keukeuh berpuasa karena sayang kalau harus mengorbankan pahala Ramadhan. Menurut Ustadz, apa yang sebaiknya saya lakukan? Berbuka saja atau tetap berpuasa selama perjalanan mudik?

Salah satu keringanan shaum Ramadhan adalah bolehnya membatalkan shaum karena sakit dan bepergian dengan kewajiban menggantinya pada bulan-bulan berikutnya. Berdasarkan pada Surah Al-Baqarah (2) ayat 185 berikut,

“Barang siapa sakit atau dalam perjalanan, maka boleh ia mengganti puasa di hari-hari lain”
Substansi rukhsah dalam shaum adalah meniadakan kemudaratan bagi yang melaksanakannya karena adanya alasan. Jika kemadaratan itu dipandang tidak signifikan ketika tetap melaksanakannya, maka rukhsah itu menjadi pilihan, boleh mengambilnya atau tidak. Masalah yang muncul, mana yang lebih utama, mengambilnya atau tidak mengambilnya? Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.

Imam Hanafi dan Imam Syafi‘i mengatakan puasa lebih utama dengan berpegang pada ayat tadi. Imam Maliki mengatakan mubah, sama hukumnya antara meninggalkan atau berpuasa. Sementara, Imam Hambali mengatakan sunnah tidak puasa dan makruh berpuasa dengan berpegang kepada kedua hadis berikut:

“Rasulullah Saw. suatu hari bepergian bersama para sahabatnya pada waktu penaklukan kota Makkah. Mereka berpuasa hingga sampai wilayah Kurra’ Ghamim, lalu seorang sahabat mengadu kepada beliau bahwa sebagian sahabat sangat menderita dengan berpuasa, tetapi mereka masih menunggu perintah beliau. Lalu, Rasulullah memerintahkan agar didatangkan air dan beliau meminumnya selepas Asar. Para sahabat melihat apa yang beliau lakukan, sebagian ikut minum dan sebagian tetap berpuasa. Ketika berita itu sampai kepada beliau, beliau mencela mereka yang tetap berpuasa bahwa mereka telah durhaka.” (H.R. Muslim dan yang lainnya).

Lalu, hadis berikut ini. Rasulullah Saw. bersabda, “Puasa dalam perjalanan tidak mendapatkan pahala.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

BACA JUGA  Anak TK Tidak Boleh Diajari Calistung, Ini Alasan

Dalam hemat saya, untuk menentukan antara shaum atau tidak, kembalikan pada penilaian masing-masing. Jika dipandang masih kuat dan kemudaratannya kecil, maka shaum lebih baik untuk menjaga kemungkinan berat atau ada gangguan untuk menggantinya di kemudian hari. Jika ternyata dalam perjalanan, shaum dirasa berat, maka lebih baik berbuka. Wallahu a’lam.

 

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 3 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment