MenggaliI Esensi Mudik

tradisi mudik

Tradisi mudik Lebaran telah menjadi ritual sosial bagi umat muslim di Indonesia, tidak peduli dari golongan kaya atau miskin. Berbagai motivasi turut menyertai peserta mudik Lebaran, seperti rindu kampung halaman, sungkem kepada orangtua, silaturahmi dengan sanak saudara, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Mudik juga dapat dipandang sebagai bentuk kearifan lokal yang tidak terbatas pada golongan tertentu. Bahkan, seorang sosiolog Jerman, Andre Moller, dalam buku Ramadan di Jawa (2002) pernah berkomentar bahwa tradisi mudik sebagai fenomena khas dan unik yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia dalam menyambut datangnya Idul Fitri.

Sebenarnya, mudik bukan hanya terdapat di Indonesia. Berdasarkan penelusuran sejarah, mudik merupakan kebiasaan masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu kala (prasejarah). Menelusuri sejarah manusia Indonesia yang merupakan keturunan Melanesia yang berasal dari Yunnan (China) kita akan mengetahui bahwa nenek moyang kita sejak dahulu kala dikenal sebagai bangsa pengembara. Mereka mengembara ke seluruh daerah untuk mencari sumber penghidupan. Setelah menemukan tempat yang cocok untuk mengembangkan pertanian maupun peternakan, mereka pun menetap di daerah tersebut.

Seperti layaknya manusia yang memiliki kerinduan terhadap sanak saudara, manusia prasejarah juga memiliki momentum tertentu untuk kembali ke daerah asalnya. Kegiatan seperti ritual penyembahan terhadap arwah nenek moyang menjadi alasan mereka kembali ke tanah leluhur. Pada bulan-bulan tertentu yang dianggap baik, mereka berbondong-bondong meninggalkan rumah untuk kembali ke tanah asalnya. Karena saat itu agama belum berkembang, animisme dan dinamisme menjadi latar belakang kegiatan mudik ini.

Semenjak masuknya Islam ke Indonesia, mudik juga mengalami perubahan, baik motif maupun momentumnya (Idul Fitri). Mudik adalah sarana untuk berkumpul bersama keluarga serta silaturahmi dengan kawan serta kerabat. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa orang yang rajin bersilaturahmi akan dimudahkan rezekinya oleh Allah Swt. serta dimudahkan urusannya.
Seiring berjalannya waktu, mudik seakan telah menjadi ritus budaya yang sedemikian mentradisi dalam masyarakat kita. Dari segi ritus budaya, mudik biasanya ditandai dua hal. Pertama, mudik menjadi kebutuhan primer tahunan masyarakat urban. Kedua, walaupun memiliki korelasi waktu dengan Idul Fitri yang notabene adalah ritual Islam, mudik juga melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat, termasuk nonmuslim.

Tradisi mudik dijadikan sebagai wahana klangenan atau “jembatan nostalgia” dengan masa lalu. Pemudik yang rata-rata berasal dari desa, diajak bercengkerama dengan romantisme alam pedesaan, yang dalam konsep antropologi dikenal dengan sebutan close coorporate community. Ya, mereka merindukan nilai-nilai kebersamaan alamiah yang sudah jarang ditemui di kota karena ketatnya persaingan memburu ‘status’.

Nah, untuk lebih memahami makna Idul Fitri secara benar, ada baiknya kita mengkaji kembali makna Idul Fitri yang sesungguhnya. Dalam Islam, kita punya dua istilah ‘id, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. ‘Id berasal dari bahasa Arab dari akar kata ‘ada yang artinya kembali. Secara etimologis, Idul Fitri berarti kembali berbuka dan bukan kembali ke fitrah. Di sini, perlu adanya pelurusan pemahaman tentang al-fitr. Selama ini, Idul Fitri diartikan sebagai kembali ke fitrah. Sebenarnya, yang tepat adalah kembali berbuka. Kata fitr di sini berbeda dengan fitrah. Fitrah memakai ta’ marbutah, sedangkan al-fitr dalam kata Idul Fitri tidak memakai ta’ marbutah.

Tetapi, apa pun makna dasarnya, istilah Idul Fitri bagi kita adalah mengungkapkan suatu kegembiraan setelah kurang lebih satu bulan melaksanakan shaum di siang hari dan kembali seperti biasa makan, minum, dan berhubungan seks di siang hari. Bagi pemudik, hendaknya Idul Fitri dimaknai sebagai kembali ke kampung halaman rohani. Dengan demikian, yang harus mudik itu sesungguhnya bukan melulu kebutuhan biologis. Substansi dari Idul Fitri adalah pulang ke kampung halaman rohaninya. Artinya, kembali ke hati nurani.

Selain itu, momentum Idul fitri harus menjadi langkah awal kita dalam mengimplementasikan segala latihan atas ibadah-ibadah yang telah dilakukan selama Ramadhan. Langkah awal ini harus dimanfaatkan sebagai ujung tombak kehidupan yang lebih baik. Pencerahan dan kekuatan iman yang telah tertempa selama Ramadhan hendaknya membuahkan istiqamah di jalan Allah pada hari-hari berikutnya di luar Ramadhan.

Idul Fitri merupakan hari kemenangan. Tapi bukan kemenangan untuk setiap muslim, melainkan kemenangan untuk muslim yang sungguh-sungguh menjalankan ibadah shaum di bulan Ramadhan. Kemenangan di sini tidak sepatutnya diartikan sebagai pembebasan. Bebas kembali menebar hawa nafsu, bebas makan minum setiap saat, atau bebas menggunakan harta yang dimiliki. Bukan itu arti di balik kemenangan karena sesungguhnya kemenangan bukanlah kebebasan. Kemenangan adalah pembebasan diri dari tunduknya hati selain kepada Allah. Idul fitri merupakan kemenangan yang harus diisi dengan segenap cara yang suci agar medali kemenangan yang telah diraih tidak kandas di tengah jalan.

Semoga mudik tahun ini akan penuh dengan kisah sarat makna yang akan membangun pribadi kita menjadi lebih matang dari sebelumnya. Selamat mudik!

(Visited 10 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment