THR Membuat Anak Konsumtif?

amplop thr

Oleh : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Istilah THR yang akan saya bahas ini bukan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk orang dewasa, melainkan THR Lebaran untuk anak-anak, yang teman-teman Tionghoa sering menyebutnya sebagai angpao.

Anda tentu pernah bagi-bagi THR untuk anak-anak. Pengalaman yang seru, kan? Ada yang membagikannya dengan amplop tertutup, ada juga yang membagikannya begitu saja dengan uang receh 2 ribu, 5 ribu, 10 ribu, 20 ribu, atau bahkan ada yang 50 ribu atau 100 ribu.

Membagi kebahagiaan atau membuat anak-anak senang dengan membagi-bagi THR tentu saja boleh. Namun, yang mesti diingat adalah jangan sampai anak-anak yang menerima THR tak sengaja dibuat menjadi konsumtif oleh kita. Sebaiknya, bagi-bagi THR untuk anak bisa dibuat lebih bermanfaat untuk kepentingan anak, alih-alih membuat mereka jadi konsumtif, apalagi untuk anak-anak yang tidak dilatih mengelola uang. Seperti apa caranya?

Sebelumnya, mari kita perhatikan dulu perbedaan aksi yang dilakukan anak-anak dengan THR yang mereka terima, antara yang diajarkan pendidikan keuangan dengan yang tidak.

kalender percikan iman 2018

Perbedaan Pertama:

Cara Menghabiskan Uang
Anak-anak yang dilatih mengelola uang tidak akan begitu saja menghabiskan uang. Meskipun sebagian kecil uang mereka akan tetap mereka belikan snack (namanya juga anak-anak), sebagian lainnya akan mereka simpan untuk memenuhi keinginan mereka di waktu lainnya.
Berbeda dengan anak yang belum dilatih mengelola uang. Saat lebaran, uang yang mereka terima begitu banyak tetapi tidak bertahan lama. Mungkin hanya 1-2 pekan atau mungkin hanya beberapa hari.

Bagi anak yang belum dilatih mengelola uang (baca tulisan saya, “Uang Saku & Perilaku Konsumtif Anak”), uang beberapa puluh atau beberapa ratus ribu yang mereka terima yang jumlahnya jauh lebih banyak dari yang mereka dapat di keseharian mereka, bisa membuat mereka mengalami “money shock” (jangan dibalik, lho). Begitu euphoria-nya mereka dengan uang yang jumlahnya tak biasa itu, sehingga dengan mudahnya uang itu habis untuk dibelikan mainan, jajanan, makanan, dan hal lain yang mereka sukai. Hanya sedikit yang disimpan atau ditabung untuk kepentingan jangka panjang.

Ini mirip para Tenaga Kerja Wanita (TKW) atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang saya temukan di berbagai daerah di Pantura.

Lebaran tahun lalu, saya mengunjungi salah satu bibi (adik ayah saya) di Indramayu. Berceritalah beliau dengan panjang lebar tentang keluarga, termasuk fakta bahwa daerah tersebut adalah salah satu “pengekspor” TKI terbanyak di Indonesia (menurut data BNP2TKI, Jawa Barat adalah penyuplai TKI terbesar di tingkat provinsi. Sedangkan, Indramayu termasuk salah satu kabupaten terbesar pengirim TKI di Jawa Barat, selain Sukabumi).

Di Indramayu, para TKI ini biasanya paling banyak berasal dari daerah Kandanghaur atau Haurgeulis. Pun tak tanggung-tanggung, 3 keluarga yang masih ada hubungan kerabat dengan saya juga “mengekspor” anak-anaknya menjadi TKI. Ada yang ke Arab Saudi, ke Malaysia, dan ada pula yang ke Hongkong. Bahkan, salah satu kerabat saya itu pernah mengirim 3 anaknya jadi TKI sekaligus untuk mengubah nasib; 1 laki-laki dan 2 perempuan.

Para TKI ini, saat masih bekerja, biasanya mengirim uang dalam jumlah besar ke keluarganya di kampung. Demikian juga saat pulang. Beberapa tahun setelah pulang, hidup mereka seolah-olah “berubah”. Namun, perhatikan 5 atau 10 tahun kemudian. Apakah mereka benar-benar berubah menjadi keluarga sejahtera secara fisik? Atau justru kembali ke kehidupan sebelum mereka menjadi TKI? (Secara fisik, ya, karena jika diukur kesejahteraan secara batin tentu sangat relatif). Dari fakta yang saya temukan, sebagian besar dari mereka kembali ke kehidupannya semula. Tentu tidak semua, tapi hanya sedikit yang mengalami perubahan nasib ke arah lebih baik. Mengapa para TKI yang “menggondol” uang banyak itu tak berubah nasibnya?

Biang keroknya adalah mereka tidak memiliki kemampuan dalam mengelola sumber daya keuangan sehingga cenderung berperilaku konsumtif. Saat mereka pulang, yang tetap bertahan perubahannya hanyalah bentuk rumah mereka yang lebih baik. Lainnya? Nyaris tak tersisa.
Saat pulang, tak jarang para TKI menggunakan uang yang mereka dapat untuk membeli motor baru, rumah baru, perabotan baru. Hanya sedikit yang dibelikan sawah, sapi, atau modal usaha baru agar mereka memiliki sumber penghasilan baru.

Fakta saya ini juga ditemukan oleh Migrant Care (migrantcare.net). Para TKI yang sudah pulang atau keluarga yang mendapat kiriman uang dari TKI, tidak menggunakan dana tersebut untuk kegiatan yang produktif. Justru ada kecenderungan kiriman uang tersebut dipakai untuk hal-hal konsumtif, seperti merenovasi rumah, membeli mobil atau motor yang sebenarnya tidak mendesak.

Wuryanto (34), tokoh Desa Lembah, Kabupaten Ponorogo, mengatakan bahwa seorang TKI bisa langsung membeli mobil baru seharga di atas Rp 100 juta saat pulang ke desa. “Namun, tidak sampai dua bulan, mobil sudah dijual kembali pada saat dia akan kembali bekerja ke luar negeri. Jadi, intinya hanya untuk jor-joran saja,’’ katanya sambil menambahkan bahwa cara berpakaian warga yang sudah menjadi TKI pun menjadi berubah total.

Perbedaan Kedua:

Penghargaan Terhadap Nilai Uang

Saya melakukan uji coba terhadap puluhan anak, keponakan, kemenakan, dan anak-anak lainnya saat momen Lebaran di kampung tahun lalu. Lebaran sebelumnya, saya bagikan uang begitu saja pada mereka secara terbuka, gopek rebu, yang agak besar cepek rebu. Tentu saja, mereka riang gembira menerimanya. Apalagi anak-anak kampung yang masih kerabat saya ini jarang sekali menerima uang dalam jumlah sebesar itu dari orangtuanya.

Namun, lebaran kali ini, saya melakukannya dengan cara yang berbeda. Saya tawarkan kepada mereka dengan sengaja memberikan pengumuman, “Siapa yang mau THR?” teriak saya. Seketika anak-anak kerabat ini menyerbu mendekati saya, “Mau, mau, mau!”

Lalu, saya memperlihatkan isi dompet saya. Ada yang merah, biru, hijau, dan abu. Lalu, saya mengeluarkan satu lembar uang dengan nol tiga di belakang angka 2. Spontan mereka tertawa dan mengejek, “Yah, payah! Masak cuma Rp.2.000,-?”, “Buat apa Rp.2.000,-?” canda yang lain. “Ah, pelit. Masak Rp.2.000,-?” dan seterusnya. Tak ada satu pun anak yang mau menerima. Lalu, saya tawarkan berkali-kali, tapi tetap tak ada yang mau terima. Anak-anak kampung ini ternyata menolak uang Rp.2.000,- yang saya tawarkan.

Lalu, saya coba tawarkan kepada 3 anak saya yang sudah agak besar. Ternyata, anak-anak saya malah berebut uang Rp.2.000,- itu. Padahal, anak-anak saya terbiasa menerima uang agak besar (karena diberi uang bulanan sekaligus). Tapi, mereka tetap menghargai uang kecil itu.
Bagi anak-anak saya, uang Rp.2.000,- itu sangat berharga seperti halnya tak mudah bagi mereka menghabiskan uang Rp.2.000,- tersebut. Anak-anak saya biasanya akan berpikir berkali-kali untuk menghamburkan uangnya. Sebab, dalam kesehariannya, mereka sudah melakukan perencanaan kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek biasanya dibelikan snack dan jangka panjang mereka pakai untuk kebutuhan mainan, buku, atau bekal membeli cinderamata saat liburan panjang.

Saya tidak pernah menjelaskan soal teori kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang ini pada anak-anak. Tapi, secara otomatis mereka memiliki kemampuan untuk mempelajarinya jika kita memberi mereka kesempatan untuk mengelola uangnya sendiri tanpa intervensi berlebihan dari kita, orangtuanya.

Anak-anak yang dilatih soal keuangan akan menghargai uang secara lebih bijak meski mereka berkecukupan. Insya Allah, mereka tidak akan mudah menderita karena kekurangan uang. Sebaliknya, anak-anak yang tidak dilatih mengelola uang akan dengan mudahnya menghamburkan uang pada saat berkecukupan dan akan lebih mudah merasa menderita saat berada dalam kondisi kekurangan uang.

Boleh saja bagi-bagi THR pada anak-anak kerabat. Tetapi, jika boleh usul, jika kita tahu anak-anak ini belum terlatih mengelola uang, berikan saja THR berupa bingkisan atau barang yang dapat digunakan secara jangka panjang, seperti alat-alat sekolah, kerudung, atau sandal. Tidak harus selalu yang mahal, tetapi ini bisa jadi jauh lebih bermanfaat untuk anak-anak.

(Dinukil dari buku “Mengajarkan Kemandirian kepada Anak”)

(Visited 5 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment