Hal Yang Membatalkan I’tikaf

Itikaf

PERCIKANIMAN.ID – – Pada 10 hari terakhir Ramadhan kaum muslimin akan mempersiapkan diri untuk menjemput malam Lailatul Qadar. Kaum musliminin banyak yang meyakini bahwa malam Lailatul Qadar akan turun pada malam ganjl di 10 hari terakhir Ramadhan yang dimulai sejak malam ke-20 hingga ke 29 atau 30 Ramadhan.

Untuk menjemput Lailatul Qadar ummat Islam dianjurkan atau disunnahkan untuk melakukan I’tikaf. I’tikaf artinya berhenti (diam) di dalam masjid dengan syarat-syarat tertentu, semata-mata niat beribadah kepada Allah. I’tikaf sunnah dilakukan setiap waktu, tetapi yang paling utama (afdhal) jika dilakukan dalam bulan Ramadhan. I’tikaf pada bulan Ramadhan bisa dikatakan sebagai ruang perawatan khusus untuk menghilangkan kanker dosa dari dalam hati. I’tikaf merupakan lingkungan khusus yang jauh dari noda dan kotoran dunia.

donasi perpustakaan masjid

Dalam beberapa  hadits diterangkan hingga akhir hayatnya Rasulullah Saw selalu melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Kemudian pada tahun di mana beliau meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari. Ketika beliau tidak bisa i’tikaf, beliau kemudian menggantinya dengan I’tikaf sepuluh hari pertama di bulan Syawal. Tindakan Rasulullah itu merupakan bukti pentingnya ibadah i’tikaf. Kesungguhan Rasulullah untuk mengerjakan ibadah yang satu ini juga bisa menjadi motivasi bagi kita untuk melakukan hal yang sama.

Namun sebaiknya kita juga harus mengetahui hal-hal yang dapat membatalkan aktivitas I’tikaf ini. Seperti dikutip dari republika.co.id  berikut ini hal-hal yang dapat membatalkan i’tikaf seseorang bila melakukan yang ini:

  1. Murtad

Menurut Al-Kubaisi i’tikaf akan menjadi batal karena murtad. Sebab, i’tikaf merupakan salah satu bentuk ibadah yang dilakukan seorang Muslim, sedangkan orang kafir bukan termasuk ahli ibadah. Allah SWT berfirman:

‘’… Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalanmu, dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’’ (QS Az-Zumar: 65)

Menurut Al-Kubaisi, bila orang yang murtad itu kembali memeluk Islam, maka tak ada kewajiban untuk mengqadha i’tikafnya, sebagai kemudahan baginya agar lebih tertarik kepada Islam. ‘’Itulah pendapat mazhab Hanafi dan Maliki,’’ ujarnya.

Mazhab Syafi’i dan Hambali memiliki pendapat yang berbeda.  Bila i’tikaf yang dilakukannya adalah i’tikaf nazar, lalu orang tersebut murtad di antara waktu i’tikaf itu, maka batallah i’tikafnya. Namun, jika kembali masuk Islam, maka wajib mengqadhanya.  Mazhab Hambali berpendapat, i’tikaf seseorang mejadi batal jika orang tersebut murtad. Namun, jika kembali masuk Islam makaharus memulai i’tikaf dari pertama lagi dengan niat dan i’tikaf yang baru.

  1. Berhubungan suami istri.

Para ulama sepakat bahwa bersetubuh dengan sengaja termasuk larangan bagi bagi orang yang sedang i’tikaf. Jika orang yang i’tikaf bersetubuh maka batallah i’tikafnya. ‘’Baik perbuatan (bersetubuh) itu  dilakukan di dalam ataupun di luar masjid, baik dilakukan pada siang maupun malam hari,’’ tutur Al-Kubaisi.Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT:

’… dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri), sedang kamu ber i’tikaf dalam masjid..’’ (QS Al-Baqarah [2]: 187).

Menurut Al-Kubaisi, jika melihat asbabul nuzulnya, ayat tersebut merupakan teguran Allah bagi mereka yang sedang i’tikaf, tapi masih suka keluar masjid dan menggauli istrinya.

  1. Nifas dan haid.

Seluruh ulama mazhab bersepakat bahwa haid membatalkan i’tikaf. Seorang wanita yang sedang i’tikaf di dalam masjid lalu mengalami haid, maka harus keluar dari masjid. Kemudian menetap di rumahnya hingga haidnya selesai. ‘’Setelah itu bisa kembali ke masjid dan melanjutkan i’tikafnya,’’ papar Al-Kubaisi.

Batalnya i’tikaf karena haid disebabkan haid adalah salah satu penyebab dilarangnya seseorang mentap di dalam masjid. Hal itu didasarkan pada hadis Rasulullah SAW, ‘’Tidaklah masjid itu dihalalkan bagi wanita yang haid, dan tidak pula bagi yang dalam keadaan junub.’’

Meski begitu ada pula yang berpendapat berbeda. Ahli zhaahir (mereka yang tak sepakat dengan mayoritas ulama) menyatakan wanita haid boleh memasuki masjid dan menetap di dalamnya hingga menyelesaikan masa i’tikafnya. Menurut pandangan mereka haid bukan penyebab batalnya i’tikaf.

  1. Keluar dari tempat i’tikaf.

Para ulama sepakat bahwa orang yang beranjak dari tempat i’tikaf dan keluar dari tempat i’tikaf bukan karena sebab-sebab darurat, maka batallah i’tikafnya.

Bagi Anda yang sedang I’tikaf di masjid tentu harus memperhatikan hal-hal tersebut. Semoga kita mendapat keberkahan di bulan Ramadhan khususnya saat 10 hari terakhir. Aamin. [ ]

Al Muasir 1a

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

(Visited 2 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment