Tata Cara Shalat Idul Fitri

shalat idul fitri

Shalat Idul Fitri dilaksanakan pada satu Syawal. Shalat ini merupakan penutup rangkaian ibadah shaum Ramadhan. Idul Fitri artinya kembali pada kesucian. Ini ungkapan harapan bahwa shaum Ramadhan yang baru dituntaskan bisa memulihkan kefitrahan (kesucian) kita yang selama setahun telah ternoda dosa dan maksiat. Hukum shalat ini adalah sunah muakad.

Bahkan, saking utamanya shalat tersebut, sebagian ulama mengatakan hukumnya fardu ‘ain.
Idul Fitri merupakan hari raya Islam. Artinya, hari yang harus diisi dengan kebahagiaan. Pelaksanaan hari raya ini dapat kita bagi menjadi dua bagian. Pertama, yang berkaitan dengan tradisi. Bagian ini tidak diatur secara rinci dalam Al-Qur’an maupun sunah, jadi semua dikembalikan pada kebiasaan masing-masing, yang penting tradisi tersebut tidak mengandung kemungkaran. Kedua, bagian yang ada kaitannya dengan peribadatan. Bagian ini diatur secara rinci dalam sunah Rasulullah Saw.

iklan donasi pustaka2

Beberapa hal sunah yang dicontohkan Rasulullah Saw. saat akan melaksanakan shalat Idul Fitri, yaitu sebagai berikut.

Mandi Besar
Disunahkan mandi besar sebelum berangkat ke tempat shalat Idul Fitri. Ibnu Umar, seorang sahabat yang selalu mencontoh Rasulullah dalam semua hal yang beliau lakukan, mandi sebelum berangkat shalat Ied. “Ibnu Umar r.a. mandi pada hari Fitri sebelum berangkat ke lapangan.” (H.R. Baihaqi)

Sarapan Sebelum Shalat
Sebelum berangkat ke tempat shalat, disunahkan sarapan. Rasulullah Saw. mencontohkan hal ini karena selama sebulan, perut kita sudah terbiasa diisi makanan saat sahur. Jika tiba-tiba dihentikan, khawatir perut akan kaget sehingga menimbulkan masalah kesehatan. Inilah hikmahnya mengapa disunahkan sarapan sebelum shalat Idul Fitri.
Anas bin Malik r.a. berkata, “Rasulullah Saw. tidak berangkat pada hari raya Fitri sebelum memakan beberapa butir kurma dan memakannya dalam bilangan ganjil.” (H.R. Bukhari)

Mengenakan Busana Terbaik
Pada hari raya Idul Fitri, kita diperintahkan untuk memakai pakaian terbaik dan memakai wangi-wangian terbaik. Ibnu Abbas r.a. berkata, telah bersabda Rasulullah Saw., “…Jika kalian memiliki minyak wangi, hendaknya kalian memakainya…”
Sebuah riwayat menyebutkan, “Rasulullah Saw. memakai burdat hibarat (kain indah buatan Yaman) pada setiap hari raya.” (H.R. Baihaqi)

Shalat di lapangan
Shalat Idul Fitri dilakukan di lapangan. Namun, jika tidak memungkinkan, misalnya hujan, boleh dilakukan di masjid. Abu Sa’id al-Khudriy r.a. berkata, “Rasulullah Saw. keluar menuju mushala pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. Yang pertama beliau kerjakan adalah shalat.” (H.R. Bukhari)

Abu Hurairah r.a. berkata, “Pernah mereka kehujanan pada hari Ied, lalu Rasulullah Saw. shalat Ied bersama mereka di masjid.” (H.R. Baihaqi)

Menuju Lapangan dengan Jalan Kaki
Jalan kaki menuju lapangan tempat shalat hukumnya sunah. Ibnu Umar r.a. berkata, “Rasulullah Saw. berangkat shalat Ied dengan berjalan kaki; demikian pula waktu kembalinya.” (H.R. Ibnu Majah)

Walaupun begitu, bukan berarti dilarang ketika kita pergi untuk shalat Ied naik kendaraan. Hal ini tidak akan mengurangi nilai shalat Ied. Jalan kaki menuju lapangan adalah keutamaan, bukan kewajiban. Ali bin Abu Thalib r.a. pernah berkata, “Termasuk sunah mendatangi shalat Ied dengan jalan kaki dan pulang dengan berkendaraan.” (H.R. Baihaqi)

Mengambil Arah Jalan yang Berbeda
Jika memungkinkan, sunah hukumnya kita mengambil arah jalan yang berbeda ketika pergi shalat Ied dan kembali ke rumah. Namun, jika tidak memungkinkan, menempuh jalan yang sama pun tidak dilarang dan tidak akan mengurangi nilai ibadah shalat Ied. Ini pun hanya merupakan keutamaan. Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah Saw. berangkat shalat Ied dan kembali menggunakan jalan lain yang berbeda dengan jalan semula (jalan ketika beliau berangkat).” (H.R. Ibnu Khuzaimah)

Wanita Haid Boleh Hadir di Lapangan
Wanita haid boleh hadir di lapangan untuk menyimak khutbah Idul Fitri, tetapi mereka tidak boleh shalat. Ummu ‘Athiyyah r.a. berkata, “Rasulullah Saw. memerintahkan kami membawa anak-anak perempuan yang hampir balig, yang haid, dan anak-anak perempuan yang masih gadis pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Namun, perempuan-perempuan haid tidak shalat.” (H.R. Muslim)

Bertakbir pada Hari Raya
Setelah selesai melaksanakan shaum Ramadhan, bertakbirlah (mengagungkan Allah) atas petunjuk yang telah diberikan-Nya agar kita bersyukur. Saat pergi untuk shalat Ied, Rasulullah bertakbir dari rumahnya sampai ke tempat shalat (lapangan). Az-Zuhri r.a. berkata, “Nabi berangkat shalat Idul Fitri. Beliau bertakbir mulai dari rumahnya sampai di tempat shalat (lapangan).”

Jumhur ulama berpendapat, takbir pada hari raya Idul Fitri dilakukan pada waktu pergi shalat Ied sampai dimulainya khutbah. Menurut Imam Hakim, hal ini merupakan sunah yang tersiar di kalangan para ahli hadis. Imam Malik, Ishak, Ahmad, dan Abu Tsaur pun berpendapat demikian.

Cara Shalat Ied
Secara prinsip, cara shalat Ied sama dengan cara shalat Subuh, yaitu dua rakaat. Perbedaannya, dalam shalat Ied takbir pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali dan takbir pada rakaat kedua sebanyak lima kali. Selesai shalat, mendengarkan khutbah Ied.
Amr bin ‘Auf r.a. berkata, “Rasulullah Saw. bertakbir pada shalat Ied tujuh kali pada (rakaat) yang pertama dan lima kali pada (rakaat) yang kedua sebelum membaca Al-Fātiĥah.” (H.R. Tirmidzi)

Jabir bin Abdillah r.a. berkata, “Saya hadir bersama Rasulullah Saw. pada hari raya kemudian beliau memulai shalat sebelum khutbah tanpa azan ataupun iqamah. Selanjutnya, beliau berdiri dan berpegang kepada Bilal kemudian memerintah kepada manusia agar bertakwa kepada Allah Swt. dan taat. Beliau juga menasihati orang-orang dan mengingatkan mereka. Setelah selesai, beliau turun dan menuju tempat perempuan kemudian mengingatkan mereka.” (H.R. Muslim)

Tidak ada shalat apa pun yang mengiringi shalat Ied, baik sebelum maupun sesudahnya. Ibnu ‘Abbas r.a. berkata, “Rasulullah Saw. berangkat pada hari Ied kemudian shalat dua rakaat. Beliau tidak shalat, baik sebelum maupun sesudahnya.” (H.R. Bukhari)
Saling Mendoakan

Jubair bin Nafi r.a. menyebutkan, apabila para sahabat bertemu pada hari raya Idul Fitri, mereka saling mendoakan dengan ucapan:
[Taqabbalallaahu minna wa minkum]
“Mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita.”

Bagaimana cara menjawabnya?
Ada tiga cara. Pertama, jawab dengan ucapan yang sama, yaitu Taqabbalallahu minna wa minkum.
Kedua, jawab dengan
[Shiyaamana wa shiyaamakum]
“Shaum saya dan shaum Anda.”

Ketiga, jawab dengan “Aamiin”. Artinya, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan”. Ketiga jawaban ini bisa dipakai karena tidak ada satu pun hadis yang tegas menjelaskan jenis jawabannya.

(Dinukil dari buku “Melangkah ke Surga dengan Shalat Sunat” Karya Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si.)

buku shalat sunat tarawih

(Visited 3 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment