Harmoni Ramadhan : Tafsir Al-Quran Surat Al-Baqarah 187

ramadhan

Oleh : Dr. Aam Amiruddin

 

“Dihalalkan bercampur dengan istrimu pada malam hari di bulan puasa. Mereka adalah pakaianmu dan kamu pakaian mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karenanya, Dia mengampuni dan memaafkanmu. Sekarang campuri mereka dan cari apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakan puasa sampai datang malam. Namun, janganlah kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itu ketentuan Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 187)

 

Datangnya Ramadhan berarti datangnya kebahagiaan dan kegembiraan bagi orang-orang yang beriman seperti diperlihatkan Nabi dan para sahabatnya. Namun, rasa waswas acap kali menghinggapi mereka karena khawatir usianya tidak sampai pada Ramadhan yang akan datang. Kegembiraan itu datang tidak lain karena Ramadhan adalah bulan ketika setiap orang meraup keuntungan dengan tambahan semangat dalam beribadah dan berlipat-lipatnya pahala. Bulan yang menjadikan setiap hamba beriman semakin dekat dengan Sang Khalik. Sehingga, boleh dikatakan bahwa Ramadhan adalah bulannya harmoni. Harmoni hamba dengan Tuhan-Nya.

Meski demikian, tidak berarti dengan semakin semangatnya beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah pada bulan Ramadhan lantas mengabaikan biduk harmoni dalam berumah tangga. Ramadhan bukan waktunya untuk “dingin-dinginan” dengan istri tercinta dengan alasan agar tidak mengganggu kekhusyukan menjalankan shaum. Merujuk pada ayat yang dikemukakan tersebut, adalah kewajaran, bahkan keharusan bagi kita untuk tetap menjaga keharmonisan hubungan suami-istri pada bulan Ramadhan yang mengiringi peningkatan keharmonisan hubungan dengan Allah.

 

Memang, pada awal-awal diwajibkannya shaum Ramadhan, terdapat beberapa ketentuan yang bisa dikatakan cukup berat. Misalnya, waktu berbuka hanya ada pada waktu Maghrib sampai Isya. Setelah Isya, kaum muslimin kala itu kembali harus menahan lapar dan haus, termasuk bergaul dengan istri sampai maghrib pada esok harinya. Jadi, buka dan sahur ada dalam satu waktu.

 

Kesempatan untuk bercinta dengan istri berarti ada pada waktu maghrib sampai isya saja. Tentu saja ini sangat tidak memungkinkan sehingga sejumlah sahabat pada waktu itu merasa keberatan dengan ketentuan shaum seperti itu. Umar bin Khattab dan Ka’ab bin Malik bahkan sempat kebablasan dan menggauli istrinya di waktu yang terlarang, yaitu setelah Isya. Umar pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah sekaligus mengajukan usul kalau bisa peraturannya diubah karena dirasa cukup memberatkan.

 

Allah yang Mahaadil dan Bijaksana mengetahui betul yang dirasakan hamba-hamba-Nya. Tidak lama kemudian, Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah Saw. berupa ayat ke 187 Surat Al-Baqarah tersebut yang intinya adalah mengubah dua ketentuan utama sebagai berikut:

 

Bolehnya berhubungan suami istri pada malam bulan Ramadhan.
Ketentuan ini bisa dilihat dari petikan ayat “Dihalalkan bercampur dengan istrimu pada malam hari di bulan puasa…” Petikan ayat itu mengandung pesan bahwa sejak turunnya ayat ini, berhubungan suami-istri pada malam hari (setelah isya) pada bulan Ramadhan itu dibolehkan sampai datangnya waktu sahur.

 

Hanya saja, di kalangan ahli fikih terjadi perbedaan pendapat mengenai batas akhir dari junub (setelah berjima’ tapi belum mandi). Apakah mesti mandi janabat sebelum berakhir waktu sahur (sebelum subuh) atau boleh terbawa sampai setelah subuh sehingga mandi janabat dilakukan setelah azan subuh.
Mengenai masalah ini, terdapat dua pendapat utama disebabkan munculnya dua hadits berikut:

 

“Rasulullah Saw. pernah memasuki waktu pagi dalam keadaan junub setelah jima’ tanpa keluar air mani, kemudian beliau mandi dan shaum (pada hari itu).” (Muttafaq ‘alaih)

 

“Apabila kalian dipanggil untuk shalat Subuh, sedangkan kalian dalam keadaan junub, maka janganlah kalian shaum pada hari itu.” (H.R. Ahmad)

BACA JUGA  Senator Nilai, Presiden Tak Punya Manajemen Konflik Dalam Menangani Kasus Ahok

 

Bila diukur kekuataannya, maka hadits pertama jauh lebih kuat. Sementara, hadits kedua dianggap lemah oleh Imam Nasa’i karena tidak marfu’ atau tidak sampai pada Nabi (maukuf). Dengan begitu, maka hadits pertama dapat diterima dan menjadi pegangan. Hadits kedua ini pula yang dipegang oleh mayoritas ulama. Artinya, melewati waktu subuh dalam keadaan junub (setelah berhubungan suami-istri) diperbolehkan untuk melanjutkan shaumnya dan segeralah mandi janabah ketika akan melaksanakan shalat Subuh.
Perubahan ini sama sekali tidak menunjukkan inkonsistensi dalam hukum, tetapi lebih sebagai fleksibilitas ajaran Islam yang mulia, tidak kaku, dan sangat mengerti fitrah manusia. Itu sebabnya Allah kemudian mengungkapkan “… Mereka adalah pakaianmu dan kamu pakaian mereka.…” Ada kebutuhan mendasar bagi dua pasang insan yang berbeda jenis kelamin. Kebutuhan akan saling melindungi dalam curahan kasih sayang sepanjang masa tanpa henti. Jika di bulan Ramadhan ada jeda, maka dihawatirkan akan menjadi penghambat bagi keberlangsungan harmoni dua pasang insan tersebut.

 

Suami atau istri adalah “pakaian” bagi pasangannya. Ibnu Abbas mengartikannya sebagai tempat ketenangan dan ketenteraman. Sementara, Rabi’ bin Anas mengartikannya sebagai “selimut”.
“… Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karenanya, Dia mengampuni dan memaafkanmu…“ Sebagai Khalik, Allah tahu betul bahwa salah satu fitrah manusia adalah membutuhkan kasih sayang dari pasangannya. Dan, tidak selamanya hal itu bisa dikendalikan meski dengan peraturan yang ketat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka Allah kembali menghalalkan suami-istri untuk memadu kasih di malam bulan Ramadhan. Rencanakanlah, jika memungkinkan, untuk kembali mendatangkan generasi yang proses awalnya dilakukan di bulan Ramadhan. Siapa tahu Allah memberkahinya sesuai firman-Nya “…Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu…”
Perubahan waktu sahur.

 

Jika pada awal diwajibkannya shaum, waktu sahur bersamaan dengan waktu buka, yaitu pada waktu maghrib sampai Isya, maka setelah turunnya ayat ini waktu sahur menjadi lebih panjang, yaitu mulai dari maghrib sampai subuh. Selama rentang waktu tersebut, diperbolehkan makan, minum, dan jima’. Sesuai dengan petikan ayat “…Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar…” Benang putih dan benang hitam yang dimaksud adalah fajar kidzib dan fazar sidiq atau perpindahan dari gelapnya malam sampai munculnya cahaya putih di ufuk timur sebagai pertanda datangnya waktu subuh.

 

Memahami ayat ini, sejumlah sahabat sempat terjebak. Mereka mengira bahwa benang putih dan benang hitam yang ada dalam ayat tersebut adalah benang dalam arti yang sebenarnya. Sehingga, untuk mengukur waktu sahur, di antara mereka ada yang mengambil benang putih dan hitam lantas menyimpannya di bawah bantal. Saat bangun tidur, dilihatnya benang tersebut. Karena posisi benang dalam keadaan tetap, mereka lantas meminta penjelasan kepada Nabi mengenai maksud ayat yang sebenarnya. Seorang sahabat yang lain bahkan menyimpan benang tersebut di kakinya.

 

Perlu dicatat bahwa mencampuri istri di saat Ramadhan tetap dilarang ketika ada niatan untuk melaksanakan itikaf. Hal ini sesuai dengan petikan ayat berikutnya “… Kemudian, sempurnakan puasa sampai datang malam. Namun, janganlah kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itu ketentuan Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”

 

Begitulah, Allah memberi rahmat dan anugerah kepada hamba-Nya. Segala sesuatu yang ada di bumi ini Allah berikan untuk manusia. Maka, sudah seharusnya kita bersyukur atas segala nikmat yang terlimpah kepada kita. Semoga Allah menerima dan membalas segala amal ibadah, khususnya pada bulan Ramadhan ini. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallaahu a’lam

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment