Keutamaan I’tikaf di Bulan Ramadhan

alquran

PERCIKANIMAN.ID – Salah satu kebiasaan Nabi Muhammad Saw., bahkan sebelum beliau menjadi nabi, adalah menyendiri. Setiap periode tertentu, beliau menyendiri di Gua Hira. Melalui perenungan dalam kesendirian itulah, Nabi Muhammad Saw. menjadi orang yang paling menonjol keprihatinannya pada kondisi masyarakat Quraisy saat itu. Dan, pada saat melakukan perenungan itu pulalah, Jibril datang menyampaikan wahyu pertama.

Merenung atau berkontemplasi bukan hanya dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Ada sejumlah manusia yang dalam tataran sejarah peradaban dikenang sebagai orang-orang besar, juga melakukan proses kontemplasi. Sebut saja Ibnu Sina. Ilmuwan muslim yang karya-karya serta pengaruhnya masih terasa di dunia ini, sejak kecil akrab dengan proses kontemplasi. Beliau sering sekali menghabiskan waktunya untuk melakukan perenungan di masjid, dari pagi hingga malam hari.

Lalu, ada Isaac Newton. Ilmuwan fisika ini juga sering sekali melakukan perenungan. Dia lebih suka menyendiri, memikirkan berbagai hal yang dialaminya secara lebih mendalam. Konon, teori gravitasi universal yang dicetuskannya itu didapatkannya ketika sedang merenung di bawah pohon apel. Ilmuwan fisika lain yang terkenal dengan teori relativitas, yaitu Albert Einstein juga konon suka merenung dalam kesendirian. Einstein kecil adalah sosok pemalu dan lebih suka menyendiri. Napoleon juga dikenal sebagai sosok yang suka menyendiri dan merenung sejak kecil karena sering diejek oleh teman-temannya.

Berkaca pada kebiasaan tokoh-tokoh tersebut, satu hal yang perlu kita catat adalah bahwa hal besar yang mereka lakukan bermula dari sebuah keberanian dalam mengambil keputusan. Hal-hal besar yang mereka pilih yang selanjutnya dilakukan adalah buah dari pikiran yang tajam yang didapatkan dari proses perenungan yang mendalam. Saat merenunglah mereka mendapatkan kesempatan untuk memikirkan hal-hal, yang di saat sibuk, barangkali tidak sempat dipikirkan.

Tentu saja, sebagai seorang muslim, amat ingin kita menghasilkan satu karya yang bernilai maslahat bagi sesama. Karya yang memiliki pengaruh dan menginspirasi banyak orang. Dan, Allah Swt. telah menyediakan satu sarana yang bisa menstimuli kita untuk membuat karya monumental. Allah menyediakan satu hal yang bisa kita manfaatkan untuk mendapatkan pikiran tajam sebagaimana yang pernah dimiliki manusia-manusia besar di masa lalu, yang tidak lain adalah keluasan waktu untuk berkontemplasi.

kalender percikan iman 2018

Kontemplasi bukanlah melamun. Kontemplasi adalah satu tahapan yang pernah dilakukan oleh manusia-manusia besar di zamannya. Allah Swt. menegaskan dalam Al-Quran tentang pentingnya kita berkontemplasi dan memikirkan apa saja yang akan dilakukan di masa mendatang dalam ayat berikut.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hasr [59]: 18)

Pada bulan Ramadhan, Allah menyediakan waktu khusus untuk kita untuk melakukan kontemplasi. Waktu yang tak hanya bisa diisi dengan perenungan, namun juga amalan-amalan yang makin mendekatkan kita kepada-Nya. Ingat, segala kegemilangan hanya berasal dari Allah. Dan, dengan makin mendekatkan diri kepada Allah, kegemilangan itu bisa kita raih.

Ya, Ramadhan adalah bulan yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw. untuk diisi dengan itikaf. Apalagi, di dalamnya terjanji beberapa kemuliaan, terutama di 10 hari terakhir Ramadhan. Pada saat itikaf inilah, kita bisa melakukan evaluasi serta menata rencana-rencana masa depan. Sembari melakukan hal itu, kita bisa melakukan banyak ibadah kepada Allah Swt. Karena pada hakikatnya, Allah jualah yang Maha Berkehendak atas segala yang telah kita rencanakan.

Secara harfiah, itikaf berarti tinggal di suatu tempat. Itikaf sendiri berasal dari kata akafa alaihi yang berarti berkemauan kuat untuk menetapi sesuatu atau setia pada sesuatu. Sedangkan, secara syariah, itikaf berarti tinggal di masjid selama beberapa hari, teristimewa di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Selama melakukan itikaf, seorang mutakif (orang yang beritikaf) mengasingkan diri dari segala urusan duniawi, kemudian menggantinya dengan ibadah sepenuh hati. Seperti yang telah dicontohkan Rasulullah Saw., selama beritikaf, kita harus menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. seraya mengharap ampunan dan rahmat-Nya. Hakikat itikaf adalah taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah) dengan memperbanyak ibadah.

Beberapa ritual ibadah yang bisa dilakukan saat melakukan itikaf di antaranya, shalat, baik yang wajib maupun yang sunah, berjamaah maupun munfarid. Beberapa shalat yang bisa dilakukan selain shalat wajib lima waktu, misalnya shalat Tarawih, Witir, shalat Fajar, shalat Rawatib, dan yang lainnya.

Selain shalat, ketika itikaf kita juga bisa melakukan dzikir. Semua bentuk dzikir sangat dianjurkan untuk dibaca pada saat itikaf. Akan tetapi, lebih diutamakan dzikir yang lafaznya dari Al-Quran.

Setelah itu, ibadah yang juga dianjurkan saat itikaf adalah membaca Al-Quran. Bagi yang belum bisa atau belum lancar membaca Al-Quran, saat itikaf malah sangat dianjurkan untuk belajar Al-Quran. Selain membaca, tentu saja kita juga perlu memahami isinya. Al-Quran adalah pedoman hidup yang secara khusus diberikan Allah. Lalu, bagaimana kita bisa menapaki hidup dengan baik jika pedomannya tidak kita maknai secara mendalam? Tentu saja, belajar atau memahami kandunga Al-Quran membutuhkan guru atau pembimbing yang ahli di bidang tersebut. Maka, mengikuti kajian-kajian Al-Quran pada saat itikaf lebih bagus lagi.

Kemudian, hal yang bisa dilakukan saat itikaf selanjutnya adalah berdoa kepada Allah Swt. Allah saja yang bisa mengabulkan segala doa untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Dan, meminta adalah salah satu sarana mendekatkan diri kita dengan Allah. Meminta kepada Allah Swt. adalah bentuk ibadah. Maka, meminta sebanyak-banyaknya berarti mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Allah Swt. senang diminta, bahkan orang yang tidak meminta kepada Allah adalah orang yang sombong.

Tentu saja, saat itikaf, kita masih diperbolehkan melakukan aktivitas lain selain yang telah disebutkan tadi. Seorang mutakif boleh beristirahat, tidur, berbicara (makruh membicarakan hal-hal duniawi yang tidak membawa manfaat bagi akhirat), mandi, buang air, bahkan meskipun sekadar diam di dalam masjid (tidak melakukan apa-apa). Karena sekali lagi, makna itikaf adalah diam. Meski tentu saja bukan diam terus sepanjang waktu.

Jadi, itikaf adalah saat yang tepat bagi kita melakukan kontemplasi. Karena, selain merenung, kita juga bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah. Merenung atau berkontemplasi sembari beribadah di dalam itikaf tentu saja sangat baik. Karena, selain mengasah ketajaman pikiran, kita juga akan mendapatkan pahala dan terjaga dari hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyukan shaum Ramadhan.
Subhanallah, itikaf memang luar biasa! [Fatih]

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment