Tatacara Itikaf Sesuai Sunnah

itikaf ramadhan

Ustadz, bagaimana itikaf yang dicontohkan oleh Rasul. Mohon dijelaskan.

 

Secara bahasa, i’tikaf artinya berdiam diri atau tinggal di suatu tempat. Menurut istilah, i’tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Beri’tikaf bisa dilakukan kapan saja. Namun demikian, Rasulullah Saw. sangat menganjurkan i’tikaf dilakukan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Inilah waktu yang baik untuk ber-muhasabah dan ber-taqarub secara penuh kepada Allah Swt. guna meluruskan kembali makna sesungguhnya hidup kita di dunia.

 

Perhatikan keterangan berikut.

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

“Dari Abdullah bin Umar r.a. berkata: ‘Rasulullah Saw. beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan.’” (H.R. Bukhari)

 

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf merupakan perbuatan sunah dan dianjurkan untuk dilakukan setiap 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Perlu diketahui bahwa Rasulullah Saw. ber-i’tikaf selama 20 hari menjelang wafatnya. Para sahabat dan juga istri-istri Rasulullah Saw.  selalu melaksanakan ibadah ini sehingga Imam Ahmad berkata, “Sepengetahuan saya, tak seorang ulama pun mengatakan i’tikaf bukan sunnah.”

 

“I’tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati ber-i’tikaf dan bersimpuh di hadapan Allah, berkhalwat dengan-Nya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk untuk berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah,” begitu kata Ibnu Qayyim.

 

Itulah urgensi i’tikaf. Ruh kita memerlukan waktu berhenti sejenak untuk disucikan. Hati kita butuh waktu khusus untuk bisa berkonsentrasi secara penuh beribadah dan bertaqarub kepada Allah Swt. Kita perlu menjauh dari rutinitas kehidupan dunia untuk mendekatkan diri seutuhnya kepada Allah Swt. Inilah saatnya kita bermunajat dalam doa dan istighfar serta membulatkan itikad untuk senantiasa patuh dan taat pada segala hukum  dan ketentuan Allah.

 

I’tikaf yang shah adalah i’tikaf yang dilaksanakan di masjid. Tidak termasuk i’tikaf jika kita melaksanakannya di luar masjid, misalnya di ruangan mushallah sebuah mall atau gedung perhotelan. Imam Malik membolehkan i’tikaf dilakukan di setiap masjidm sedangkan Imam Hanbali membatasi i’tikaf hanya boleh dilakukan di masjid yang dipakai untuk shalat berjamaah atau shalat Jumat.

 

Alasannya adalah agar orang yang ber-itikaf bisa selalu shalat berjamaah dan tidak perlu meninggalkan tempat i’tikaf (masjid yang tidak menyelenggarakan shalat Jumat)  menuju masjid lain (yang dipakai shalat Jumat) untuk shalat berjamaah atau shalat Jumat. Pendapat ini diperkuat oleh ulama dari kalangan Syafi’i. Alasannya, Rasulullah Saw. beri’tikaf di masjid jami’. Lebih dari itu, kalau kita dikaruniai kelebihan rezeki, maka lebih utama lagi kalai i’tikaf dilakukan di Masjid Haram, Masjid Nabawi, atau di Masjid Aqsha.

 

Rasulullah sendiri mencontohkan i’tikaf dimulai dengan masuk ke masjid sebelum matahari terbenam memasuki malam ke-21. Ini sesuai dengan sabdanya, “Barangsiapa yang ingin i’tikaf denganku, hendaklah ia i’tikaf pada 10 hari terakhir.” I’tikaf selesai setelah matahari terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan. Tetapi, beberapa kalangan ulama lebih menyukai menunggu hingga dilaksanakannya shalat Id.

 

Ketika i’tikaf, ada ibadah-badah sunah yang bisa Anda laksanakan seperti mengerjakan shalat sunah, tilawah (membaca Al-Quran), serta membaca tasbih, tahmid, dan tahlil. Saat i’tikaf dianjurkan untu beristighfar sebanyak mungkin, bershalawat kepada Rasulullah Saw. semaksimal mungkin, dan berdoa secara terus menerus. Imam Malik bahkan meninggalkan aktivitas ilmiahnya ketika datang waktu i’tikaf dan beliau memprioritaskan menunaikan ibadah mahdhah dalam i’tikafnya.

BACA JUGA  Jadi Peserta Hifzil Quran Internasional, Musa Harumkan Nama Indonesia

 

Meski begitu, orang yang beri’tikaf bukan berarti tidak boleh melakukan aktivitas keduniawian. Rasulullah Saw. pernah keluar dari tempat i’tikaf karena mengantar istrinya (Shafiyah) ke suatu tempat. Orang yang beri’tikaf juga boleh keluar masjid untuk keperluan yang tidak bisa ditunda seperti buang hajat, makan, minum, dan semua kegiatan yang tidak mungkin dilakukan di dalam masjid. Setelah selesai semua urusan tersebut, segeralah kembali ke masjid. Orang yang ber-i’tikaf juga boleh menyisir, bercukur, memotong kuku, serta membersihkan diri dari kotoran dan bau. Bahkan membersihkan masjid pun boleh dilakukan selama i’tikaf mengingat masjid harus dijaga kebersihan dan kesuciannya karena mungkin saja orang-orang yang ber-i’tikaf tanpa sengaja mengotori masjid ketika mereka makan, minum, dan tidur (di masjid).

Dalam sebuah hadits disebutkan,

 

عَنْ عُرْوَةَ وَعَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُدْخِلُ عَلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا

“Dari Urwah dan Amrah binti Abdurrahman bahwa Aisyah r.a. istri Nabi Saw. berkata: ‘Sungguh Nabi Saw. pernah menjulurkan kepala Beliau kepadaku ketika sedang berada di masjid lalu aku menyisir rambut beliau. Dan Beliau tidaklah masuk ke rumah kecuali ketika ada keperluan (buang hajat) apabila beliau sedang beri’tikaf.’” (H.R. Bukhari)

 

I’tikaf dikatakan batal jika orang yang ber-i’tikaf meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar. Hal ini dikarenakan ia telah mengabaikan satu rukun i’tikaf, yaitu berdiam di masjid. I’tikaf juga tidak sah jika dilakukan oleh wanita yang tengah haid atau nifas. Selain itu, i’tikaf juga batal kalau orang yang sedang ber-i’tikaf melakukan jima’ dengan istrinya. Begitu juga kalau ia pergi shalat Jumat ke masjid lain karena tempatnya beri’tikaf tidak dipakai untuk melaksanakan shalat Jumat.

 

I’tikaf disunahkan bagi pria, begitu juga wanita. Namun demikian, wanita diberi syarat tambahan yaitu pertama harus mendapat izin dari suami atau orangtua. Apabila izin telah dikeluarkan, tidak boleh ditarik lagi oleh suami atau orangtua. Kedua, tempat dan pelaksanaan i’tikaf wanita sesuai dengan tujuan syariah. Para ulama berbeda pendapat tentang masjid untuk i’tikaf kaum wanita. Sebagian ulama menganggap lebih afdhal jika wanita beri’tikaf di masjid atau ruangan tempat shalat di rumahnya. Tapi jika ia akan mendapat manfaat yang banyak dengan i’tikaf di masjid, tentu wanita dipersilahkan melakukan i’tikaf di masjid dan tidak ada masalah sama sekali. Wallahu a’lam.

*  Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 2 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment