Arti Shaum Bagi Tubuh Kita

manfaat shaum bagi tubuh manusia

PERCIKANIMAN.ID – Ada siklus yang terjadi setiap Ramadhan datang. Siklus tersebut berkaitan dengan berkurangnya beban. Siklus yang mengarah pada kemudahan-kemudahan. Lihat saja jam kerja di kantor, sekolah, atau kampus. Jam kerja dikurangi. Ada kompensasi. Barangkali sisi positif dari pengurangan jam kerja ini, pihak perusahaan atau pihak sekolah atau kampus ingin memberikan waktu lebih pada karyawan atau pelajar agar bisa beribadah lebih khusyuk. Mungkin juga karena sebagai bentuk kegembiraan dalam upaya menyambut Ramadhan yang mulia.

Akan tetapi, di sisi lain, hal tersebut menimbulkan satu pertanyaan. Apakah shaum di bulan Ramadhan tidak boleh dibebani dengan pekerjaan (kantor atau sekolah) yang “terlalu” berat? Mengapa datangnya bulan Ramadhan disambut dengan pengurangan jam kerja yang berkorelasi pada produktivitas?

promooktober

Secara ilmiah, shaum merupakan kondisi saat tubuh tidak mendapat asupan makanan dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara medis, hal tersebut berarti tidak ada kalori yang dipecah oleh tubuh sehingga badan menjadi loyo.

Satu lagi pertanyaan yang harus kita renungkan dengan saksama, kalau memang Ramadhan membuat badan lemas sehingga harus ada pengurangan jam kerja (artinya berkurangnya produktivitas), lalu bagaimana dengan Rasulullah Saw. dan para sahabat yang melakukan Perang Badar? Bukankah peristiwa yang menjadi tonggak utama eksistensi Islam itu dilakukan di bulan Ramadhan, saat Rasul dan para sahabat melakukan shaum? Bahkan, pasukan Rasulullah memenangi pertempuran. Di sini, ada semacam paradoks yang harus kita pecahkan.

Mari periksa aktivitas yang mungkin telah dan masih kita lakukan. Pernahkah Anda merasa lemas ketika bangun tidur setelah tidur sangat lama, kekenyangan saat memakan makanan yang jumlahnya terlalu banyak, atau minum air kebanyakan hingga perut kembung? Jika jawaban Anda adalah, Ya, untuk ketiga aktivitas tersebut, ini menjadi satu bukti bahwa asupan makanan yang banyak tidak berkorelasi positif dengan peningkatan produktivitas keseharian. Mari sejenak kita lihat mekanisme makanan di dalam organ pencernaan kita.

Makanan yang telah dikunyah akan masuk ke dalam perut, ditampung di lambung. Lambung berada di sebelah kiri atas perut kita. Lambung tersusun dari lapisan-lapisan otot. Di antaranya oblique layer, cicular layer, dan longitudinal layer. Nah, saat makanan masuk ke dalam lambung, lambung akan memberikan reaksi. Lambung akan mengocok makanan yang telah dihaluskan di mulut, sampai benar-benar hancur. Tak berhenti sampai di sana, lambung juga akan mengeluarkan asam HCl yang berfungsi membantu usus halus menyerap sari makanan.

Dengan mekanisme semacam itu, bayangkan, betapa lelahnya lambung kita bekerja di sepanjang hidup kita. Otot-otot lambung bekerja keras meremas-remas makanan, lalu kelenjar-kelenjarnya pun berusaha “mengundang” asam HCl.

Rupanya juga bukan hanya masalah otot dan kelenjar yang dibuat sibuk. Ternyata, ada sistem syarat yang juga dibuat sibuk. Saraf yang sangat sibuk adalah saraf yang berasal langsung dari otak, yaitu saraf vagus. Saraf vagus betul-betul mempersarafi sistem pencernaan kita. Bukan hanya mempersarafi sistem pencernaan, namun di saat bersamaan juga mempersarafi jantung yang setiap detik terus berdetak. Saraf ini juga mempersarafi paru-paru agar senantiasa bernapas meski kita sedang dalam keadaan tertidur. Mari bayangkan, betapa lelah syaaf vagus yang melakukan kerja rodi ini.

Dari pemaparan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa semakin banyak makan yang dikonsumsi, saraf vagus menjadi semakin lelah. Hal tersebut membuat kita menjadi lebih cepat lemas. Akibatnya, produktivitas pun berkurang.

Kalau kita lihat lebih saksama, rupanya proses makan bukanlah hal yang sederhana bagi kinerja otak kita. Otak harus mengurusi makanan yang masuk ke dalam tubuh, bahkan sejak makanan berada di kerongkongan hingga usus besar. Sangat rumit kerja tubuh saat makanan mulai masuk ke tubuh. Bayangkan saja jika kita terlalu banyak makan, tentu akan semakin rumit. Dengan keadaan semacam ini, banyak makanlah yang menghabiskan energi kita sehingga produktivitas berkurang. Jadi, bukan shaum yang menyebabkan menurunnya produktivitas!

Saat shaum, saluran cerna kita mendapat kesempatan beristirahat sejenak. Sehingga, energi yang tidak digunakan saat mencerna makanan di siang hari, bisa dialihkan menjadi suatu bentuk kegiatan lain yang bermanfaat. Produktivitas justru mesti semakin meningkat saat shaum. Seperti Rasulullah dan para shabat yang berhasil memenangkan pertempuran Badar saat Ramadhan sebagaimana disampaikan sebelumnya.
Nah, mari sekali lagi meneropong makanan yang telah kita telan. Secara sederhana, prosesnya adalah makanan menuju kerongkongan lalu ke lambung (didorong oleh gerakan peristalsis). Lambung akan melakukan proses peremasan sampai sari makanan diserap usus halus.

Dalam prosesnya, tentu tidak semua sari makanan terserap usus halus. Ada yang tidak terserap dan inilah yang nanti menjadi feses yang kita buang setiap hari. Kemudian, sari makanan yang terserap dibawa ke seluruh tubuh oleh darah. Di sinilah terjadinya proses pencernaan yang sebenarnya. Proses ketika sel-sel akan kembali mencerna sari-sari makanan tersebut menjadi serpihan-serpihan yang lebih kecil dan diolah menjadi energi (pencernaan intraseluler).

Serpihan kecil yang tidak tecerna akan dibuang dari dalam sel. Akan terjadi dua kemungkinan terhadap serpihan-serpihan kecil yang tidak terolah atau tecerna ini, yakni didaur ulang menjadi zat yang berguna atau benar-benar dibuang (dalam bentuk feses atau air seni). Jika didaur ulang, zat ini akan digunakan untuk regenerasi sel (peremajaan sel).

Nah, saat proses peremajaan sel inilah tubuh kita merasakan sedikit lapar. Maka, ketika kita merasa lapar saat shaum, itu adalah tanda bahwa sedang terjadi proses peremajaan sel di dalam tubuh kita. Kondisi lapar saat shaum merupakan proses pemecahan zat atau serpihan yang tak tecerna sel sehingga menjadi energi bagi tubuh. Luar biasa, shaum benar-benar membuat tubuh kita lebih segar, lebih muda, dan bertenaga.
Shaum dan Kebijaksanaan

Tujuan teragung dari perintah shaum adalah membentuk manusia yang bertakwa. Karena secara komprehensif, shaum berdampak konstruktif pada level sub atomik, genomik, limbik, sampai pada fisik.
Shaum melatih kita menjadi bijaksana. Kebijaksanaan akan terpancar, ketika status kejiwaan kita menjadi stabil dan relatif tenang. Kestabilan dan ketenangan jiwa bisa dibentuk melalui shaum. Karena dengan shaum, poros batang otak-limbik-area prefrontal, akan menjadi optimal. Sirkuit ini terutama di daerah limbik, tepatnya di poros hipotalamus-hipofise-adrenal. Akan ada keseimbangan antara hormon kortisol adrenalin dengan serotonin dan endorphin, sehingga dalam jangka yang panjang, status kejiwaan akan menjadi stabil dan tenang.

Hikmah terbesar dari perintah shaum adalah upaya terindah dalam mengembalikan amanah fitrah. Bayangkan jasadiyah, aqliyah, dan ruhiyah berorkestra bersama. Secara epigenetik, melalui serangkaian proses metilasi gen atau DNA kita pun turut memperbaharui kinerja. Orang yang shaum, dalam penelitian dan telah diterbitkan di jurnal-jurnal yang kredibel, terbukti memiliki tingkat resiliansi yang tinggi terhadap stressor (jarang stres). Shaum juga bisa sebagai benteng atau penawar dari stres yang dialami anak-anak muda atau yang masih lajang. Karena dengan shaum, adrenalin dan dopamin di area nucleus akumben akan mengarahkan peran tertorion pada aktivitas dinamik kreatif akan terkendali.

Shaum juga berdampak positif terhadap kecerdasan, yakni berupa optimasi hipokampus, girus singulata, dan nucleus akumben yang bekerja sama dengan neuropeptida yang dihasilkan oleh lokus seruleus. Kecerdasan juga meningkat lewat aktivitas nitric oxide yang penting bagi endotel dan sirkulasi darah otak. Demikian juga penurunan basal metabolic rate berdampak pada berkurangnya limbah yang mengganggu kinerja otak seperti protein amiloid dan advance glicosilated ends product.

Shaum dan Kesehatan
Dari sudut pandang faal saluran cerna, shaum mengoptimalkan fungsi enzim dan flora normal yang pada gilirannya akan menstabilkan sistem imunitas dan juga neurotransmitter. Flora normal adalah bakteri baik dari spesies laktobasilus, bacillus, dan bakterioides yang menjaga tubuh kita dari serangan bakteri patogen (penyebab penyakit). Selain itu, flora normal mengatur vitamin, enzim, dan hormon. Juga bisa menentukan kadar kolesterol, insulin, dan zat kimia otak.

Telah banyak penelitian yang dipublikasikan yang menyebutkan bahwa shaum telah menunjukkan parameter biokimiawi, seperti peningkatan kadar HDL, penurunan triglisireda, dan kolesterol, serta meningkatnya kemampuan sistem imunitas selulera humoral yang ditandai dengan aktivitas limfosit dan sitokin.

Mekanisme shaum mempengaruhi imun yang utama adalah dengan pengendalian kortisol, lalu terjadinya reduksi radikal bebas hasil metabolisme dan optimasi enzimatik serta flora normal. Ketika kita menjalani shaum, di awal-awal hari biasanya lemas, namun semakin ke sana rasa lemas dan lapar itu sudah menjadi satu hal yang biasa. Hal ini karena terjadinya optimasi pada sistem metabolisme, khususnya pada kinerja hormon insulin serta pengolahan glukosa, glikogen, dan lipid.

Shaum juga bisa menyembuhkan segala penyakit. Asalkan shaum tersebut dibarengi dengan ikhtiar secara medis. Bahkan, shaum secara preventif dapat mencegah terjadinya penyakit.

Shaum itu ibadah. Ibadah pasti mengoptimasi fungsi jasadiyah, aqliyah, dan ruhiyah. Dengan sistem imun yang baik, metabolisme, vaskularisasi, enzimatik yang baik, maka kesehatan tubuh juga menjadi baik. Inti dari pengobatan, khususnya functional medicine adalah mengembangkan fitrah setiap organ dan sistem tubuh.

Di bulan Ramadhan, ada aktivitas itikaf, tepatnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan yang lebih utama. Secara medis dan neurosains, itikaf adalah bagian dari membangun sirkuit kesejatian cinta. Ia melibatkan memori, emosi, dan riyadah. Maka, mujahadah melalui menahan diri terhadap berbagai godaan duniawi adalah detoksifikasi terhadap jalur kognisi dan afeksi. Amigdala terkendali oleh jalur hipokampal sehingga rasa syukur akan menggantikan keluh kesah

Subhanallah, ini hanya sebagian kecil dari keajaiban shaum. Mari kita bersemangat menyongsongnya.

Penulis : Fatih

Disarikan dari wawancara dengan dr. Tauhid Nurazhar dan korespondensi dengan Ikhsanun Kamil Pratama, serta dukungan beberapa sumber.

(Visited 3 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment