Syamsul Bahri, Marbot Korban Ledakan Tabung Gas Butuh Bantuan

donasi thr marbot

PERCIKANIMAN.ID – – Usianya sudah menjelang tujuh puluh tahun. Tetapi ia  dengan sabar memikul tugas dan tanggung jawab sebagai marbot masjid. Walau bukan pekerjaan mudah, Syamsul Bahri (67)  tetap serius menjalani pekerjaan mulia itu sejak tahun 1995 .

Peristiwa ledakan tabung gas 3 kg pada 30 Mei 2017 lalu menghiasi media massa di Jawa Barat bahkan nasional.  Seorang marbot Masjid Al Hidayah RW 03 yang terletak di jalan Rajawali Timur, Kelurahan Ciroyom Kota Bandung menjadi perbincangan semua orang.  Ternyata, Syamsul Bahrilah yang menjadi sorotan dalam peristiwa tersebut.

Bermaksud memasak air untuk pengurus yang sedang rapat di lantai 1 karena akan ada Imam Shalat tarawih dari Palestina ke masjid itu, tak ada firasat buruk yang dirasakan Syamsul  saat itu.  Ia pun memutar pemantik kompor gas di dapur bawah tanah itu. Tetapi beberapa kali diputar, kompor tak kunjung menyala. Dan untuk kesekian kali, bukan nyala api yang ada namun malah terjadi ledakan yang mengguncang daerah di sekitar masjid itu.

“Ledakannya malah sampai terdengar ke rumah saya. Saya kira itu ledakan bom. Saat itu saya tak menyangka jika itu ledakan tabung gas di masjid dan saya baru tahu jika yang terkena ledakan itu ternyata ayah mertua saya setelah mendapat kabar dari adik ipar,” terang Roni, salah seorang menantu dari Syamsul Bahri kepada penulis.

Akibat ledakan tersebut, marbot masjid ini tertimpa seluruh barang di dapur tersebut hingga ia berusaha sendiri bangkit dan mencoba keluar dari ruangan itu. Dengan susah payah dan terluka, Syamsul berupaya bertahan dalam kondisi sadar. Kakek 9 cucu ini berusaha mencari pintu keluar. Beruntung, ketua DKM Kang Iwan Permadi kemudian datang menolong serta langsung membawanya ke RS Kebonjati bersama pengurus lainnya.

Syamsul kemudian dirujuk ke RSHS dengan luka di wajah, tangan, kaki dan badan. Punggungnya mengalami lecet-lecet dan diperkirakan luka bakarnya 25 % saja.

“Karena semua yang ada di masjid sigap maka Pak Syamsul pun terselamatkan walaupun harus dirawat terlebih dulu di ruang intensif dan sekarang sudah dipindahkan ke ruang Kana di lantai dua RSHS. Bapak mertua saya harus dirawat di RSHS kurang lebih dua minggu lamanya dan mudah-mudahan pertengahan Ramadhan ini  bisa keluar dari rumah sakit,” kata Roni kemudian.

Mengenai pengobatannya, pihak masjid dan jamaah PERSIS memberikan bantuan. Namun untuk menantisipasi besarnya biaya perawatan di RSHS maka Roni membuat SKTM sampai kecamatan karena sang mertua belum tercatat sebagai peserta BPJS atau KIS dari Pemerintah. Roni bersyukur ketika hal itu dapat terlaksana maka biaya pengobatan pun tak jadi beban bagi keluarganya.

Syamsul Bahri saat dirawat di rumah sakit
Syamsul Bahri saat dirawat di rumah sakit

“Hanya mungkin setiap hari yang banyak menunggu adalah isteri Pak Syamsul yaitu Bu Eti (54),” ujar Roni yang menikahi anak ketiga dari pasangan Samsul Bahri dan Eti yang bernama Anita Rahma Furi (30).

Berbicara masjid Al Hidayah takkan lepas dari nama Syamsul Bahri sebagai marbot di masjid itu. Sejak tahun 1995 dipercaya untuk menjadi marbot yang bertugas membersihkan masjid dari lantai 1 sampai lantai 3, membersihkan WC, mrenyiapkan segala sesuatu untuk berbagai kegiatan serta membantu pula untuk kegiatan belajar mengajar di TK. Kata Roni, mertuanya itu sangat bertanggung jawab terhadap tugasnya sebagai marbot di masjid itu. Menurutnya, sebelum menjadi marbot ayah 9 anak ini rupanya pernah berjualan di kantin SMAN 18 Bandung di Jalan Madesa, Kota Bandung. Namun satu lain hal maka profesinya itu pun dirtinggalkan dan memilih menjadi marbot apalagi ia tercatat sebagai jamaah PERSIS.

BACA JUGA  Fatwa MUI Haramkan Muslim Gunakan Atribut Natal

“Sepertinya karena merasa sebagai jamaah itulah, makanya mertua saya ingin mengabdikan apa yang dimilikinya untuk memelihara masjid tersebut. Tampak sekali ia begitu bersemangat mengerjakan pekerjaan tersebut yang dimulai dari pagi hari itu,” ungkap lelaki yang memiliki anak kembar ini bada Zuhur pada bulan Ramadhan ini.

Dengan kesederhanaannya itu, rupanya lelaki dengan lima menantu ini mampu membesarkan anak-anaknya dengan kondisi terbatas di mana kebanyakan anak-anaknya mampu sekolah dan tamat SMA walaupun ada juga yang tamat SMP. Namun selain itu, rupanya ada pula yang tamat sampai D2 dan kini justeru mengajar di Play Group. Dengan bergaji Rp 80.000/minggu dan Rp 100.000,-/bulan kadang lebih dari TK rupanya Pak Syamsul ini tak mempermasalahkan gaji yang diterimanya, namun yang ia perhatikan adalah bagaimana ia bisa berbuat sesuatu untuk memelihara masjid ini. Sepertinya Pak Syamsul merasa menjadi marbot itu adalah sesuatu yang sangat disyukuri dan dinikmati, di mana ia terbukti tak pernah mengeluh dengan pekerjaan yang selama ini selalu dilakukannya.

“Bahkan saat dirawat di rumah sakit saja, mungkin akibat trauma ledakan gas itu, kendati sakit marbot yang satu ini selalu ingat dengan tugas-tugasnya di masjid. Tetapi ketika diingatkan oleh anak dan menantunya itu maka beliau barulah sadar jika ia tengah dirawat di rumah sakit akibat ledakan tabungan gas,” imbuh Roni.

Dalam satu tahun terakhir ini, selain menjadi marbot secara iseng pun Pak Syamsul ini mengumpulkan barang bekas juga untuk kemudian ia jual dan uangnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat ini keluarga Pak samsul tinggal di belakang masjid Al Hidayah itu. Bahkan kalau ada kegiatan di masjid tersebut kadang marbot yang satu ini bisa pulang sampai larut malam. Justeru dengan menjadi marbot ia bersa memperoleh pahala yang begitu banyak apalagi biasanya hanya sedikit orang yang mau menjadi marbot karena secara ukuran gaji itu kecil dibandingkan dengan profesi lainnya. Pak Syamsul tak berhitung dalam urusan itu, tetapi ia yakin rexzeki itu sudah ada yang mengatur hingga ia selalu fokus saja kepada pekerjaan yang dilakukannya.

“Biarpun sudah mengalami luka akibat ledakan tabungan gas itu, ayah mertua saya tetap kelihatan masih bersemangat untuk tetap menjadi marbot dan mungkin pihak keluarga pun takkan melarang asalkan ayah mertua saya bekerja setelah benar-benar sehat,” ungkap pria yang berprofesi sebagai satpam di sebuah RS Swasta di Kota Bandung dan menjadi juru parkir jika lepas kerja di sepanjang jalan rajawali Timur dekat masjid Al Hidayah.

Betatapun beratnya trauma ledakan gas yang menimpa Pak Syamsul, ternyata tak menghalanginya untuk kembali menjadi marbot masjid. Baginya, menjadi marbot masjid adalah pekerjaan istimewa yang langsung diberi pahala oleh Allah dan didoakan oleh banyak orang yang melaksanakan Shalat di masjid itu.

Sahabat PercikanIman Online, di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini redaksi Percikaniman Online mengajak sahabat  sekalian untuk membantu meringankan penderitaan dan ujian yang menimpa Syamsul khususnya dan para marbot masjid lainnya di Kota Bandung.   Mari berbagi dengan para marbot masjid dalam program Tanda Cinta Untuk Marbot.

Salurkan donasi sahabat melalui program Tanda Cinta untuk Marbot yang hanya dilakukan secara online.  Donasi dapat disampaikan melalui  transfer ke Rekening BCA No. 438-302-8020- An Khazanah Intelektual. Info program hubungi : telp/whatsapp  0818-0998-0963. [ ]

Red: deffy

Editor: iman

Foto: deffy

laporan thr marbot

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment