Bedah Hadits : Shaum & Menjaga Hak Orang Lain

kering tandus

Oleh :  Tate Qomaruddin

Dari Abi Hurairah—semoga Allah meridhoinya, dia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. Telah bersabda, “Barang siapa tidak meninggalkan kata-kata palsu (tipuan, dusta), perbuatan palsu (menipu, berdusta), dan tindakan jahil maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (H.R. Bukhari)

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya, dia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Seluruh amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum. Sesungguhnya, shaum itu untuk-Ku dan Akulah yang membalasnya. Shaum adalah tameng. Maka, pada hari seseorang melakukan shaum, janganlah dia melakukan rafats dan janganlah bertengkar (berteriak). Jika seseorang mencacinya atau menantangnya berkelahi, maka hendaklah dia katakan, ‘Sesungguhnya aku sedang shaum.’ Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, bau mulut orang yang shaum lebih baik di sisi Allah daripada wangi minyak kesturi. Orang yang shaum mendapat dua kebahagiaan. Jika dia berbuka, dia bahagia dengan bukanya. Jika dia berjumpa dengan Tuhannya, dia berbahagia dengan shaumnya.” (Muttafaq ‘alaih, dan lafaz ini riwayat Bukhari)

Hadis yang pertama menjelaskan bahwa ketika seseorang melaksanakan shaum (puasa) maka shaumnya itu harus dibarengi dengan meninggalkan kata-kata dan perbuatan yang tercela dan perbuatan merugikan orang lain. Hadis pertama menyebut “qaulaz-zuri wal-‘amala bihi” yang artinya “kata-kata palsu dan perbuatan palsu”. Dalam kitab Fathul-Bari (Syarah Bukhari) disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “az-zura” dalam hadis itu adalah dusta.

Syaikh Utsaimin mengatakan, “qaulaz-zur adalah semua kata-kata yang haram; ‘amal zur adalah semua perbuatan yang haram; dan “aljahla” artinya semua tindakan yang merugikan dan melanggar hak orang lain.

promooktober

Tidak ada pertentangan sama sekali dalam penjelasan-penjelasan tadi. Jadi, esensinya adalah bahwa Allah melarang orang yang sedang puasa untuk mengeluarkan kata-kata atau pembicaraan dusta, menipu, menyakiti orang lain, dan perkataan dosa lainnya. Juga melarang perbuatan menipu dan segala perbuatan dosa lainnya serta perbuatan yang merugikan, menzalimi, dan melanggar hak orang lain.

Jika seseorang sembari puasa tetap saja melakukan hal-hal yang dilarang tadi, maka puasanya menjadi tidak bermakna. Para ulama menyebut puasa seperti itu: puasanya sah tapi tidak mendapatkan nilai apa pun dari puasanya itu di sisi Allah Swt. Dia hanya dihitung melaksanakan kewajiban. Padahal, Allah mewajibkan puasa bukan semata-mata agar manusia lapar dan dahaga. Allah tidak butuh itu. Tidak ada kepentingan bagi Allah dari lapar dan dahaganya manusia. Karena yang Allah inginkan dari puasa adalah mewujudnya takwa dalam kehidupan manusia.

Jadi, Allah tidak memberi penghargaan kepada orang yang berpuasa hanya karena dia merasakan lapar dan dahaga. Allah memberikan penghargaan kepada orang yang berpuasa, menahan lapar, dahaga, dan hasrat seksual karena Allah. Bersamaan dengan itu, dia meninggalkan segala ucapan dan perbuatan yang sia-sia, yang menyimpang dari kebenaran, dan terlebih-lebih perbuatan yang menodai kehormatan serta mengambil hak orang lain secara tidak sah.

Hal itu diperkuat dengan hadis kedua. “Shaum adalah tameng. Maka pada hari seseorang melakukan shaum janganlah dia melakukan rafats dan janganlah bertengkar (berteriak). Jika seseorang mencacinya atau menantangnya berkelahi maka hendaklah dia katakan, ‘Sesungguhnya aku sedang shaum.’”
Rasulullah Saw. pun bersabda,

“Puasa bukanlah menahan makan dan minum semata melainkan (juga) menahan diri dari perbuatan sia-sia dan kotor.” (H.R. Al-Baihaqi)

Seorang sahabat Nabi Muhammad Saw., Jabir bin Abdillah—semoga Allah meridhoinya—mengatakan, “Jika kamu berpuasa maka berpuasalah juga pendengaranmu, penglihatanmu, dan lidahmu dari dusta dan hal-hal yang diharamkan; hindari menyakiti tetangga. Hendaklah kamu tenang dan damai. Janganlah antara kamu puasa dan tidak sama saja.”

Ajaran dan arahan tentang shaum di bulan Ramadhan dengan segala hal yang harus dilakukan atau ditinggalkan selama satu bulan itu adalah ajaran tentang kahidupan, ajaran tentang apa yang harus dilakukan dan ditinggalkan setiap manusia selama hidup di dunia ini, sepanjang hayat dikandung badan.

Mari kita cermati ajaran dan arahan itu. Allah memerintahkan kita melaksanakan shaum dengan dasar keimanan, keikhlasan, dan berharap hanya ridho Allah Swt. Sabda Rasulullah Saw. “Barang siapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap ridho Allah, diampuni dosanya yang telah lalu.” Itu berlaku bukan hanya untuk puasa Ramadhan. Semua ibadah yang dilakukan haruslah berdasarkan keimanan dan berharap hanya ridho Allah Swt., alias ikhlas.

Saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, kita diperintahkan hanya mengeluarkan kata-kata yang diridhoi Allah dan menahan diri dari mengeluarkan ucapan yang membuat Allah murka dan kata-kata yang melukai serta menghina orang lain, seperti yang disebutkan dalam hadis-hadis tadi. Maka, hal itu berlaku juga di luar Ramadhan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan pada Hari Akhirat maka dia wajib berbicara yang baik atau diamlah.”

Bahkan, Rasulullah Saw. telah menempatkan lidah sebagai kendali segala urusan. Dalam sebuah hadis dijelaskan,

Rasulullah bersabda, “Inginkah engkau aku beri tahu tentang kepala (pokok) segala urusan, tiangnya dan puncaknya?” Aku menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kepala segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” Rasulullah Saw. mengatakan lagi, “Inginkah engkau aku beritahukan tentang penguat itu semua?” Aku menjawab, “Ya, wahai Nabi Allah.” Maka, Rasulullah Saw. memegang lidahnya seraya mengatakan, “Tahanlah (peliharalah) ini (lidah) olehmu.” Aku mengatakan, “Wahai Nabi Allah, akankah kita dibalas gara-gara omongan yang kita ucapkan?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ibumu telah kehilangan kamu! Tidaklah manusia dibenamkan ke dalam neraka–dimulai dengan wajah mereka atau lubang hidung mereka—melainkan buah dari lidah-lidah mereka.” (H.R. Tirmidzi, hadis hasan)

Rasulullah Saw. juga bersabda,

“Muslim (sejati) adalah orang yang lidah dan tangannya tidak mencelakakan orang lain.” (H.R. Bukhari)
Jadi, dapat dipahami bila Rasulullah Saw. mensinyalir ada orang-orang yang berlapar-lapar dan berhaus-haus berpuasa di bulan Ramadhan, akan tetapi dia tidak mendapat pengampunan dari Allah di bulan yang penuh ampunan itu. Sebabnya adalah karena dia hanya meninggalkan makan dan minum, tetapi tidak meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt. baik itu ucapan maupun perbuatan.

Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. menaiki mimbar. Setiap kali dia menaiki anak tangga mimbar itu beliau mengucapkan “Amin”. Itu terjadi sampai tiga kali. Lalu, para sahabat bertanya tentang ucapan “Amin” itu. Rasulullah Saw. menjelaskan, “Sesungguhnya Jibril a.s. menampakkan diri saat aku menaiki satu anak tangga seraya mengatakan, ‘Jauhlah (dari rahmat Allah) orang yang hidup dan mengalami masa tua kedua orangtuanya, tetapi dia tidak masuk surga.’ Maka, aku katakan ‘Amin.’ ‘Jauhlah (dari rahmat Allah) orang yang di sisinya disebut namaku, tetapi tidak mengucapkan shalawat atasku.’ Maka, aku katakan ‘Amin.’

‘Jauhlah (dari rahmat Allah) orang yang mengalami Ramadhan, tetapi tidak mendapat ampunan Allah,’ lalu aku katakan ‘Amin.’” (H.R. Thabrani)

Rupanya, orang itu berpuasa, tetapi tidak mematutkan diri untuk menjadi orang yang mendapat ampunan Allah.

Ada lagi yang lebih memprihatinkan. Rasulullah Saw. bersabda,

“Sesungguhnya orang pailit dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi, dia juga telah mencaci si ini, menuduh si ini tanpa bukti, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si ini. Maka, orang (yang dizalimi) itu diberi dari kebaikan orang (yang beribadah) itu. Jika kebaikannya sudah habis sebelum dosanya habis maka diambillah dosa dari orang yang dizalimi lalu dilimpahkan kepada orang yang menzalimi itu kemudian dilemparkan ke dalam neraka.”

Jadi, penggalan hadis yang mengatakan, “Orang yang shaum mendapat dua kebahagiaan. Jika dia berbuka, dia bahagia dengan bukanya. Jika dia berjumpa dengan Tuhannya, dia berbahagia dengan shaumnya…” Itu berlaku manakala orang tersebut berpuasa dan menjaga diri dari segala macam bentuk kezaliman, baik berupa kata-kata maupun perbuatan. Sedangkan, jika sambil dia melaksanakan ibadah tetapi juga melakukan kezaliman, maka segala ibadah bisa hancur dan pelakunya menjadi orang yang pailit. Paling banter, dia mungkin hanya mendapatkan kenikmatan saat berbuka puasa di waktu Magrib. Setelah itu, dia tidak mendapatkan apa pun dari Allah Swt. Wallahu a‘lam.

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment