Orang Yang Mendapat Keringanan Dalam Puasa

Assalamu’alaykum. Pak Aam mohon penjelasannya, Ramadhan tahun lalu ayah saya sakit, hingga sekarang belum bisa qadla karena fisiknya tidak memungkinkan. Apa yang harus dilakukan? Apakah boleh membayarnya dengan fidyah? Terima kasih (Marina by email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya ibu Marina dan pembaca sekalian shaum atau puasa Ramadhan secara umum adalah kewajiban yang bersifat fisik yakni menahan lapar dan haus dari terbit fajar (Subuh) hingga terbenam matahari (Maghrib) sehingga diperlukan kondisi fisik yang sehat atau prima. Namun tentu saja kondisi fisik setiap orang berbeda-beda, karena itu Allah swt. memberikan rukhshah (keringanan) kepada orang-orang tertentu untuk meninggalkan shaum dan menggantinya dengan qadla atau fidyah.

Qadla artinya mengganti puasa Ramadhan yang kita tinggalkan (tidak puasa atau batal) diluar bulan Ramadhan. Sementara fidyah adalah memberi nafkah atau memberi makan dan minum kepada orang lain lebih utama kepada fakir miskin selama atau sejumlah hari yang kita tinggalkan puasa di bulan Ramadhan. Untuk memudahkan pemahaman, kita bagi orang-orang yang diperbolehkan berbuka pada tiga kelompok, yaitu:

  1. Orang yang boleh berbuka namun wajib qadla.

Orang yang sedang dalam perjalanan (safar) dan orang sakit yang ada harapan sembuh diperbolehkan tidak shaum Ramadhan atau membatalka shaumnya namun mereka wajib meng-qadla (mengganti)-nya. Hal ini seperti yang Allah Swt firmankan dalam Al Qur’an:

“Barangsiapa di antaramu sakit atau bepergian (lalu meninggalkan shaumnya, maka wajib shaum) sebanyak hari itu pada hari-hari yang lain.” (Q.S. Al Baqarah 2: 185)

donasi perpustakaan masjid

Al Muasir 1a

 

  1. Orang yang boleh berbuka namun wajib fidyah

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Swt dalam Al Quran tentang kewajiban menunaikan fidyah ini:

“Dan bagi orang-orang yang berat mengerjakannya, kewajibannya adalah fidyah dengan memberi makan kepada seorang miskin.” (Q.S. Al Baqarah 2: 184).

Namun ayat ini tidak merinci siapa saja yang bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang berat mengerjakannya, penjelasannya dapat dilihat dalam riwayat berikut.

“Rukhsah (keringanan) bagi laki-laki maupun wanita yang lanjut usia (uzur) untuk berbuka dan memberi makan untuk setiap harinya seorang yang miskin. Demikian pula wanita hamil dan yang menyusui jika mereka khawatir terhadap anaknya, boleh berbuka dan memberi makan.” (H.R. Abu Dawud).

Para ahli berpendapat bahwa orang yang sakit menahun, yakni orang yang selalu jatuh sakit apabila puasa atau sakitnya tidak ada harapan sembuh, orang seperti ini dikategorikan atau dianalogikan seperti orang uzur. Jadi, tidak bayar qadla tapi fidyah. Bertolak dari analisis ini, ayah Anda tidak perlu qadla tapi cukup bayar fidyah karena penyakitnya dikategorikan menahun.

3. Orang yang wajib berbuka dan wajib qadla.

 

Wanita yang sedang haid atau nifas wajib berbuka atau dengan kata lain haram melaksanakan shaum. Kemudian harus menggantinya dengan qadla. Rasulullah saw. bersabda,

“Bukankah jika perempuan haid tidak shaum dan tidak shalat?” (H.R. Bukhari). Salah seorang istri Nabi berkata, “Kami mendapat haid pada zaman Rasulullah saw. kemudian bersih. Maka beliau menyuruh kami mengqadla shaum dan tidak menyuruh kami mengqadla shalat.” (H.R. Nasa’i)

Itulah sejumlah keringanan yang Allah berikan untuk orang-orang yang berpuasa. Semoga Allah swt. memberikan kekuatan agar kita bisa melaksanakan shaum dengan sempurna. Amin. Wallahu A’alam.[ ]

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

 

(Visited 6 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment