Kartika : Menjadi Marbot Masjid Itu Menenangkan Jiwa

PERCIKANIMAN.ID – – Kartika yang biasa dipanggil Mang Endik (56), tak pernah menyangka jika dua tahun terakhir ini akan menekuni prosesi sebagai marbot masjid. Jiwanya terpanggil untuk membantu merawat masjid tak lama setelah dirinya tidak lagi aktif berwirausaha.

Ditemui saat membersihkan Masjid Al Fajar di jalan Rajawali Timur Kecamatan Andir, Kota Bandung, Kartika menuturkan jika dirinya bersentuhan dengan masjid saat pembangunan masjid Al Fajar sekitar tahun 2014. Saat itu ia sedang berjualan sayuran sebagai pedagang kaki lima. Rupanya, semakin hari jualannya bukan semakin menguntungkan. Pendapatan Martika semakin meninpis hingga akhirnya gulung tikar.

“Terus terang selama berjualan, malah membuat capek hati ini. Modal yang ditanam akhirnya justru tak bersisa dan bingung harus terus menambah modal. Sementara kalau meminjam harus mampu mengembalikannya. Karena hal itu pulalah, akibatnya saya kadang dalam urusan ibadah shalat malah kadang ada bolongnya dan menganggap seperti hal biasa saja kalau ditinggalkan,” terangnya membuka perbincangan di awal Ramadhan ini.

Karena kondisi yang tak kunjung menentu, Kartika pun memutuskan tak berjualan lagi. Karena hidup harus terus berjalan, apalagi ia belum memiliki rumah, makanya untuk tetap bertahan hidup, sang isteri Sutini (48) memutuskan untuk menjadi TKW di Malaysia selama dua tahun sejak tahun 2015. Rencananya, Sutini akan kembali ke tanah air pada Agustus 2017 ini.

Meski berat hati mengizinkan istri, tetapi Kartika sadar, ikhtiar tetap harus dilakukan. Ia sadar bahwa suami harus bertanggung jawab di dalam mencari nafkah. Tetapi apa daya, karena kebutuhan setiap hari ada maka diambillah keputusan itu walaupun sangat berat baginya.

promo oktober

“Saat itu tak ada pilihan lain, suami itu yang wajib mencari nafkah tetapi karena kondisi tak menentu maka isteri saya diizinkan ke Malaysia, “ ujarnya yang terlihat begitu berat mengambil keputusan tersebut.

Rupanya Allah berkehendak lain, saat jualannya harus gulung tikar, justru kesempatan itulah yang mendorong Kartika untuk bisa belajar agama di Masjid Al Fajar. Setidaknya dengan melakukan hal itu, lambat laun ia mulai memahami tentang perihal ilmu agama yang selama ini justeru tak pernah ia hiraukan. Semakin banyak ia belajar maka semakin banyak yang ia tidak tahu.

Dari perkenalan melalui majelis ilmu itulah, muncul tawaran dari salah seorang pengurus di masjid Al Fajar untuk menjadi marbot. Kartika mengakui bahwa ia tidak menganggap profesi marbot sebagai sandaran hidup, namun  lebih kepada sebuah rasa tanggung jawab besar sebagai muslim. Siapa lagi yang akan mengurus masjid kalau bukan orang yang diberi kesempatan untuk melakukan hal itu.

“Hal ini sebuah panggilan jiwa yang dilakukan hanya karena Allah, bukan untuk mendapatkan sesuatu. Dengan menjadi marbot di masjid ini batin saya menjadi tenang.  Melaksanakan Shalat berjamaah pun bisa tepat waktu, sebab kalau dulu mana ada kesempatan untuk melakukan hal itu karena sibuk berjualan,” ucap Kartika yang sesekali mendapat uang dari hasil menambal ban dengan membantu rekannya yang membuka usaha jasa tambal ban di jalan Rajawali Timur.

Kartika mengakui jika hal itu digeluti ia bisa mendapat uang antara tiga puluh sampai lima puluh ribu rupiah, tetapi penghasilan itu justeru bukan untuk kebutuhan dirinya saja melainkan ia bagikan juga kepada rekan atau kepada orang yang membutuhkan. “Justru saat kurang uang saya bisa bersedekah, tapi dulu saat berjaulan tak pernah terpikir untuk melakukan ghal itu,” tambahnya.

Kartika, kendati ia pun setiap bulan mendapatkan penghasilan sebagai marbot kurang lebih dua ratus lima puluh ribu rupiah, tetapi  itu tak seberapa bila dibandingkan dengan pahala yang diberikan oleh Allah SWT karena mengurus masjid bukan sebuah pekerjaan kecil di mata Allah. Sekecil apapun kebaikan yang dilakukan oleh setiap muslim khususnya mengurus masjid maka, tentu saja pahala pun akan diberikan kepada siapa saja yang melakukannya. Kendati begitu, menurut Kartika ia pun terkadang mendapatkan pula imbalan dari orang yang peduli dengannya.

Kartika ,marbot Al Fajar
Kartika ,marbot Al Fajar

“Intinya uang bukan segalanya saat saya mengurusi masjid ini tetapi yang terpenting bagi saya, dengan melakukan pekerjaan itu tentu saja bisa semakin dekat dengan Allah,” tambahnya kala itu.

Menariknya, sang isteri yang kini jadi TKW di Malaysia mendengar sang suami justeru menjadi marbot masjid malah merasa senang dan bahkan sangat mendukung apa yang dilakukan oleh sang suami. Bahkan dari mulut sang isteri, jika belum dapat membeli rumah maka saat mengontrak rumah pun sebaiknya mencari lokasi yang dekat dengan masjid Al Fajar agar bisa mengurusinya pula. Perkataan sang isteri membuat Kartika merasa terharu karena Kartika pun mengutarakan kepada sang isteri jika menjadi marbot sangat jauh dari kegelisahan yang selama ini dirasakannya sewaktu berjualan. Bagi Kartika, marbot yang sehari-hari menyapu lantai, mengepel, membetulkan saluran air untuk kebutuhan wudhu dan menyiapkan segala sesuatu khususnya pada hari Jumat karena pada waktu itu masjid menggelar Shalat Jumat bukanlah pekerjaan mudah.

“Makanya kalau hari Jumat itu benar-benar sibuk dan fokus untuk melakukan segalanya hingga di hari Jumat saya tak mengerjakan pekerjaan lain kecuali khusus untuk persiapan Shalat Jumat,” imbuhnya dan menjadi marbot baginya adalah pekerjaan yang sangat mulia.

Uniknya, selain menjadi marbot, Kartika kadang juga menjadi juru masak atau sekedar menyediakan minuman untuk para pengurus yang hadir pada Jumat. Bahkan pada hari Jumat pun di masjid Al Fajar ini selalu disediakan makan siang seraya membuka kencleng masjid itu. Bukan pada saat itu saja, Kartika pun ketika Ramadan tiba sudah dua tahun ini selalu menyediakan makanan untuk sahur atau untuk berbuka pula. Sehingga dengan pekerjaan yang dilakukannya itu, Kartika justeru merasa enjoy dan merasa bakti yang dipersembahkan untuk masjid itu semakin membuat dirinya mencintai dan semakin ingin dekat dengan suasana masjid itu.

“Kalau saya boleh jujur, berada di lingkungan masjid justeru membuat saya menjadi sadar jika masjid selalu medorong kita agar selalu mengingat Allah dalam berbagai kesempatan apapun. Insya Allah apa yang saya lakukan ini adalah bagian untuk memakmurkan masjid juga,” kata Kartika tampak bangga.

Kartika, salah satu sosok marbot diantara banyak marbot yang peduli untuk mengelola dan memelihara masjid. Baginya, memelihara masjid Al Fajar adalah bagian tersendiri dari episode kehidupannya. Bahkan di masjid Al Fajar pun yang ada kolam kecil sengaja ia manfaatkan untuk beternak lele.

“Saya lakukan hal itu bukan untuk dikonsumsi melainkan sedikit hiburan bagi saya dan jamaah yang berkunjung ke masjid Al Fajar ini, tetap saja, intinya kebahagiaan yang hakiki adalah selalu dekat dengan Allah,” pungkasnya menutup obrolan Ramadhan.

Sahabat PercikanIman.id, Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini Percikaniman Online mengajak sahabat  sekalian untuk peduli pada kesejahteraan para marbot masjid.  Mari berbagi dengan para marbot masjid dalam program Tanda Cinta Untuk Marbot.

Salurkan donasi sahabat melalui program Tanda Cinta untuk Marbot yang hanya dilakukan secara online.  Donasi dapat disampaikan melalui  transfer ke Rekening BCA No. 438-302-8020- An Khazanah Intelektual. Info program hubungi : telp/whatsapp  0818-0998-0963. [ ]

[ ]

Repoter : Deffy Ruspiyandy

Editor: Iman

Foto: Deffy

THR Marbot

(Visited 2 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment