Wanita Nifas Menyusui, Harus Qadha atau Bayar Fidyah?

Menyusu

Teh Sasa, awal Ramadhan tahun lalu, saya melahirkan anak pertama. Selama nifas dan menyusui, saya tidak shaum dan sampai saat ini saya belum lunas membayar fidyahnya. Sebenarnya, apakah seorang wanita yang tengah menjalani masa nifas cukup membayar fidyah untuk mengganti shaum yang dia tinggalkan atau harus mengqadhanya di lain hari? Sampai kapan batas pembayaran fidyah tersebut? Apakah jumlahnya menjadi berlipat karena telat membayarkan fidyah tersebut. Jazakallah khair atas jawabannya.

 
Ibu yang dirahmati oleh Allah Swt., seorang wanita yang mengalami nifas di bulan Ramadhan itu diharamkan shaum, seperti halnya wanita yang sedang haid. Untuk shaum yang ditinggalkannya itu, dia diwajibkan mengganti dengan shaum di hari lain setelah usai Ramadhan. Bukan dengan membayar fidyah, tapi mengganti dengan shaum yang istilahnya adalah qadha.

Waktu untuk melakukan penggantian shaum atau qadha adalah sejak 2 Syawal hingga 29 atau 30 Syaban tahun berikutnya dan tahun selanjutnya selama yang bersangkutan hidup. Meski diberi keleluasaan waktu, sebaiknya kita menyegerakan qadha sebelum wafat. Ya, ketika kita sedang dalam keadaan suci, tidak sedang haid atau nifas, sebaiknya kita melunasi tunggakan shaum kita. Kita dibolehkan untuk mengqadha secara berurutan ataupun mencicil satu per satu (tidak harus berurutan). Yang penting, jumlah harinya sama dengan jumlah hari yang ditinggalkan. Jangan sampai karena terlalu lama lantas kita lupa jumlah pastinya. Kalau terlanjur lupa, ambil jumlah perkiraan dan lebihkan karena lebih baik lebih daripada kurang.

Fidyah
Sedangkan tentang fidyah, itu merupakan rukhsah (keringanan) bagi orang yang meninggalkan shaum karena berat atau tidak mampu lagi melakukannya. Misalnya, orang yang sudah renta yang sudah tidak mungkin menjalankan shaum di bulan Ramadhan atau menggantinya di luar Ramadhan. Untuk mereka, Allah Swt. telah menetapkan bahwa fidyah adalah pengganti shaum. Fidyah sendiri artinya adalah pemberian bahan makanan pokok atau siap saji kepada fakir atau miskin sesuai jumlah hari tidak shaum Ramadhan sebagaimana diterangkan dalam ayat berikut:

… Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah [2]: 184)

Sebagian ulama menambah kategori orang yang tidak mampu shaum dan menggantinya dengan fidyah secara lebih luas lagi, mencakup untuk orang yang sakit menahun dan sakitnya itu membuat yang bersangkutan tidak mampu shaum, serta wanita hamil dan menyusui (ASI eksklusif).

BACA JUGA  Dan Shaum Itu Lebih Baik

Apabila ibu yang bertanya tidak shaum Ramadhan karena mengkhawatirkan kesehatan dan asupan ASI bayi, maka hukumnya seperti seorang yang tidak mampu shaum. Karenanya, dibolehkan tidak shaum dan cukup dengan membayar fidyah. Apabila tidak shaum karena mengkhawatirkan diri sendiri masih lemah karena nifas atau takut ASI tidak keluar kalau dipaksa shaum, maka tidak termasuk kategori orang yang tidak mampu mengqadha melainkan masuk ke dalam kategori orang yang sakit dan dilarang shaum selama nifas. Sehingga, ibu boleh tidak shaum namun wajib mengqadha shaum di lain waktu tanpa ada kewajiban untuk membayar fidyah.

Nilai Fidyah
Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan takaran fidyah. Ada yang mengatakan satu mud (¼ sha) dan ada pula yang mengatakan dua mud (½ sha). Mengenai takaran 1 sha juga terdapat perbedaan pendapat, namun jika dirata-ratakan maka nilainya sekitar 2,5 – 3 kg.

Imam As-Syafi`i dan Imam Malik menetapkan bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada seorang fakir miskin adalah satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi Muhammad Saw.
Sedangkan, menurut Abu Hanifah, ukuran fidyah dengan dua mud gandum dengan ukuran mud Rasulullah Saw. atau setara dengan setengah sha kurma atau tepung atau setara dengan memberi makan siang dan makan malam hingga kenyang.

Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa nilaf fidyah adalah ½ sha atau satu mud. Satu sha jika dikonversikan dengan kilogram adalah ukuran sekali makan setiap hari dari shaum yang ditinggalkan atau sekitar 2,2; 2,5; atau 3 kg. Jenis makanan yang dijadikan fidyah disesuaikan dengan jenis bahan makanan pokok setempat. Kalau membayar fidyah di Indonesia, tentu saja dengan bahan makanan pokok penduduk setempat, seperti beras atau nasi.

Esensi fidyah adalah bisa mencukupi makan seorang fakir miskin dalam sehari. Dia bisa makan bahan mentah atau bahan siap saji. Jika ditambahkan lauk pauk, insya Allah lebih baik dan mengenyangkan.

Batas Waktu Pembayaran Fidyah
Abu Hanifah mengatakan bahwa fidyah itu dibayarkan sesuai dengan jumlah shaum yang ditinggalkan, tidak menjadi berlipat ganda karena telat membayarnya. Wallaahu a‘lam.  (Sasa Esa Agustiana)

(Visited 15 times, 6 visits today)

REKOMENDASI

One Thought to “Wanita Nifas Menyusui, Harus Qadha atau Bayar Fidyah?”

  1. lancar asi

    terimakasih pak ustad. menambah wawasan keislaman saya

Leave a Comment