Puasa adalah Universal

bunga

Oleh : Ir. H. Bambang Pranggono, MBA,IAI *

Hai, orang-orang beriman, diwa­jib­kan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum­mu agar kamu bertakwa,” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183)

Para mufasir klasik menuliskan berbagai arti tentang maksud “orang-orang sebelum kamu” dalam ayat tersebut. Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksudnya ialah kaum Yahudi. Kemudian At-Thabari mengatakan bahwa maksudnya ialah kaum Nasrani. Sedangkan, Mujahid menyebutkan maksudnya ialah seluruh Ahli Kitab. Lalu, Qatadah berpendapat maksudnya ialah seluruh manusia.

Akhirnya, Az-Zamakhsyary dalam Tafsir al-Kasysyaf menuliskan pendapat Ali bahwa puasa telah disyariatkan kepada seluruh umat manusia sejak Adam. Tafsiran yang berbeda-beda, tetapi semua mengarah pada puasa hanya untuk manusia. Padahal, ada ayat lain yang mengatakan bahwa binatang juga umat seperti kita.

Tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-bu­rung yang terbang dengan ke­dua sayapnya, melainkan se­mu­anya merupakan umat-umat se­­pertimu.” (Q.S. Al-An‘ām [6]: 38)

Maka, sunnatullah puasa seharusnya juga meliputi dunia binatang. Dan, ternyata memang terbukti bahwa pada binatang pun ditemukan perilaku yang bisa digolongkan sebagai kegiatan berpuasa. Beberapa jenis binatang berpuasa dalam proses pembiakan. Prof. Morgulis dalam buku History of Fishes karangan J.R.Norman menyebut tentang ikan betina jenis cichlidae yang berpuasa di musim kawin.

Juga, ikan salmon jantan yang setahun sekali berpuasa selama berminggu-minggu ketika berenang melawan arus dan jeram, sehingga timbunan lemaknya habis dan tinggallah otot kencang yang diperlukan di arena perkawinan di hulu sungai. Anjing laut dan singa laut Alaska berpuasa setiap tahun selama tiga bulan antara Mei sampai Juli. Ulat tidak pernah berhenti makan, tetapi dalam fase kepompong, ia berpuasa tidak makan dan tidak bergerak sebelum akhirnya bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Induk ayam berpuasa selama mengerami telurnya dan anak ayam tidak makan pada hari-hari pertama sejak menetas dari telur.

Secara naluri, binatang berpuasa untuk sembuh. Gajah yang sakit atau terluka tetap berjalan mengikuti kelompok, tetapi ketika rombongan berhenti untuk makan, ia menyendiri di bawah pohon. Begitu juga binatang peliharaan seperti anjing, kucing, sapi, domba, bahkan babi tidak mau makan kalau sedang sakit atau terluka. Binatang juga sanggup berpuasa dalam kondisi darurat. Iguana laut dari kepulauan Galapagos yang dikurung bisa tidak makan minum sampai 100 hari.

Di musim dingin membeku, beruang kutub, anjing prairie, kelelawar, dan binatang di daerah subtropis berhibernasi: diam tidak bergerak tanpa makan minum berbulan-bulan sampai tiba musim semi. Sebaliknya, di daerah panas gersang buaya, ikan, kepiting, kodok, cacing pipih, lintah, keong, dan binatang gurun pasir melakukan estivasi, yakni berpuasa panjang tidak bergerak dalam lumpur kering sampai tiba musim hujan.

BACA JUGA  Awas Jerat Pornografi dari “Gadget” Anak! (Bag 3)

Edwin E. Slossom, Ph.D., Direktur Pelayanan Sains di Washington, menulis dalam “Keeping Up with Science” bahwa reptil bisa berpuasa sampai beberapa tahun, kalajengking sampai 1 tahun, laba-laba 17 bulan, kodok 16 bulan, ular sampai 2 tahun, ikan 20 bulan, kura-kura 1 tahun. Sedangkan, anjing tercatat bisa berpuasa sampai 117 hari, kucing 20 hari, kelinci 15 hari, tikus 6 hari, dan babi 8 hari. Keong Afrika jenis helix desertorum bisa ber-estivasi, puasa 5 tahun. Sedangkan, saudaranya keong gurun California jenis helix veatchii bisa sampai 6 tahun.  Bahkan, binatang bersel tunggal, amuba, bisa berpuasa selama 4-21 hari sebelum mereka akhirnya mati. Jadi, ternyata puasa memang sudah “dituliskan” juga untuk dunia binatang.

Selanjutnya, apabila makna umat diperluas lagi bahwa tumbuh-tumbuhan pun bisa dianggap umat seperti kita, maka mungkinkah mereka berpuasa? Ternyata, mereka pun melaksanakan perilaku yang mirip puasa. Pohon-pohon di daerah subtropis menggugurkan daun di musim rontok, lalu berpuasa selama musim dingin bersalju. Mereka tidak makan, tidak mengisap karbon dioksida dan nitrogen dari udara, dan tidak menyedot air dan mineral melalui akar dari bawah tanah selama berbulan-bulan sampai tiba musim semi untuk berbuka puasa. Mereka makan dan minum lagi sampai tiba bulan-bulan dingin saat berpuasa lagi.

Ahli Fisika dan Botani terkemuka dari Bangladesh, Jagadish Chandra Bose, di tahun1927 menciptakan alat yang dinamakan “crescograph-instrumen” yang bisa mendeteksi pertumbuhan 1/sejuta mm perdetik yang digunakan untuk mengukur respons tumbuh-tumbuhan terhadap berbagai stimuli. Hasilnya, tumbuh-tumbuhan memiliki sensor mekanisme yang mirip saraf pada binatang, sehingga mereka bisa mengenal dan bereaksi terhadap hadirnya orang yang pernah melukai atau menyiksa mereka. Tumbuh-tumbuhan tersebut juga terbukti bisa tumbuh lebih subur dalam musik yang nyaman dibandingkan saat di tengah kebisingan.

Tumbuh-tumbuhan bisa merasakan sakit kalau dilukai dan bisa mengenal kasih sayang. Teori ini diperkuat oleh Wildon dalam jurnal Nature tahun1992. Berarti, tumbuh-tumbuhan pun ternyata makhluk yang hidup.
Selanjutnya, Prof. Bose menemukan bahwa yang disebut benda mati seperti logam dan batu sebetulnya juga bereaksi terhadap berbagai stimuli. Mereka bisa kedinginan, kecanduan alkohol, kelelahan akibat kerja berat, pingsan oleh anestesi, terangsang oleh sengatan listrik, dan bisa “mati”- berhenti bereaksi sama sekali.

Teori Dr. Bose ini seharusnya menggelitik ilmuwan Muslim untuk meneliti lebih lanjut tentang bagaimana bentuk puasa bagi benda mati. Dengan begitu, bisa semakin terungkap bahwa puasa adalah sunnatullah yang berlaku di seluruh alam semesta. Puasa adalah Universal. Wallahu a’lam

*Penulis adalah pegiat dakwah, penulis buku dan pendidik

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment