Berjilbab Hanya Saat Ramadhan Saja, Apa Hukumnya

jilbab hijab

Ustadz, bagaimana hukum mengenakan jilbab hanya di bulan Ramadhan saja?

 

Kewajiban menutup aurat bagi setiap muslimah merupakan sesuatu yang tidak tertawarkan. Sepanjang ia tidak memenuhinya dan senantiasa membuka aurat tersebut, maka sepanjang itu pula dosa terus mengalir deras pada diri yang bersangkutan, na’udzubillah. Boleh jadi, muslimah tersebut shalatnya rajin dan shaumnya tidak ketinggalan. Tapi ketika ia mengabaikan perintah berjilbab ini, semuanya menjadi seolah tidak berpengaruh. Ibarat orang yang bertobat dan sadar akan kesalahannya sebelum shalat, tapi setelah shalat ia melakukan kembali apa yang ditobatinya. Bukankah tobat seperti itu tidak akan diterima?

 

Itulah sebabnya mengapa mayoritas penghuni neraka adalah perempuan sebagaimana pernah diperlihatkan kepada Rasulullah.Boleh jadi, hal ini dikarenakan begitu banyaknya perempuan mengabaikan perintah menutup aurat ini, selain kebiasaan buruk pada suami seperti menyepelekan atau bahkan menghilangkan kebaikan suami hanya karena perkara sepele padahal sang suami sudah berjuang sekemampuannya untuk membahagiakan anak dan istrinya tersebut.

 

Kewajiban menutup aurot dalam ajaran Islam jelas ditunjang sejumlah dalil dalam Al-Quran dan hadits. Salah satunya ada dalam ayat berikut.

 

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

promooktober1

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’” (Q.S. An-Nuur [24]: 31)

 

Karenanya, marilah kita senantiasa menjaga kehormatan Islam dalam diri kita dengan senantiasa menutup aurat. Jangan sampai kita lengah menutupnya atau menutup aurot hanya dalam kesempatan tertentu saja. Dalam logika ajaran Islam, mengambil sebagian kewajiban dan mengabaikan sebagian yang lain sama saja dengan mengabaikan keseluruhannya. Mari kita cermati ayat berikut.

 

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir).” (Q.S. An-Nisa [4]: 150)

 

Di sini, saya tidak henti-hentinya mengajak kaum muslimah untuk memakai penutup aurat yang layak dan memenuhi kriteria syar’i. Mari kita simak peringatan Rasulullah Saw. tentang mode pakaian yang dikenakan untuk menutup aurat.

 

عَنْ هِنْدٍ بِنْتِ الْحَارِثِ الْفِرَاسِيَّةِ أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَزِعًا يَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ الْخَزَائِنِ وَمَاذَا أُنْزِلَ مِنْ الْفِتَنِ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ يُرِيدُ أَزْوَاجَهُ لِكَيْ يُصَلِّينَ رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ

“Dari Hindun binti Al Harits Al Firasiyyah, bahwasanya Ummu Salamah istri Nabi Saw. mengatakan; Suatu malam Rasulullah bangun dengan agak gusar dan mengucapkan: ‘Subhanallah, perbendaharaan apa lagi yang Allah turunkan? Dan fitnah apa lagi yang Allah turunkan? Siapa yang mau membangunkan penghuni kamar-kamar (maksudnya isterinya) untuk shalat? Betapa banyak orang berpakaian di dunia namun di akhirat telanjang.’”

 

Bagaimanapun, berjilbab di bulan Ramadhan pastinya merupakan suatu kebaikan. Akan tetapi akan menjadi bukti keberhasilan shaum jika setelah Ramadhan seorang muslimah  melanjutkan berjilbab. Alangkah sayangnya jika perjuangan selama sebulan yang ia lakukan saat Ramadhan (khususnya berjilbab) dimentahkan lagi di kemudian hari dengan tidak lagi berjilbab. Saya yakin, para pembaca setia Percikan Iman Online tidak menginginkan hal itu, bukan? Wallahu a’lam.

(Visited 4 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment