Ubad Badruzzaman : Menjadi Marbot karena Panggilan Jiwa

PERCIKANIMAN.ID – – Siang itu di awal Ramadhan, gerimis mengguyur Kota Bandung.  Tapi sosok pria yang satu ini tetap melangkahkan kakinya ke masjid sambil membawa sang cucu.

Dialah Ubad Badruzzaman, marbot di masjid Al Ikhlash kawasan Andir Kota Bandung. Dengan kesederhanaan, ia menyambut ramah kepada setiap tamu yang bertemu dengannya.

Tahun 1975 Ubad mengembara ke Kota Bandung yang intinya untuk mencari pekerjaan. Tapi rupanya Allah berkehendak lain. Ternyata Ubad tak pernah mendapatkan pekerjaan tetap. Sekira empat tahun lalu, ia pun mencoba untuk berdagang makanan batagor di kawasan Cibabat, Kota Cimahi bersama sang adik. Namun karena harus berjualan sampai larut malam, kondisi kesehatannya ternyata tak mampu menghadapi cucaca dingin.

“Ya namanya umur menjelang tua ternyata tak kuat menghadapi cuaca dibanding anak muda akibatnya saya pun jatuh sakit dan tak bisa melanjutkannya,” ujarnya memulai percakapan sore itu.

Ubad yang tinggal bersama isteri di daerah tersebut beberapa waktu lalu, selalu melihat keadaan masjid yang saat itu kotor dan tidak terawat. Maka terpanggillah dirinya untuk memelihara masjid itu. Apalagi ia meyakini kalimat bijak bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Dan tentu saja karena masjid adalah rumah Allah.

kalender percikan iman 2018

Ia pun merasa tak nyaman jika beribadah dengan kondisi masjid yang tidak bersih. Dari sanalah hati Ubad tergerak untuk mengurus masjid tersebut tanpa ada yang menyuruh. Baginya, melakukan hal itu karena mencari ridho Allah tanpa berharap pujian dari orang yang melihatnya.

“Awal-awal saya membersihkan masjid dengan peralatan seadanya dan untuk menyempurnakan alat-alat agar bisa membersihkan masjid itu, saya membelinya dengan uang sendiri,” ungkap Ubad mengingat awal dirinya marbot di masjid itu.

Menurut Ubad , ia tak hanya sekedar bekerja membersihkan masjid. Namun ia pun harus mengumandangkan adzan saat waktu Shalat tiba. Tidak sampai di situ. Anak-anak pun yang mengaji ternyata tak ada guru, hingga Ubad pun memutuskan mengajar al Quran juga.

Tetapi anak-anak yang mengaji jumlahnya turun naik. Kadang banyak, ada kalanya sedikit. Kini yang tersisa hanya sekitar 7 orang walaupun saat awal-awal itu yang mengaji ada 40 orang. Kadang ia pun harus menjadi imam masjid termasuk menjadi imam tarawih pada bulan Ramnadan.

“Jika dipikir sih memang seperti merangkap tetapi karena memang saat itu tak ada yang mengerjakannya naka saya mau tidak mau melakukan hal itu sebagai sebuah kewajiban yang tak bisa ditinggalkan,” tandasnya pada kesempatan itu.

Saat ini, Ubad selaku marbot mengisi sebuah kamar di belakang masjid setelah rumahnya dijual. Hal itu bukan dilakukan karena kepepet persoalan ekonomi, namun karena sang mertua perempuan yang tinggal di kawasan Cikalong sakit-sakitan, sehingga isterinya diminta untuk merawat di sana. Sedang anak-anaknya yang sudah menikah tinggal juga dekat masjid itu sendiri.

Ubad merasa beruntung bisa mengisi sebuah kamar di masjid tanpa harus mengontrak rumah. Kata Ubad, sesungguhnya koodinator pengelola masjid sudah ada setelah terbentuk kepengurusan baru. Tetapi karena memelihara masjid tidak bisa dilakukan seminggu sekali, tentu saja kewajiban itu tetap menjadi tugas dari Ubad.

 Ubad Badruzaman Marbot Masjid Al Ikhlas
Ubad Badruzaman Marbot Masjid Al Ikhlas

“ Ya itu tadi, biar pun ada pengurus masjid, namun ternyata Allah tetap memberi kesempatan kepada saya untuk tetap menjadi marbot sesuai panggilan jiwa,” tegas Ubad.

Terkait kesejahteraan yang diterima Ubad, jika dilihat secara realita sesungguhnya tak sepadan dengan pekerjaan yang dilakukannya. Namun kata Ubad, tanpa digaji pun sesungguhnya ia akan tetap mengerjakan pekerjaan itu memelihara marbot. Untuk beberapa tahun terakhir Ubad bersyukur bisa mendapatkan gaji bulanan sebesar seratus lima puluh ribu rupiah.

Jika dilihat jumlahnya memang jauh dari cukup, tapi nyatanya selalu ada saja rezeki dari pintu lain walaupun ia tak memiliki pekerjaan tetap saat ini. Selain itu, setiap tahun ia pun berpeluang mendapat zakat fitrah sebagai amilin. Hal itu karena warga yang tinggal di dekat masjid kebanyakan pendatang, yang lebih suka membayar zakat apabila disambangi oleh Ubad.  Namun ketika masih bersama isterinya di Kota Bandung, Ubad tak khawatir karena sang isteri saat itu pun berjualan pakaian keliling kepada warga di sana.

“Alhamdulillah saya punya isteri yang baik sehingga bisa membantu keadaan ekonomi keluarga,” jelas Ubad yang menyebut isterinya bernama Sofiyati (52).

Ubad menuturkan, ia bersama isteri dikaruniai 6 anak. Dari enam orang itu, empat di antaranya sudah menikah dan tinggal dekat masjid Al Ikhlash. Sedangkan satu orang anaknya kini sekolah di SMK dan satu lagi yang berumur tiga tahun tinggal bersama isterinya di Cikalong. Jika kakak-kakaknya sebagian besar tamat SM, namun untuk anak kelimanya Ubad mengusahakan anaknya untuk bisa tamat SMK untuk masa depannya.

Baginya, pendidikan itu penting baik pendidikan agma maupun pendidikan umum. Kendati berat dalam urusan biaya tetapi Ubad tetap akan terus memperjuangkannya walaupun secara jujur untuk biaya sekolah anaknya kini ia pun harus menunggak. Anaknya sengaja di sekolahkan di SMK Swasta di Cijerah agar bisa ditempuh oleh anaknya tanpa harus menggunakan ongkos karena bisa jalan kaki.

“Di sini saya mendidik anak untuk bisa hidup sederhana, tetapi tetap memiliki cita-cita yang tinggi dalam hidupnya,” urai Pak Ubad kepada penulis.

Biarpun menjadi marbot  terlihat sebagai pekerjaan sederhana di mata orang-orang, namun bagi Ubad itu tak pernah dipersoalkannya. Ia yakin bahwa marbot itu dapat pahala dari Allah. Jika semua orang tidak mau menjadi marbot, maka siapa lagi yang akan memelihara masjid.

Kata Ubad, dengan mampu memelihara masjid, hal ini akan membawa kebaikan bagi mereka yang melaksanakan ibadah di masjid. Masjid yang nyaman dan bersih akan memunculkan sebuah motivasi bagi orang yang hendak shalat di masjid.

“Sahalat berjamaah itu kan pahala 27 derajat dan akan semakin nyaman kalau masjidnya bersih. Ya mudah-mudahan dengan masjidnya bersih semoga saja banyak orang datang untuk Shalat di masjid,” ujarnya.

Ubad menyadari, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia tak bisa selamanya mengandalkan marbot. Tetapi ditegaskannya, kalaupun ia bsia bekerja kembali, profesi marbot tetap ia lakoni karena itu urusannya dengan Allah.

Memang ada keinginan  Ubad untuk bisa berjualan, tetapi ia terkendala modal. Ia berangan-angan bisa berdagang apa saja terutama yang memakai roda. Dengan berjualan, ia berharap dapat mengurangi beban hidup khususnya bagi biaya anaknya yang sekolah di SMK.

“Boleh dong saya punya cita-cita walaupun tentunya menjadi marbot tak sedikit pun pikiran untuk meninggalkannya,” tegas Ubad.

Ubad pun berharap ada donatur yang bisa membantu masalah ekonominya. Ia bukannya mengeluh dengan keadaannya, tetapi hal tersebut sebagai bentuk ikhtiar yang dilakukannya. Siapa tahu ada yang peduli dengan dirinya.

“Bagi mereka yang berbuat baik tentu saja semoga Allah membalas segala kebaikannya. Tetapi terus terang, menjadi marbot saya selalu merasa senang dan bisa selalu dekat dengan Allah,” pungkasnya menutup obrolan.

Sahabat PercikanIman.id, Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini percikaniman.id mengajak sahabat  sekalian untuk peduli pada kesejahteraan para marbot masjid.  Mari berbagi dengan para marbot masjid dalam program Tanda Cinta Untuk Marbot.

Salurkan donasi sahabat melalui program Tanda Cinta untuk Marbot yang hanya dilakukan secara online.  Donasi dapat disampaikan melalui  transfer ke Rekening BCA No. 438-302-8020- An Khazanah Intelektual.Info program hubungi : telp/whatsapp  0818-0998-0963. [ ]

 

Red: Deffy

Editor: Iman

Foto: Ruspiyandy

 

 

(Visited 8 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment