Ramadhan Bulan Perubahan (Bedah Q.S Al-Baqarah (2): 185)

bulan baru

Oleh : Dr. Aam Amiruddin

Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manu­sia dan penjelasan-penjelasan me­nge­nai petunjuk itu, serta sebagai pembeda antara yang benar dan yang batil. Siapa pun di antaramu berada di negeri tempat tinggalnya pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa. Jika tidak berpuasa karena sakit atau dalam perjalanan, kamu wajib menggantinya pada hari lain sebanyak hari yang di­ting­galkannya itu. Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu men­cukupkan bilangannya dan meng­­a­gungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar ka­mu bersyukur.

Allah menciptakan manusia untuk menempati bumi berbekal dua karekater yang berimbang. Berbeda dengan karakter makhluk Allah sebelumnya yang hanya memiliki satu karakter, yaitu malaikat yang berkarakter positif sebagai makhluk Allah yang senantiasa taat kepada-Nya, dan setan sebagai makhluk Allah yang berkarakter negatif sebagai makhluk Allah yang senantiasa durhaka kepada-Nya. Makhluk Allah bernama manusia memiliki kedua-duanya. Karakter tersebut bisa berubah seiring berjalannya waktu, baik secara individu maupun kolektif.

Bisa saja satu karakter bertahan pada manusia dalam jangka waktu lama ketika tidak cukup potensi untuk terjadinya perubahan. Perubahan karakter pada manusia itu terjadi bisa datang dari internal dirinya dalam memaksimalkan potensi yang dimiliki saat merespons sesuatu yang datang dari eksternal yang memengaruhinya.

Dalam sejarah, manusia pertama lahir ke bumi dengan membawa karakter positif yang sangat kuat dan bertahan dalam jangka waktu lama. Namun, rupanya Allah menghendaki adanya siklus dan di kemudian hari perubahan terus terjadi silih berganti. Meski demikian, tentunya perubahan itu menjadi istimewa manakala setelah dalam jangka waktu lama manusia berada dalam masa kegelapan berubah menuju masa terang berliput cahaya Ilahi. Perubahan itu dimulai dengan turunnya pedoman hidup yang memberi petunjuk dan penerang bagi manusia ke mana seharusnya dia melangkah. Pedoman hidup itu berupa wahyu Allah yang terhimpun dalam lembaran-lembaran yang disebut Suhuf atau Kitab. Satu hal lagi, ternyata kebanyakan suhuf dan kitab itu diturunkan pada bulan Ramadhan, sesuai dengan riwayat berikut ini.

“Lembaran-lembaran Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadhan, kitab Taurat diturunkan pada tanggal 6 Ramadhan, kitab Injil diturunkan pada tanggal 13 Ramadhan, sedangkan Al-Qur’an diturunkan pada tanggal 24 Ramadhan.” (H.R. Ahmad)

Terbukti kalau bulan Ramadhan merupakan bulan dimulainya sebuah perubahan besar dalam sejarah peradaban manusia. Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. diturunkan pada bulan Ramadhan dalam dua tahap.

Pertama, diturunkan dari Lauh-Mahfuzd ke langit dunia secara sekaligus. Dalam riwayat tersebut, dijelaskan jika Al-Qur’an diturunkan pada tanggal 24 Ramadhan. Sementara, sejauh ini yang populer adalah turunnya Al-Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan.

Kedua, dari langit dunia diturunkan pada Rasulullah untuk disampaikan kepada umatnya melalui perantara Malaikat Jibril secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun, baik berdasarkan kasus per kasus maupun tidak.

Kenyataan tersebut cukup menjadi isyarat penting betapa bulan Ramadhan adalah momentum berharga untuk melakukan perubahan besar dan mendasar dalam diri setiap Muslim. Tentunya, perubahan itu dimulai dengan semakin dekatnya qalbu pada Kalam Ilahi, Al-Qur’an. Karena, Al-Qur’an satu-satunya pedoman, tuntunan, dan panduan dalam hidup menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Itulah yang disebutkan dalam Surah Al-Baqarah (2): 185 yang sedang kita bahas saat ini.

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manu­sia dan penjelasan-penjelasan me­nge­nai petunjuk itu, serta sebagai pembeda antara yang benar dan yang batil.… “

Bayyinatin (penjelasan-penjelasan) yang dimuat ayat ini maksudnya adalah petunjuk-petunjuk dan argumen-argumen yang jelas, gamblang, dan terang bagi mereka yang memahami dan mendalaminya, membuktikan kebenaran isinya yang memberi penerang dari kegelapan dan kesesatan, pembeda antara hak dan batal, halal dan haram (Ibnu Katsir).

Petikan ayat tersebut membuktikan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan istimewa untuk memaksimalkan segala kesempatan yang ada menuju perubahan yang lebih baik. Di bulan ini, terdapat sejumlah amal ibadah yang tidak didapat di bulan lainnya. Di bulan ini segudang keutamaan dari setiap butir amal yang dilakukan diperoleh dengan pahala sangat melimpah. Di bulan ini, doa kita berpeluang besar terkabul, dan sejumlah keutamaan lainnya. Sayang sekali jika bulan ini dilewatkan begitu saja. Bukan hanya kehilangan keutamaan, tetapi boleh jadi malah laknat Allah pun segera menerpa.

Itu sebabnya Allah berfirman dalam lanjutan ayat,

“… Siapa pun di antaramu berada di negeri tempat tinggalnya pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.… “

Untuk menambah motivasi akan adanya perubahan dalam diri insan beriman, maka Allah menekankan wajibnya puasa manakala mengetahui secara sadar bahwa dia telah masuk pada bulan Ramadhan. Kemudian, dipastikan bahwa dia dalam keadaan sehat serta berada dalam posisi mukim (berada di tempat tinggal).

Ibadah shaum membutuhkan kekuatan fisik. Sementara, tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memiliki kekuatan fisik pada saat Ramadhan. Untuk itu, bagi mereka yang bermasalah dengan kesehatan dan kekuatan fisiknya, Allah Swt. menegaskan dalam lanjutan ayat,

“… Jika tidak berpuasa karena sakit atau dalam perjalanan, kamu wajib menggantinya pada hari lain sebanyak hari yang ditinggalkannya itu… “

Kategori sakit tidak disebutkan secara rinci dalam dalil-dalil yang ada. Karena, sebuah penyakit akan dirasa berbeda oleh setiap orang. Boleh jadi, satu penyakit dirasa ringan bagi sebagian orang, tetapi dirasa berat bagi sebagian yang lain. Ini menunjukkan bahwa status sakit pada seseorang yang membolehkannya berbuka dari shaumnya dikembalikan pada penilaian masing-masing. Namun, alangkah logisnya jika sakit yang dimaksud adalah sakit yang menyebabkannya tidak mampu atau terasa berat untuk berpuasa.

Demikian halnya dengan bepergian. Meski ada dalil yang menyebutkan jarak minimal yang ditempuh sampai boleh berbuka, tetapi untuk saat ini batas minimal itu sifatnya menjadi relatif. Terlebih, dengan kemajuan teknologi transportasi saat ini yang kiat pesat. Boleh jadi, jarak ribuan kilometer cukup ditempuh dalam beberapa jam saja. Berbeda dengan tempo dulu yang menempuh perjalanan masih dengan cara yang tradisional, jarak beberapa kilometer saja sudah membutuhkan energi yang besar sehingga memberatkan untuk melanjutkan puasa. Untuk itu, seberapa jauh jarak perjalanan itu boleh berbuka, dikembalikan pada penilaian masing-masing. Standar logisnya tentu perjalanan itu cukup mengganggu ketenangan shaum meski cukup minimal. Yang pasti, baik berbuka karena sakit atau perjalanan, tidak lupa menggantinya dengan qadha di hari-hari berikutnya di bulan yang lain.

Ketentuan ini diberikan Allah semata demi meringankan hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak terbebani dengan perintah ibadah di luar batas kemampuannya. Sungguh, Islam ajaran yang sangat mengerti fitrah manusia. Ajaran Islam sangatlah fleksibel demi kebaikan penganutnya. Perlu diketahui, agama itu mudah. Namun, kadangkala kita sendiri yang membuatnya jadi sulit. Itulah sebabnya Allah berfirman,

“… Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.…”

Sejumlah hadis menguatkan petikan ayat tadi. Di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim serta Imam Ahmad berikut ini.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sampaikanlah berita gembira kepada mereka dan janganlah menyampaikan sesuatu yang membuat mereka antipati. Mudahkanlah mereka janganlah engkau persulit, saling membantulah kalian dan janganlah banyak silang pendapat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Imam Ahmad ada tambahan, “Permudahlah jangan engkau persulit, bersikaplah simpati jangan bersikap antipati.”

Jadikanlah segala kemudahan yang diberikan Allah untuk semakin mendekat kepada-Nya dengan menyempurnakan shaum Ramadhan sebaik-baiknya. Agungkanlah dan sanjunglah selalu Sang Mahakuasa dengan pekik takbir yang membahana mengisi setiap sudut qalbu.

Allah berfirman menutup ayat tersebut:
“… Hendaklah kamu men­cukupkan bilangannya dan meng­­a­gungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar ka­mu bersyukur.”

Segala jerih payah yang ditempuh untuk menyempurnakan shaum Ramadhan dengan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan diharapakn menjadi batu loncatan menuju perubahan diri ke arah yang lebih baik menuju hamba-hamba-Nya yang bersyukur.

Wallahu a‘lam

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

3 Thoughts to “Ramadhan Bulan Perubahan (Bedah Q.S Al-Baqarah (2): 185)”

  1. risma

    Subhanllah, ramahdan memang penuh dengan keutamaan2.
    semoga kita bisa memanfaatkan semua itu agar derajat kita diangkat oleh Allah SWT.
    salam transparan.org

  2. أبوسّام

    جزاكم الله خير……

  3. sofian

    subhanalloh, semoga menambah motivasi untuk menjalankan ibadah di ramadhan 2017, amiin

Leave a Comment