Tata Cara Shalat Tarawih Sesuai Sunnah

shalat

PERCIKANIMAN.ID – Shalat Tarawih adalah shalat sunat yang dilakukan khusus hanya pada bulan Ramadhan. Hukum shalat ini adalah sunah muakad. Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama dari kata tarwihat yang berarti duduk atau santai. Alasan penamaan ini karena biasanya orang-orang beristirahat, yakni duduk-duduk, di antara setiap dua salam. Waktu pelaksanaan shalat sunat ini adalah selepas Isya, biasanya dilakukan secara berjamaah di masjid.

Dalam hidupnya, Rasulullah Saw. hanya pernah melakukan shalat Tarawih berjamaah pada tiga kali kesempatan. Alasannya, beliau takut jika pada akhirnya shalat ini menjadi wajib.

Aisyah r.a. pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah keluar rumah pada tengah malam. Beliau mengerjakan shalat di masjid sehingga beberapa orang ikut mengerjakan shalat bersama beliau. Pada pagi harinya, orang-orang membicarakan kejadian itu sehingga jumlah orang yang berkumpul menjadi lebih banyak. Selanjutnya, Rasulullah Saw. keluar menemui mereka pada malam kedua. Mereka pun ikut bergabung mengikuti shalat beliau. Keesokan harinya, orang-orang kembali membicarakan peristiwa itu.

Dengan demikian, orang yang datang ke masjid pada malam ketiga semakin banyak. Kemudian beliau keluar menuju masjid. Orang-orang pun bergabung mengikuti shalat beliau. Dan, pada malam keempat, masjid tidak mampu lagi menampung jamaah yang datang, tetapi Rasulullah tidak keluar menemui mereka.
Lalu beberapa orang dari mereka berkata, “Ayo kita shalat,” tetapi beliau tetap tidak keluar hingga akhirnya beliau keluar untuk mengerjakan shalat Subuh. Setelah selesai, beliau berkata, “Sebenarnya aku tidak mengkhawatirkan keadaan kalian, tetapi aku khawatir kalau sampai shalat itu diwajibkan kepada kalian dan kalian tidak mampu mengerjakannya.” Kejadian itu terjadi pada bulan Ramadhan. (Muttafaq ‘alaih)

Jadi, alasan Rasulullah tidak melanjutkan shalat Tarawih secara berjamaah karena kekhawatiran beliau jika shalat tersebut menjadi wajib bagi umat muslim. Shalat Tarawih berjamaah ini dilanjutkan saat Umar bin Khattab menjadi khalifah.

Dalam kitab Shalah al-Mu’min karya al-Qathani, dijelaskan mengapa Umar sampai memerintahkan umat muslim melakukan shalat Tarawih berjamaah. Abdullah bin Abdil Qariy r.a. bercerita bahwa pada suatu malam di bulan Ramadhan, dia pernah pergi bersama Umar menuju masjid. Ternyata, orang-orang tengah berkelompok-kelompok secara terpisah. Ada yang mengerjakan shalat sendirian, ada juga yang mengerjakan shalat, lalu sekelompok orang bermakmum kepadanya. Melihat itu, Umar r.a. berkata,

“Seandainya sekelompok orang itu aku kumpulkan menjadi satu untuk bermakmum kepada satu imam (yang paling baik bacaannya), tentu saja hal itu akan lebih baik.” Kemudian Umar bertekad mengumpulkan mereka untuk bermakmum pada Ubay bin Ka’ab.

Pada malam berikutnya, Abdurrahman keluar bersama Umar, orang-orang tengah melaksanakan shalat dengan satu imam yang baik bacaannya. Melihat itu, Umar berkata, “Bid’ah yang paling baik adalah ini. Orang yang tidur untuk bangun (shalat) di akhir malam itu lebih baik daripada orang-orang yang bangun, dan kebanyakan orang mengerjakan shalat pada awal (permulaan) malam.” (H.R. Bukhari)

Keterangan-keterangan tersebut mengawali rutinitas shalat Tarawih berjamaah. Masih dalam kitab yang sama, Al-Qathani mengatakan bahwa yang dimaksud bid’ah dalam perkataan Umar “Bid’ah yang paling baik adalah ini,” maksudnya adalah bid’ah yang ditinjau dari segi bahasa. Artinya, mereka melakukan hal tersebut tanpa ada contoh sebelumnya, yaitu mengerjakan shalat Tarawih satu bulan penuh secara berjamaah. Perbuatan tersebut belum pernah dilakukan sebelumnya, tetapi memiliki dasar syariat yang kuat, yaitu:

Rasulullah Saw. pernah menyuruh dan menganjurkan para sahabat melakukan shalat Tarawih (qiamu Ramadhan/qiamulail). Bahkan, beliau pernah melaksanakan shalat ini dengan para sahabat pada bulan Ramadhan lebih dari satu malam walaupun tidak satu bulan penuh. Kemudian beliau berhenti melakukannya karena khawatir hal tersebut menjadi wajib bagi mereka dan mereka tidak akan sanggup melakukannya.

Selain itu, Rasullullah Saw. pernah menyuruh umatnya untuk meneladani Khulafaur Rasyidin. Shalat Tarawih ini sudah menjadi sunah Khulafaur Rasyidin.

1. Jumlah rakaat shalat
Jumlah rakaat dan tata cara pelaksanaan shalat Tarawih sama dengan shalat Tahajud, yaitu 11 rakaat dengan formasi 4+4+3 atau 2+2+2+2+3. Hal tersebut berdasarkan pada banyak hadis sahih, antara lain sebagai berikut.

Aisyah r.a. berkata, “Pada bulan Ramadhan maupun bulan lainnya, Rasulullah Saw. tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas rakaat. Beliau mulai dengan empat rakaat dan jangan kautanyakan baik dan panjangnya shalat beliau. Kemudian beliau melaksanakan empat lagi, jangan kautanyakan tentang baik dan panjangnya. Setelah itu beliau mengerjakan tiga rakaat…” (Muttafaq ‘alaih)

Keterangan yang menyebutkan shalat dilakukan dua rakaat-dua rakaat adalah sebagai berikut.
Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah Saw. pernah melakukan shalat antara Isya dan Subuh sebanyak sebelas rakaat. Beliau salam pada setiap dua rakaat dan Witir satu rakaat.” (H.R. Bukhari)

2. Hal-hal bid’ah saat Ramadhan
Saat bulan Ramadhan, banyak ibadah tambahan yang dilakukan masyarakat. Tujuannya memang mulia, untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya di bulan yang penuh ampunan. Namun, ada hal-hal yang luput dari perhatian mereka karena ibadah-ibadah ini banyak yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Tidak ada satu keterangan sahih pun yang menjelaskan mengenai hal tersebut. Ibadah-ibadah itu di antaranya sebagai berikut.

Pertama, semakin cepat gerakan dalam shalat Tarawih sebagaimana cepatnya gerakan burung gagak (mematuk makanan), semakin baik. Bahkan, sebagian imam ada yang mampu melakukan shalat Tarawih 23 rakaat dalam waktu kurang dari 20 menit. Padahal, Rasulullah telah menyebutkan dalam banyak keterangan sahih bahwa melakukan shalat harus dengan khusyuk dan tumaninah.

Kedua, membatasi hanya membaca surat tertentu. Sebagian imam membaca surat Al-Fajr atau surat Al-A‘lā atau seperempat surat Ar-Raĥmān. Bahkan, ada pula imam yang hanya membaca surat Al-Burūj dalam satu kali Tarawih. Dia membaginya satu ayat pada setiap rakaat.

Ketiga, memisahkan antara dua rakaat dengan membaca surat Al-Ikhlāś, Al-Falaq, An-Nās, kemudian mengucapkan shalawat dan salam atas Rasulullah Saw.

Selain hal-hal yang telah disebutkan, pada bulan Ramadhan terdapat shalat tambahan yang banyak dilakukan masyarakat kita, yang akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian “Shalat Sunat yang Tidak Pernah Dicontohkan”, yaitu shalat khusus pada malam Qadar (shalat Lailatul Qadar); shalat Jumat Yatimah, yaitu shalat pada masjid-masjid khusus yang ditunjuk oleh imam, biasanya dilaksanakan di masjid-masjid tua bersejarah; dan melaksanakan shalat wajib 5 waktu setelah shalat Jumat Yatimah, tujuannya shalat-shalat itu dapat menghapus dosa maksiat ataupun menghapus dosa shalat-shalat yang pernah ditinggalkan. (Diambil dari buku “Melangkah ke Surga dengan Shalat Sunat” karya Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si.)

 
buku shalat sunat tarawih

(Visited 31 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment