Sebaiknya Kita Tahu, Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa Ramadhan

PERCIKANIMAN – – Sebelum memasuki bulan Ramadhan yang tinggal hitungan hari ini sebaiknya kita mengetahui apa saja yang dapat membatalkan puasa. Sebab di kalangan masyarakat masih ada beberapa mitos yang dianggap dapat membatalkan puasa, seperti: mandi di siang hari, menelan ludah, buang angin (kentut) di dalam air, marah dan sebagainya. Namun jika merujuk pada hukum syariat hal itu tidak sampai membatalkan puasa Ramadhan.

Seperti dihimpun dari berbagai sumber berikut ini hal-hal utama yang dapat membatalkan puasa. Untuk itu kita harus menghindarinya sehingga puasa kita utuh selama sebulan khususnya bagi kaum laki-laki:

  1. Makan dan Minum Dengan Sengaja.

Para ulama fikih sepakat bahwa melakukan aktivitas makan atau minum dengan sengaja meski hanya sedikit akan membatalkan puasa. Sebab puasa itu menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga terbenam matahari, sebagaimana yang dijelaskan Allah Swt dalam Al Quran:

…makan dan minumlah sampai waktu fajar tiba dengan dapat membedakan antara benang putih dan hitam… (QS. Al-Baqarah: 187)

Namun jika makan atau minum tersebut dilakukan tanpa kesengajaan atau lupa, maka tidak membatalkan puasa. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam haditsnya:

donasi perpustakaan masjid

Siapa yang lupa keadaannya sedang berpuasa, kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberikan makanan dan minuman itu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Al Muasir 1

  1. Melakukan Hubungan Seksual dengan Sengaja

Maksud hubungan seksual ini adalah baik dilakukan pasangan suami isteri atau bukan (zina) maka hal ini dapat menyebabkan batalnya puasa dengan ketentuan melakukannya dalam keadaan sadar dan sengaja. Suatu perbuatan dapat dikatakan hubungan seksual dengan batas minimal masuknya khasafah ke dalam farji (vagina), dan apabila kurang dari itu maka tidak dikatagorikan hubungan seksual dan tidak membatalkan puasa.

Bagi yang melanggar ketentuan atau larangan ini sesungguhnya untuk menebus dosanya tidak bisa hanya mengganti puasa di lain hari melainkan ada beberapa tahapan yang harus dikerjakan. Hal ini seperti yang dijelaskan Rasulullah Saw dalam hadits.

Dari Abu Hurairah r.a, menceritakan, seorang pria dating kepada Rasulullah s.a.w, ia berkata: “celaka aku wahai Rasulullah”, Nabi s.a.w, bertanya: “apa yang mencelakakanmu?”, pria itu menjawab: “aku telah bercampur dengan isteriku pada bulan Ramadhan”, Nabi s.a.w, menjawab: “mampukah kamu memerdekakan seorang budak?”, ia menjawab: “tidak”. Nabi s.a.w, betanya padanya: “mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?”, pria itu menjawab: “tidak mampu”. Rasulullah s.a.w, bertanya lagi: apakah kamu memiliki makanan untuk member makan enam puluh orang miskin?”, ia menjawab; “tidak”, kemudian pria itu duduk. Lalu Nabi diberi satu keranjang besar berisi kurma, dan Rasulullah s.a.w, berkata kepadanya : “bersedekahlah dengan kurma ini”. Pria itu bertanya: “Apakah ada orang yang lebih membutuhkan dari kami?, tidak ada keluarga yang lebih membutuhkan kurma ini selain dari keluarga kami”. Nabi s.a.w. tertawa, sehingga terliuat gigi taringnya, dan Beliau bersabda: “kembalilah ke rumahmu dan berikan kurma itu pada keluargamu”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hubungan suami istri ini menjadi haram dilakukan di siang hari pada bulan Ramadhan sementara pada malam harinya tidak dilarang.

  1. Muntah yang disengaja.

Muntah dengan disengaja misalnya memasukkan jari ketenggorokan sehingga keluar sisa makanan dari perut dapat membatalkan puasa. Namun apabila muntah tersebut tidak disengaja atau karena sakit atau melihat seseuatu yang menjijikan maka tidak membatalkan puasa. Hal ini seperti tertuang dalam hadits dari Abu Hurairah r.a, menuturkan, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda:

Barang siapa yang tidak sengaja muntah, maka ia tidak diwajibkan untuk mengganti puasanya, dan siapa yang sengaja muntah maka ia wajib mengganti puasanya”. (HR. At-Tirmidzi dan Ibn Majah)

  1. Keluar air mani sebab bersentuhan dengan sengaja.

Seorang suami atau laki-laki yang mengeluarkan air mani disebabkan bersentuhan (tanpa hubungan seksual) maka menyebabkan batalnya puasa, baik keluar dengan usaha tangan sendiri (mastur basi) atau menggunakan tangan seorang isteri yang halal. Dengan kata lain, apabila keluar air mani tanpa bersentuhan semisal bermimpi basah maka puasanya tidak batal.

Buku Sudah Benarkah Shalatku 1

  1. Haid atau nifas.

Haid, yaitu darah yang keluar dari kemaluan wanita yang sudah menginjak usia baligh (batas minimal 9 tahun atau lebih). Dengan waktu haid paling cepat selam 24 jam, ghalibnya (keumuman) keluar darah selama satu minggu,paling lama selama 15 hari, dan jarak antara kedua masa haid batas minimal 15 hari.Darah yang keluar dari kemaluan perempuan dengan cirri-ciri seperti di atas, apabila keluar di saat seorang perempuan sedang menjalankan ibadah puasa maka puasanya batal.

Semntara nifas adalah darah yang keluar dari kemaluannya  wanita setelah proses melahirkan dengan rentang waktu sampai dua bulan (ukuran maksimal) juga dapat menyebabkan batalnya puasa, apabila keluar di saat sedang berpuasa. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah Saw:

Kami (kaum perempuan) diperintahkan untuk mengganti puasa yang ditinggalkan, tetapi tidak diperintahkan untuk mengganti shalat yang ditinggalkan”. (HR.Muslim)

Seorang yang sedang mengerjakan ibadah puasa dan sebelum waktu berbuka ia menjadi gila atau hilang akal sehatnya maka puasanya menjadi batal. Beberapa ahli fikih menyatakan jika gilanya setelah malam hari atau setelah waktu berbuka maka puasanya disiang harinya masih sah. Namun jika gilanya berkelanjutan hingga masuk puasa hari berikutnya maka ia tidak wajib berpuasa.

  1. Murtad

Secara istilah murtad adalah keluarnya akidah keislaman seseorang. Sesuatu hal yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam semisal melakukan pengingkaran akan keberadaan Allah Swt sebagai dzat tunggal, disaat ia sedang melaksanakan ibadah puasa, maka puasanya batal. Demikian juga ketika ia berpindah keyakinan atau agama dari Islam ke agama lain dengan sadar maka ia menjadi murtad dan puasanya menjadi batal. Hal ini sebagaimana yang Allah Swt perintahkan bahwa puasa Ramadhan itu diwajibkan bagi orang-orang yang beriman dan orang yang murtad adalah orang yang tidak beriman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS.Al Baqarah: 183)

Demikian hal-hal yang dapat membatalkan puasa yang harus kita ketahui dan hindari. Namun begitu ada beberapa hal yang dapat membatal nilai atau pahala puasa yang juga harus kita hindari seperti marah, ghibah, mencuri dan perbuatan dosa lainnya. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita meraih derajat takwa. [ ]

 

Red: ahmad

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

REKOMENDASI

Leave a Comment