Bolehkah Menunda Qadha Shaum Ramadhan?

puasa sehat

Oleh: Sasa Esa Agustiana

 

Teh Sasa, mau tanya masalah hukum qadha shaum Ramadhan. Kalau qadha tahun lalu yang tidak sempat terbayar di tahun ini, katanya harus dibayar double, ya Teh?  Atau, di tahun ini digabung dengan qadha tahun yang lalu? Bila sedang haid, amalan apa yang bisa dilakukan, Teh?

 

Teteh yang dirahmati Allah Swt., wajib hukumnya melakukan qadha. Berdasarkan firman Allah Swt., “… wajib menggantinya pada hari-ha­ri yang lain sebanyak hari kamu tidak berpuasa” (Q.S. Al-Bagarah [2]: 184).

Sesungguhnya, Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan shalat; menunaikan zakat; beribadah haji; dan shaum Ramadhan” (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad).
Shaum Wajib Bagi yang Balig dan Berakal

Oleh karena itu, secara pasti shaum merupakan kewajiban setiap Muslim yang telah balig dan berakal. Dalam hal ini, anak-anak dan orang gila tidak wajib untuk berpuasa. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Saw., “Telah diangkat pena (taklif hukum) atas tiga orang: dari anak kecil hingga balig; dari orang yang tidur hingga dia bangun; dan dari orang gila hingga dia waras” (H.R. Abu Daud).

promo oktober

Wanita haid juga tidak boleh shaum, karena shaum bagi mereka tidak sah. Jika mereka telah suci dari haid maka mereka wajib meng-qadha’ shaum yang ditinggalkannya. Ketentuan ini didasarkan pada hadits penuturan Aisyah r.a., “Karena haid dan nifas (darah sehabis melahirkan), kami telah diperintahkan untuk meng-qadha’ shaum, tetapi kami tidak diperintahkan untuk meng-qadha’ shalat” (H.R. Muslim, Nasa’i, Abu Daud, Ibn Majah, dan Ahmad).

Qadha Shaum
Meng-qadha’ shaum sah dilakukan secara berturut-turut atau berselang-seling tanpa ada pengutamaan salah satu dari keduanya. Meng-qadha’ shaum Ramadhan juga sah dilakukan secara langsung setelah Hari Raya Idul Fitri (mulai tanggal 2 Syawal).  Demikian pula, qadha’ sah dilakukan meski diakhirkan hingga bulan Sya’ban beberapa saat sebelum datangnya Ramadhan berikutnya. Dalil atas masalah ini adalah keumuman ayat, “Jika di antaramu ada yang tidak berpuasa karena sakit atau dalam perjalanan, wajib menggantinya pada hari-ha­ri yang lain sebanyak hari kamu tidak berpuasa” (Q.S. Al Baqarah [2]: 184).

Ayat tersebut menetapkan qadha’ shaum secara mutlak tanpa batasan (taqyid) dan pengkhususan (takhsis). Hal ini menunjukkan adanya keluasan waktu meng-qadha’ shaum hingga sebelum datang Ramadhan berikutnya. Dalam hal ini para fuqaha telah bersepakat.

Dalil lainnya adalah dari Aisyah r.a., dia berkata, “Suatu ketika aku memiliki utang puasa Ramadhan dan aku tidak bisa mengqadha’ puasa Ramadhan, melainkan pada bulan Sya’ban karena kesibukan melayani Rasulullah Saw.” (Muttafaq `alaih)

Atau hadis, “Aku tidak mengqadha’ utang shaum Ramadhanku kecuali pada bulan Sya’ban hingga Rasulullah Saw. dimakamkan.” (H.R. Ibnu Khuzaimah, Tirmidzi, dan Ahmad)

Adapun bagi orang yang lalai mengqadha’ shaum hingga beberapa Ramadhan, maka kewajiban qadha’nya tetap berlaku. Dia tidak cukup hanya mengqadha’ Ramadhan yang terakhir saja. Alasannya, qadha shaum Ramadhan tidak gugur dengan lewatnya waktu lebih dari satu tahun. Dengan melalaikannya (mengakhirkannya) maka dia telah berdosa karena kelalaiannya itu. Akan tetapi, dia tetap terkena beban untuk mengqadha’ seluruh shaum yang pernah ditinggalkannya.

Wanita haid diharamkan shaum selama darah masih mengalir di masa haid.  Apabila haid keluar meski sesaat sebelum Maghrib, dia wajib membatalkan shaumnya dan mengganti pada waktu yang lain.  Apabila darahnya terhenti pada malam hari (sebelum terbit fajar), maka shaum pada hari itu wajib atasnya dan sah. Sebab, yang menjadi penentu adalah mengalir atau tidaknya darah. Sementara, mandi adalah perkara untuk persiapan shalat Subuh.

Namun, apabila qadha’ diakhirkan atau ditunda-tunda hingga datang bulan Ramadhan tahun berikutnya, maka dia berkewajiban untuk beristighfar dan meminta ampun kepada Allah serta harus bertobat dan mencela perbuatannya menunda-nunda qadha shaum. Tidak boleh menunda melaksanakan shaum qadha’ jika tidak ada uzur (halangan).

Amalan Lain bagi Wanita Haid
Meski tidak shaum, wanita yang sedang haid masih mempunyai kesempatan untuk meraih kemuliaan Ramadhan.  Mereka harus bisa mengoptimalkan berbagai amalan selama Ramadhan.  Untuk itu, mereka dianjurkan untuk lebih meningkatkan berbagai amalan, di antaranya berzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa memohon ampunan Allah Swt., bersedekah, memberi makan orang yang berbuka, meringankan pekerjaan orang yang shaum, menimba ilmu/bersilaturahmi untuk meraih ketaatan kepada Allah Swt., amar ma’ruf nahi mungkar, melaksanakan berbagai ketaatan, menjauhi kemaksiatan, karena setiap amal kebaikan di bulan Ramadhan dilipatgandakan pahalanya.

Oleh karena itu, selayaknya Muslimah yang sedang haid atau nifas tidak menghabiskan waktu dan energinya untuk sesuatu yang sia-sia. Sesungguhnya, bulan Ramadhan penuh dengan kemuliaan dan keberkahan. Tidak seharusnya mereka jauh atau kosong dari suasana keberkahan dan ampunan Ramadhan. Banyak hal yang bisa dilakukan. Jika hal itu mampu mereka optimalkan, sesungguhnya Allah Swt. Maha Memberi Karunia kepada hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh taat sehingga mencapai gelar takwa.

Bagaimana dengan wanita haid?
Tentunya, semangat mentadaburi Al-Qur’an ini juga layak dimiliki seorang Muslimah yang haid. Dia berhak mendapat keutamaan dan kemuliaan melalui Al-Qur’an. Namun, ada satu kendala bagi kaum hawa ini dengan ketetapan bolehkah mereka tetap membaca Al-Qur’an untuk mendapat keberkahan yang lebih, khususnya pada bulan Ramadhan?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun orang junub dan haid untuk membaca Al-Qur’an, maka di kalangan ulama terdapat tiga pendapat.

Mazhab Abu Hanifah, Mazhab Imam Syafi‘i, dan sebagian Mazhab Imam Ahmad membolehkan membaca Al-Qur’an pada saat haid.

Mazhab Imam Malik dan sebagian Mazhab Imam Ahmad yang lain melarang wanita junub atau sedang haid membaca Al-Qur’an. Walaupun untuk memelihara hafalannya.

Hadis yang berkaitan dengan wanita haid membaca Al-Qur’an hanya satu riwayat saja. Yaitu, hadis yang diriwayatkan dari Ismail bin ‘Ayyasy, dari Musa bin Uqbah, dari Nafi, dari Ibnu Umar, “Wanita haid dan orang junub tidak boleh membaca Al-Qur’an sama sekali” (H.R. Abu Daud dan lainnya).

Hadis ini merupakan hadis dhaif (lemah) berdasarkan kesepakatan ulama ahli hadis. Hadis yang diriwayatkan dari Ismail bin ‘Ayyasy oleh Hijaziyyin (orang-orang Hijaz) adalah hadis lemah, berbeda kalau yang meriwayatkan adalah Syamiyyin (orang-orang Syam). Tidak seorang pun perawi yang tsiqah (terpercaya) telah meriwayatkan hadis ini dari Nafi.

Bahwa sesuatu yang maklum para wanita sudah mengalami haid pada masa Rasulullah Saw. Namun, beliau tidak pernah melarang mereka membaca Al-Qur’an sebagaimana beliau tidak pernah melarang mereka dari berzikir dan berdoa. Bahkan, beliau memerintahkan para wanita haid agar keluar pada shalat Ied, lalu mereka bertakbir seperti takbirnya kaum Muslim yang lain.

Beliau juga memerintahkan wanita haid agar tetap melaksanakan ritual haji, kecuali Thawaf di Ka’bah. Wanita pun membaca kalimat talbiyah di Muzdalifah, Mina, dan tempat-tempat masyair lainnya dalam kondisi haid.

Adapun orang junub, Rasulullah Saw. tidak memerintahkannya agar menyaksikan shalat Ied, tidak pula shalat dan melaksanakan manasik haji. Karena, orang junub memungkinkan untuk bersuci jika tidak ada uzur baginya dalam meninggalkan taharah (bersuci). Hal ini berbeda dengan wanita haid karena hadas tetap ada pada dirinya yang tidak mungkin melakukan taharah dengan kondisinya itu. Karena itulah, para ulama menyebutkan bahwa orang haid tidak boleh berdiam di Arafah (untuk wukuf), Muzdalifah, dan Mina sampai mereka bersuci. Walaupun, suci tidak menjadi syarat dari semua itu. Akan tetapi, maksudnya pembuat syariat memerintahkan wanita haid untuk berzikir kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, baik dalam bentuk wajib atau sunnah. Berkaitan dengan membaca Al-Qur’an, maka Islam tidak melarang wanita haid dari membacanya. Wallahu a’lam

* Narasumber acara “Pintu Hikmah” di MGTRADIO 101,1 FM setiap Senin-Jumat, Pukul 05.00-06.00 WIB

(Visited 33 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment