Rahasia Ustadz Ja’far Sidiq Menghafal 30 Juz

alquran tilawah

PERCIKNIMAN.ID – Di kalangan umat Islam, banyak yang bertekad untuk hafal Al-Quran. Namun, dari jumlah tersebut tidak banyak yang kemudian istiqamah dalam menjalankannya. Satu dari yang tidak banyak tersebut adalah Ustadz Ja’far Sidiq yang juga merupakan salah satu pengasuh Ma’had Tahfizh Mandiri yang terletak di Panyawangan, Bandung.

Dalam sebuah wawancara dengan Majalah Percikan Iman beberapa waktu lampau, ustadz kelahiran Bandung, 15 Mei 1967 ini menceritakan seluk beluk penghafal Al-Quran. Berikut petikan wawancara  dengan beliau.

Bisa diceritakan tentang pengalaman Ustadz dalam menghafal Al-Quran?

Senang menghafal sejak dari SMP. Waktu mau berangkat ke sekolah, saya baca satu sampai tiga ayat. Waktu itu, ke sekolah saya selalu jalan kaki selama 30 menit. Waktu tersebut saya pakai untuk mengulang ayat yang telah saya baca saat mau berangkat. Alhamdulillah, keluar dari SMP ada bekal hafalan beberapa surah. Waktu itu, saya belum punya pembimbing, alias otodidak. Kalau di STM, kebanyakan saya belajar bahasa Arab.

Baru pada 2001, ketika masuk di Al-Imaraat, saya dibimbing oleh Ust. Ahmad Jumhur. Selain itu, saya juga setor hafalan ke Masjid Habiburrahman di PT DI dua pekan sekali. Pembimbingnya Ust. Abdul Aziz Abdurrauf Al-Hafizh sejak 2001. Baru hafal 30 juz sekitar 2007.

Kenapa bisa termotivasi untuk menghafal Al-Quran?

promooktober

Biasanya, kan, bagi seorang anak seusia itu malas untuk menghafal. Waktu SD, saya suka ke masjid dan melihat orang mengaji, tapi malu untuk masuk karena belum bisa mengaji. Waktu itu, ada seorang ustadz, Haryono namanya, berceramah dan memberi nasihat kepada anak-anak. Meski saya sendiri lupa apa nasihatnya, entah kenapa saya jadi termotivasi untuk mengaji. Dari sana, saya mulai belajar ngaji sendiri dan belum ada pembimbing khusus untuk tahfizh.

Sebenarnya, saya belum pantas dikatakan seorang hafizh, karena gelar itu layak disandang bagi orang yang sudah kuat hafalannya. Kalau saya sendiri lebih tepat dianggap seperti bayi yang baru belajar merangkak. Sekarang pun sedang belajar “merangkak” untuk menjadi hafizh, sampai suatu saat saya berharap Allah bisa memberi rezeki untuk bisa dewasa bersama Al-Quran.

Motivasi lainnya, dulu ada beberapa surah atau juz yang cukup berat untuk dihafal. Saya sempat mencoba untuk istirahat menghafal, tapi saya punya motto “Yang penting saya menghafal”. Urusan berapa banyak saya menghafal, kuat atau tidak saya menghafal, itu bukan urusan saya lagi.

Yang penting, sepanjang hidup saya harus menghafal walaupun kondisinya masih tertatih. Sehingga, tidak ada perasaan stres dan berat ketika menghafal. Mengenai hasil akhir–hafal atau tidaknya–kita serahkan rezekinya kepada Allah Swt. Ya, sambil tentunya terus memohon diberi rezeki hafalan. Itulah yang berjalan sampai sekarang bersama teman-teman satu komunitas.

Menurut Ustadz, Al-Quran sebagai mukjizat itu seperti apa?

Kalamullah yang luar biasa yang tidak bisa dikalahkan. Banyak mukjizatnya, dari segi bahasa, luar biasa. Dan, dari segi jumlah penghafalnya, Al-Quran itu satu-satunya kitab yang paling banyak dihafal. Banyak penemuan ilmiah yang tidak diketahui sebelumnya, Al-Quran sudah menjelaskannya lebih awal.
Dari perjalanan yang saya rasakan, ada satu hal yang sering terlupakan ketika bersama Al-Quran, yaitu merenungkan ayat-ayat-Nya.

Ketika kita membaca Al-Quran, sebenarnya kita sedang membaca mukjizat yang luar biasa. Tetapi, sering kali orang menganggap itu biasa-biasa saja. Kenapa? Ternyata, yang lebih banyak, orang menggunakan lidahnya saja ketika membaca Al-Quran. Hatinya tidak hadir dalam memahami ayat-ayat Al-Quran.

Allah berfirman dalam surah Az-Zumar (39) 23, “…Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah…” Seharusnya, ketika kita mendengar ungkapan Al-Quran ini, hati kita takjub. Tapi, kebanyakan kita malah merasa biasa-biasa saja karena memang kita tidak merenungkannya dengan hati.

Dalam surah Qaaf (5) 37, “Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” Yang dimaksud peringatan di sini adalah bagi orang yang “memiliki hati”. Dijelaskan di sini bagaimana dia mampu mendengarkan Al-Quran sebaik-baiknya. Dia seperti menyaksikan sendiri gambaran yang dijelaskan dalam Al-Quran yang sering kali ketika kita membacanya tidak tergambar yang kita baca.

Ketika membaca ayat tentang neraka tidak tergambar nerakanya. Demikian pula ketika Al-Quran menggambarkan surga, kita tidak bisa melihat gambar keindahan surga. Ketika membaca tentang azab terhadap umat terdahulu, kita tidak tergambar pedihnya siksa itu. Padahal, para sahabat sampai menangis ketika membacanya, bahkan sampai ada yang pingsan karena dahsyatnya visualisasi yang tergambar dalam benak mereka. Itulah mukjizat Al-Quran.

Bagaimana Al-Quran seharusnya menjadi pandangan hidup seorang muslim?

Al-Quran akan menjadi pandangan hidup kaum muslim jika mereka mendekatkan diri dengan Al-Quran. Ketika Al-Quran ini masih jauh, apakah dari segi tilawahnya atau memhaminya, maka Al-Quran akan menjadi sesuatu yang aneh. Kaum muslim menjadi merasa aneh terhadap Al Quran. Ini pernah terjadi di kalangan kaum Yahudi. Mereka merasa aneh terhadap kitabnya sendiri.

Hal inilah yang menjadi peer kita, bagaimana mendekatkan kaum muslim dengan kitab sucinya sehingga Al-Quran akan menjadi minhajul hayah atau pandangan hidup.

Ketika membaca Al-Quran, sebenarnya kita dihadapakan pada ayat-ayat kauniyah. Al Quran menjelaskan segala hal berkaitan dengan kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara, juga tentang dunia dan akhirat. Maka, ketika umat menyadari hal itu, maka Al-Quran akan mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya.

Praktiknya, untuk lebih mendekatkan diri dengan Al-Quran, misalnya sehari kita harus bisa membaca satu juz. Kalau tidak tahu bahasa Arab, minimal kita buka terjemahnya. Kemudian, upayakan semaksmial mungkin untuk melaksanakan yang Allah perintahkan dalam Al-Quran.

Lantas, bagaimana cara agar kita bisa “membumikan” Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari?

Kita harus meyakini bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran sebagai hidayah dan pembeda antara yang hak dan batil. Rasulullah juga mencontohkan bagaimana beliau lebih intens tadarus dari bulan-bulan biasanya. Ulama terdahulu pun mencontohkan demikian. Sebenarnya, cukup dengan itu.
Ketika kita ingin menjadi orang yang dimuliakan, diangkat derajatnya, serta dikaruniai pahala yang besar di bulan Ramdhan, tanamkan sebuah pertanyaan dalam jiwa, “Kenapa saya harus membaca Al-Quran?” Menjawab pertanyaan itu, bisa dengan jawaban agar usia lebih berkah lagi atau agar mendapat syafaat. Ketika jawaban tersebut dapat dijadikan alasan, maka itu akan menjadi pemacu bagi kita untuk berinteraksi secara lebih intens lagi dengan Al-Quran.

Ada jamaah Masjid Habiburrahmaan PT DI yang usianya sekitar 60 tahun yang setiap harinya dari ba’da Ashar sampai waktu Isya menghabiskan waktu untuk terus menghafal Al-Quran. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab, “Agar ingin meninggal dalam keadaan menghafal Al-Quran.” Kemudian, beliau meninggal dalam kondisi berinteraksi dengan Al-Quran. Cukup satu alasan saja dan itu akan menjadi motivasi yang luar biasa. [Ilyas]

REKOMENDASI

Leave a Comment